Tuesday, March 11, 2025

ANTARA KEMUNAFIKAN DAN IMAN



'Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. 

Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. 

Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: ”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” 

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. '

Markus 8:31-34


DR. Russell Moore, pemimpin media Christianity Today menyatakan bahwa kekristenan di Amerika Serikat sedang mengalami krisis. Moore membagikan temuan di banyak tempat dari banyak rekanan gembala Gereja bahwa setelah mereka mengutip “Sabda Bahagia” atau ajaran Kristus terkait membalas kejahatan dengan kebaikan, ada saja mereka yang kemudian menanyakan, “darimana Anda memperoleh poin pemikiran ‘liberal’ semacam itu’?” Dan yang mengejutkan adalah setelah dijelaskan bahwa itu adalah ajaran Yesus sendiri, alih-alih meminta maaf, orang-orang ini akan bersikeras mengatakan hal seperti, “Itu lemah.” atau “Itu tak berlaku lagi sekarang”. (lebih lengkap, baca di sini

Fakta menarik ketika saya mulai mempelajari Injil Markus secara kritik-tekstual yakni:

1. Markus diyakini sebagai teks Injil tertua dari ketiga lainnya.

2. Markus menekankan mengenai mesias yang menderita. Memberi dorongan ketabahan jemaat mula-mula yang amat teraniaya.


Dalam nats di atas, Yesus dipotret sedang galak-galaknya, dan sebagai orang timur yang bertendensi kepo, saya terprovokasi merenungkan sebab kemarahan Yesus dan apa yang mungkin disasar-Nya dari teguran tersebut. Jika memperhatikan beberapa ayat sebelumnya, Petrus menegur Yesus saat Dia memberitakan penderitaan dan kematian-Nya (dan juga kebangkitan-Nya) yang akan datang, dan Yesus membalas Petrus dengan memanggilnya "Iblis" 🤣! (bdk. Markus 8:33)

Lupakanlah sejenak bagaimana kita dibesarkan dengan kisah Jumat Agung dan Paskah. Jika kita seorang Yahudi yang hidup di abad pertama Masehi (dimana apa yang dikisahkan dalam Injil pun belum terjadi), sangat mungkin kita tahu ajaran Judaisme tentang kebangkitan di akhir jaman, namun mendengar dari Yesus bahwa kita akan menyaksikannya, dan kita diminta percaya, ini akan sama risihnya (namun normal kala itu bagi mereka) layaknya saat Marta mengatakan yang hal sama mengenai Lazarus, saudaranya yang kala itu baru saja wafat (bdk. Yoh 11:23-26). Bayangkan betapa berbedanya reaksi Petrus dan Marta seandainya mereka berfokus pada janji kebangkitan ketimbang pada berita dan fakta kematian.

Itulah masalahnya dengan iman. Kebanyakan kita akan melalui fase "kemunafikan" sebelum iman itu dimurnikan. Kita akan mengklaim percaya A namun nyatanya berbuat B karena jauh di lubuk hati dan bawah sadar kita sejatinya meragukan A. Padahal jika Petrus menerima utuh berita sengsara Yesus, harapannya akan teguh utk kebangkitan (kapan pun itu akan terjadi), imannya pun akan mulai tumbuh dan bukan pura-pura di ada-adakan seperti Marta. Ini pun menjadi pengingat bagi kita bahwa sekadar pengetahuan akan data, iterasi akan hafalan doktrin, itu semua tidak (akan pernah) setara dengan iman. Iman akan menempatkan kita dalam dilema persimpangan dan kegentingan, lantas ia akan meminta dan menantang sebuah tanggapan.

Lantas bagaimana dengan Gereja hari ini yang terobsesi "berkat" jasmani hingga pada tahap dimana mereka yang mengalami kesulitan, kegagalan, musibah atau penyakit dinilai sebagai orang yang memiliki “cacat” moral atau hubungan yang “belum dibereskan” dengan Tuhan? Bagaimana pula dengan mereka yang membajak Sabda Yesus guna mengkafir-kafirkan atau melakukan demonizing terhadap mereka yang berbeda dan marginal, yang sadar maupun tidak menjadi bagian dalam manipulasi kesalehan ke arah politik identitas?

 

'Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. '

Yohanes 9:1-3

 

Ketika Markus 8 atau Yohanes 9 diberitakan di tempat-tempat lagu dan pujian di kumandangkan bagi “Yesus yang luar biasa” itu, akankah Yesus yang sejati namun "lemah" dan tidak “mengkriminalisasi” para penderita itu malah akan ditolak bagaikan “habis manis sepah dibuang”?

Jika "Sabda Bahagia" (Mat 5:1-12) dibacakan di tempat dimana Yesus diidentikkan dengan “Allah perkasa yang akan menghancurkan musuh-musuh-Nya”, adakah kita mencemooh Sabda Yesus sendiri sebagai "lemah" atau "liberal"?

Akankah Yesus memanggil saya "Iblis" karena mengijinkan ketakutan saya akan kematian dan ketidakpercayaan saya akan kebangkitan menjelma menjadi berhala “kekuatan dan kemakmuran” dan bahwa saya telah sujud menyebah berhala itu sambil memanggilnya “Yesus”? Akankah Kristus menghardik sikap pengecut dan munafik kita di depan umum sambil mengajar ulang orang banyak tentang bagaimana seharusnya mengenali dan mengikuti Dia?

 

Berkah Dalem

FZ 赵健忠 ☦💕🙏🌈

#10of30 #30harimenulis



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

No comments:

Post a Comment