Thursday, March 6, 2025

STUNTING (KERDIL) ROHANI



Ibrani 5:12,14 (TB)  Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.

Makanan berpengaruh langsung kepada tubuh kita. Saya banyak belajar tentang obat-obatan dari mertua karena pengalaman mereka berinteraksi dengan pihak-pihak di bidang farmasi. Imajinasi mata kuliah kimia yang saya peroleh sekitar 25 tahun silam juga membantu saya menalar pengaruh olah raga, jenis makanan2 & nutrisi terhadap metabolisme & kesehatan. Di sisi lain ada pula kerabat yang tergantung pada dokter begitu obat bebas tidak lagi mempan. Ada pula yang tergantung pada orang lain meski hanya sakit ringan.

Layaknya perihal nutrisi atau farmasi, ternyata kadar ilmu dan pengalaman akan berpengaruh dalam menciptakan hidup yang mudah, menarik, bermanfaat, atau justru sebaliknya. Dan pertanyaan yang menyusulnya adalah,

“Bagaimana dengan wawasan kita akan kitab suci atau kefasihan berteologi?”

Apakah kita menyerahkan “PR spiritual” kita kepada para rohaniwan & gembala kita sementara kita memilih duduk manis menunggu jawaban yang "mudah dicerna", bahkan harus sesederhana "boleh/dosa/tidak" layaknya susu atau bubur rohani?

St. Paulus mengatakan bahwa kepada jemaat Korintus yang terkenal penuh karunia rohani pun, ia harus berbicara layaknya dengan anak-anak (bdk. 1 Kor 3:1-3), dimana tolok ukurnya (ay.3) adalah adanya perselisihan dan persaingan, seolah kubu Paulus lebih benar dari Apolos atau sebaliknya. Sikap seperti ini dapat pula lahir dari spiritualitas instan yang malas. Polarisasi semacam ini hanya dimungkinkan oleh dua skenario, pemimpin yang memanipulasi, atau pengikut yang menolak menjadi pandai. Berlatar belakang seorang Farisi, Paulus menegaskan pentingnya terlibat dalam "diskursus" (wacana, interogasi, diskusi) akan kitab suci dengan seksama, karena meski para ahli meyakini Paulus sebagai seorang Yahudi “apokaliptik”, pun Paulus berpendapat bahwa sebagai manusia yang utuh antara tubuh, roh dan jiwa, menjadi terlalu “mistik” atau "nge-roh" saja tidak cukup untuk pendewasaan rohani kita!

Dalam Mazmur 119:99-101, Raja Daud yang merenungkan kitab suci (Taurat) dikatakan “lebih bijak daripada orang-orang tua dan semua pengajarnya”, dan bahwa berpegang pada Firman Tuhan dan menjauhi kejahatan adalah dua kesatuan yang saling mempengaruhi secara timbal balik. 

Tiga nats berbeda tadi rasanya cukup untuk menjawab jika ada pertanyaan “Apakah jemaat awam perlu yang namanya literasi teologis?”. Terlalu besar pertaruhannya untuk meneruskan hidup bergereja dan perjalanan spiritual (bahkan pula aspek lainnya seperti bermasyarakat, berbisnis dan lain sebagainya yang seolah "non-spiritual") tanpa hasrat dan upaya kita dalam menjadi – setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga - “gembala dan guru”* yang fasih dalam memahami dan berelasi dengan kitab suci, entah itu secara kontemplatif, mistik, dan yang tak kalah penting, kognitif.  

Tanpa literasi biblika (kitab suci), maka kejahatan dan penyelewengan akan merajalela sekalipun kita pribadi mengaku Kristen atau sekalipun komunitas kita mengklaim diri sebagai Gereja. Perselisihan akan membutakan kita semua akan kehendak Allah yang sejati bagi umat manusia karena masing-masing memiliki keyakinan buta tanpa akuntabilitas dan terputus dari relasi dengan iman Gereja universal dari jaman ke jaman. Semoga kita tidak terbilang sebagai mereka yang stunting (kerdil) apalagi ompong rohani, yang mestinya sudah dalam fase kehidupan yang sedia memimpin dan/atau mengajar, namun kita masih berteologi seperti (atau lebih simple dan naif dibandingkan) anak sekolah minggu.

 

Berkah Dalem,

FZ - 趙健忠

#8of30 #30harimenulis

 

Kata yang diterjemahkan dari frasa “ποιμένας καὶ διδασκάλους” (poimenas kai didaskalous = gembala dan pengajar) dari Efesus 4:11. Dalam hal ini, kata “kai” mensyaratkan bahwa keduanya tak dapat dipisahkan, seorang pemimpin haruslah seorang pengajar dan pengajar manakah yang lebih baik daripada mereka yang sebelumnya juga adalah para pelajar yang baik dan setia?



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

No comments:

Post a Comment