'Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: ”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. '
Markus 8:31-34
DR. Russell Moore, pemimpin media Christianity Today menyatakan bahwa kekristenan di Amerika Serikat sedang mengalami krisis. Moore membagikan temuan di banyak tempat dari banyak rekanan gembala Gereja bahwa setelah mereka mengutip “Sabda Bahagia” atau ajaran Kristus terkait membalas kejahatan dengan kebaikan, ada saja mereka yang kemudian menanyakan, “darimana Anda memperoleh poin pemikiran ‘liberal’ semacam itu’?” Dan yang mengejutkan adalah setelah dijelaskan bahwa itu adalah ajaran Yesus sendiri, alih-alih meminta maaf, orang-orang ini akan bersikeras mengatakan hal seperti, “Itu lemah.” atau “Itu tak berlaku lagi sekarang”. (lebih lengkap, baca di sini)
Fakta menarik ketika saya mulai mempelajari Injil Markus
secara kritik-tekstual yakni:
1. Markus diyakini sebagai teks Injil tertua dari ketiga
lainnya.
2. Markus menekankan mengenai mesias yang menderita. Memberi
dorongan ketabahan jemaat mula-mula yang amat teraniaya.
Dalam nats di atas, Yesus dipotret sedang galak-galaknya,
dan sebagai orang timur yang bertendensi kepo, saya terprovokasi merenungkan
sebab kemarahan Yesus dan apa yang mungkin disasar-Nya dari teguran tersebut.
Jika memperhatikan beberapa ayat sebelumnya, Petrus menegur Yesus saat Dia
memberitakan penderitaan dan kematian-Nya (dan juga kebangkitan-Nya) yang akan
datang, dan Yesus membalas Petrus dengan memanggilnya "Iblis" 🤣!
(bdk. Markus 8:33)
Lupakanlah sejenak bagaimana kita dibesarkan dengan kisah
Jumat Agung dan Paskah. Jika kita seorang Yahudi yang hidup di abad pertama
Masehi (dimana apa yang dikisahkan dalam Injil pun belum terjadi), sangat
mungkin kita tahu ajaran
Judaisme tentang kebangkitan di akhir jaman, namun mendengar dari Yesus
bahwa kita akan menyaksikannya, dan kita diminta percaya, ini akan sama
risihnya (namun normal kala itu bagi mereka) layaknya saat Marta mengatakan
yang hal sama mengenai Lazarus, saudaranya yang kala itu baru saja wafat (bdk. Yoh 11:23-26).
Bayangkan betapa berbedanya reaksi Petrus dan Marta seandainya mereka berfokus
pada janji kebangkitan ketimbang pada berita dan fakta kematian.
Itulah masalahnya dengan iman. Kebanyakan kita akan melalui
fase "kemunafikan" sebelum iman itu dimurnikan. Kita akan mengklaim
percaya A namun nyatanya berbuat B karena jauh di lubuk hati dan bawah sadar
kita sejatinya meragukan A. Padahal jika Petrus menerima utuh berita sengsara
Yesus, harapannya akan teguh utk kebangkitan (kapan pun itu akan terjadi),
imannya pun akan mulai tumbuh dan bukan pura-pura di ada-adakan seperti Marta.
Ini pun menjadi pengingat bagi kita bahwa sekadar pengetahuan akan data, iterasi
akan hafalan doktrin, itu semua tidak (akan pernah) setara dengan iman. Iman
akan menempatkan kita dalam dilema persimpangan dan kegentingan, lantas ia akan
meminta dan menantang sebuah tanggapan.
Lantas bagaimana dengan Gereja hari ini yang terobsesi
"berkat" jasmani hingga pada tahap dimana mereka yang mengalami kesulitan,
kegagalan, musibah atau penyakit dinilai sebagai orang yang memiliki “cacat” moral
atau hubungan yang “belum dibereskan” dengan Tuhan? Bagaimana pula dengan
mereka yang membajak Sabda Yesus guna mengkafir-kafirkan atau melakukan demonizing
terhadap mereka yang berbeda dan marginal, yang sadar maupun tidak menjadi
bagian dalam manipulasi kesalehan ke arah politik identitas?
'Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta
sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ”Rabi, siapakah yang
berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan
buta?” Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena
pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. '
Yohanes 9:1-3
Ketika Markus 8 atau Yohanes 9 diberitakan di tempat-tempat
lagu dan pujian di kumandangkan bagi “Yesus yang luar biasa” itu, akankah Yesus
yang sejati namun "lemah" dan tidak “mengkriminalisasi” para
penderita itu malah akan ditolak bagaikan “habis manis sepah dibuang”?
Jika "Sabda Bahagia" (Mat 5:1-12) dibacakan di tempat dimana Yesus diidentikkan dengan “Allah perkasa yang akan menghancurkan musuh-musuh-Nya”, adakah kita mencemooh Sabda Yesus sendiri sebagai "lemah" atau "liberal"?
Akankah Yesus memanggil saya "Iblis" karena mengijinkan
ketakutan saya akan kematian dan ketidakpercayaan saya akan kebangkitan menjelma
menjadi berhala “kekuatan dan kemakmuran” dan bahwa saya telah sujud menyebah berhala
itu sambil memanggilnya “Yesus”? Akankah Kristus menghardik sikap pengecut dan munafik
kita di depan umum sambil mengajar ulang orang banyak tentang bagaimana
seharusnya mengenali dan mengikuti Dia?
Berkah Dalem
FZ 赵健忠 ☦💕🙏🌈
#10of30 #30harimenulis
Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...
Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?
Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..
No comments:
Post a Comment