Wednesday, March 26, 2025

TERSESAT DALAM DIRI


Efesus 4:14-15 (TB) "..sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala."

Sebagai guru piano bagi pemula, saya menyadari suatu hambatan siswa dalam menguasai sebuah lagu. Benar, kurangnya rutinitas latihan merupakan penyebab, namun kenapa? Minimnya hal2 tsb memperlambat pembentukan dua hal, yakni "memori otot" dan skill baca notasi. Mengapa keduanya penting? Memori otot memungkinkan mereka "merasakan" posisi jari dan tuts yang benar tanpa perlu (sering) melihat ke bawah (tangan). Dan karena notasi adalah aksara dan bahasa musikal, lancar membaca notasi berarti sudah sebagian dalam lancar bermain.

Tanpa keduanya kita cenderung melihat ke bawah saat bermain lalu membaca notasi, setiap mereka melakukan yang satu, yang lainnya akan dikorbankan, makin mencoba meraih kendali, makin hilang kendali. Saya menamai fenomena ini "tersesat dalam diri", karena problem ini diawali dari egosentrisme yang ingin nyaman (tidak mau latihan ekstra) dan menganggap diri lebih mampu (padahal tidak).

Merenungkan hal ini saya sadar bhw ketika Efesus 4:14 dibahas, biasanya umat, bahkan rohaniwan pula tergesa menimpali, "Oh, supaya tidak terombang-ambing dan sesat, kita perlu membaca Alkitab lebih sering, lebih serius, atau berdoa lebih banyak, atau worship lebih banyak".

Setidaknya ada beberapa problem di sini:

1. Biblika. Kita hidup dalam konteks berbeda dengan Alkitab. Membaca lebih banyak tanpa pelatihan hanya akan memaksakan proyeksi pikiran sendiri kepada teks Alkitab.

2. Teologi. Alkitab berisi "perdebatan" tentang Allah. Tanpa studi yang akuntabel, kita akan entah kebingungan atau mencoba membela konsep tertentu dengan meredam narasi lainnya.

3. Spiritualitas. Saya menyukai konsep Quadrilateral (empat sisi) dalam Metodisme. Komponen pewahyuan dalam komunitas dan tradisi Kudus menghindarkan kita dari mendalami dan "mendengarkan" Sabda secara delusional.

Dan terkait poin 3, saya pikir parameter di atas menjawab langsung terhadap isu ketersesatan dalam diri, terutama dalam bentuk delusi mendengarkan "suara Allah" dalam kasus yang ekstrem (acap kali terkait masalah kesehatan mental). Komplikasi dalam bentuk penghayatan iman yang menutup diri dari masukan dunia luar adalah suatu hal yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Sebagai contoh, pada tahun 2014, Deanna Laney, seorang Ibu asal Texas, Amerika Serikat, didakwa dengan tuduhan pembunuhan dua orang puteranya, dan 2001, Andrea Yates didakwa setelah menenggelamkan lima orang anaknya, kedua wanita ini mengaku melakukan semua itu setelah mendengarkan perintah Tuhan untuk menguji iman mereka (rujukan sumber dapat diakses di bawah).

Ilustrasi dan contoh kejadian di atas kiranya menjelaskan betapa beresikonya berteologi atau menafsirkan "apa kata Alkitab" atau "pesan Allah" sementara kita membatasi akses dunia luar dalam mengkoreksi dan menyehatkan spiritualitas kita. Entah dinilai sebagai psikosis, halusinasi, atau bahkan kekuatan super sekalipun, saya pikir adalah berdasar bagi orang-orang di sekitar kita dalam dunia yang "sekuler" ini untuk gugup ketika mendengarkan pengakuan bahwa kita "mendengarkan" pesan ilahi. Dan adalah wajar untuk menjadi konsesus yang patut dihormati bersama bahwa terlepas dari klaim iman kita, kita perlu menjamin bahwa kita tidak "membahayakan" siapapun dengan keimanan tersebut.

Jadi, mungkinkah yang dibutuhkan kerohanian kita adalah studi dan komunitas yang baik ketimbang mengunci diri "bersama Allah" lantas tersesat dalam diri sendiri?


Berkah Dalem,

FZ 趙健忠 ☦🕯✍📚🙏

#16of30 #30harimenulis


Catatan :

https://en.wikipedia.org/wiki/Deanna_Laney_murders

https://www.goupstate.com/story/news/2004/04/04/mother-who-stoned-two-sons-to-death-acquitted-of-charges/29712906007/

https://www.nbcnews.com/id/wbna4660600

https://edition.cnn.com/2007/US/law/12/11/court.archive.yates8/index.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Andrea_Yates

https://briefspro.com/casebrief/yates-v-state/

============================================================


Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana jika kasih dan keberpihakan Yesus yang "ekstrem" menyinggung kekristenan kita? Apa Yesus harus mengikuti sesi terapi?

Ternyata #kaburajadulu juga relevan dengan kisah sejarah iman.

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

2 comments:

  1. Betul, ini seumpama orang yg tinggi hati/ sombong , yg berpikir bahwa dirinya lah yg paling benar. Sementara di luar sana, byk sekali perkembangan. Sama halnya dalam belajar sesuatu. Seseorang yg sudah tidak mau belajar/ mengembangkan diri, walaupun dia seorang guru, itu akan menjadi stuck. Kita harus mau membuka jendela hati, legowo, dan bersedia menerima firman Allah yg menembus jiwa . Terima kasih atas sharing nya Mr Felix . Semoga maju terus Blog nya Dan segala usahanya . GBU

    ReplyDelete
  2. Tks response nya, Bu Ella. Setuju. Dan mgkn jika bs menambahkan, perlu kehati2an dlm memilih tempat dan cara belajar, dan dlm mencari tsb ada baiknya memiliki fleksibilitas dan sikap "legowo" tsb utk menyadari bhw kita tdk lepas dari asumsi2 yg terbentuk dari masa lalu, lingkungan dll lantas perlu waspada agar tdk menjadikan asumsi atau prasangka tsb sbg acuan mutlak yg akibatnya kita bs saja jd salah (metode) belajar atau salah tempat belajar. GBu2

    ReplyDelete