Monday, March 17, 2025

IGNORANCE IS A BLISS?

Apakah Ketidaktahuan Lebih Mendatangkan Kedamaian?




Yoh 8:31-32 (TB) Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."

Dalam suatu kesempatan saya menerima orang tua calon siswa musik yang ingin anak mereka mahir bermain musik hanya dalam 3 bulan. Namun yang membuat saya geleng kepala adalah syaratnya: mereka tak bersedia memakai metode & kurikulum baku. Perlu dicatat bahwa sang anak sama sekali belum menguasai baik dasar musikalitas maupun instrumen secara motorik. Kira-kira jika Anda gurunya, apakah bersedia mengajar? ☺️

Di semesta lain, jemaat & gembala sebuah Gereja sedang antusias, beberapa dari mereka hendak melanjutkan pendidikan di suatu "sekolah Alkitab". Sebenarnya para jemaat tak terlalu paham apa yang sebenarnya dipelajari di sana (atau apa "gunanya" bagi Gereja), namun sampai di titik ini mereka masih menunjukkan antusiasme dan memberikan dukungan

Tak lama berselang, muncul banyak keluhan karena para "seminaris" ini mulai "berulah" karen membagikan hal-hal yang terdengar "aneh" dalam berbagai kesempatan pendalaman Alkitab maupun dalam ibadah raya. Sebagian jemaat tak paham apa yang kemudian terjadi. Yang pasti, tak lama setelah digelarnya "rapat khusus", selepas desingan dan lontaran sebutan "sesat", "liberal", "angkuh", dan sebagainya, para pengajar ini tak pernah nampak lagi.

Apa benang merah dari kedua kisah tadi? Menurut saya baik orang tua calon siswa maupun petinggi dan jemaat tadi sama-sama memiliki:
1. Presuposisi/asumsi tentang proses dan hasil
2. Blindspot, ketidakmampuan melihat realita yang melampaui asumsi yang telah mereka miliki sebelumnya (asumsi ini juga termasuk presumsi/prasangka).
3. Resistensi atau penolakan yang terjadi karena timbulnya konflik antara presuposisi dengan realita.

Orang tua tadi punya asumsi tersendiri tentang "bisa main musik", namun realita berkata bahwa sang anak akan mengalami pelatihan intens dan penuh disiplin karena ia akan belajar musik sebagai "bahasa kedua", barulah melatih koordinasi motorik & kognitif interpretatifnya untuk mewujudkan kehidupan bermusiknya yang holistik.

Jemaat dan gembala tadi berasumsi bahwa para seminaris tadi hanya disekolahkan agar semakin cakap "kerja bagi visi gereja" dan pandai berargumen membela iman sebagaimana dirumuskan Gereja tersebut (yang notabene diyakini hampir seluruh jemaatnya sebagai ajaran Kristiani yang paling benar dan sesuai secara historis). 

Realitanya, seminari, sekolah teologi dan/atau filsafat membuka "kotak pandora" seperti :
  • Kontroversi sejarah, bahwa gereja (bahkan sebelum reformasi Protestan) telah mengalami metamorfosa dalam meyakini sesuatu dan merumuskannya, misalnya mengenai doktrin mariologi, "dosa asal", pandangan tentang kisah Kejadian 3 sebagai "kejatuhan umat manusia" (yang mana tidak pernah dinyatakan secara literal dalam Perjanjian Lama, maupun dalam teologi agama Yahudi dimana teks-teks ini dihasilkan), atau bagaimana Gereja meyakini eksistensi Allah Tritunggal (padahal tak satupun disebutkan secara eksplisit baik dalam PL maupun PB), atau bagaimana Gereja mendefinisikan ketuhanan Yesus sekaligus keutuhan kemanusiaan-Nya (kesatuan hipostatik), atau tentang mengapa Katolik Roma dan Ortodoks Timur berbeda fahan bahkan berselisih tajam tentang filioque (apakah Yesus "berasal" dari Bapa saja, atau dari Bapa dan Roh Kudus), apa implikasinya, dan masih banyak lagi kisah yang membentuk apa yg kita sebut hari ini sebagai "ajaran iman".
  • Polemik tafsir, bahwa jika tidak bijak untuk menafsir teks Alkitab seturut pemahaman dan merefleksikannya dalam pengalaman kita sendiri, maka apakah eksegesis (menafsir dengan 100% berdasarkan konteks jaman penulisan tersebut) dimungkinkan? Masihkan akan ada hubungannya dengan kehidupan kita hari ini? Dan jika direlasikan dengan hari ini tidakkan eksegesis akan terkompromi? Maka jangankan khotbah eksposisi, perlu ditanyakan dahulu adakah yang namanya eksegesis & ajaran yang murni? Apakah ukurannya? 
  • Dialog antara dogma versus data. Eksodus besar-besaran Israel dari perbudakan Mesir, runtuhnya tembok raksasa Yerikho, matahari yang berhenti berjam-jam di angkasa saat peperangan yang dipimpin oleh Yosua (rotasi bumi terhenti), kemenangan Daud atas Goliat, Yunus ditelan ikan/monster laut, sensus besar kekaisaran di masa kelahiran Yesus Kristus, mujizat-mujizat Yesus dan para rasul, adakah bukti astro-fisika dan arkeologinya? Apakah sungguh terjadi secara positif empirik atau forensik, ataukah kisah dengan "bumbu" hikayat khas cara bertutur masyarakat purba untuk menekankan "kebenaran iman" dan nilai spiritual? Jika kita masih hendak mengimani bahwa Allah ada dan bahwa Alkitab itu "benar", maka apa maknanya "kebenaran", apa itu "benar" dan "salah"? Bagaimanakah "merenegosiasi" keyakinan kita akan Allah lewat teks yang demikian purba dan asing terhadap peradaban pasca-moderen kita hari ini? 
  • Absolutisme versus bias kultural, konservatisme versus progresivitas. Apakah Alkitab sejak awal menetapkan nilai-nilai luhur seperti pernikahan atau abolisi perbudakan dan diskriminasi sebagaimana dipahami saat ini (padahal tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama banyak yg tidak masalah dengan poligami, memiliki budak, dsb), ataukah Gereja "berprogres" merumuskan nilai kesetiaan relasi secara lebih lanjut dan bahwa itu menyediakan "stabilitas" yang menguntungkan bagi perkembangan peradaban manusia? Jika kita harus mengikuti Alkitab secara kata per kata, bagaimanakah dengan hukum Taurat, sunat, perayaan hari besar Yahudi, aturan makanan haram dan lain sebagainya? Bagaimana Gereja men-teologisasi kurva pergerakan "pembebasan" dan inklusi yang dibawa oleh Yesus Kristus ke dalam penghayatan Kristian hari ini (yang ternyata selektif dan memilah-milah juga)?
  • dan masih banyak lagi 
Sebagaimana dibagikan dalam tulisan berjudul "Stunting (Kerdil) Rohani", kita telah terlalu dimanjakan dengan pola asuh gerejawi yang tinggal tunggu makanan siap saji rohani dari mimbar tanpa mau mengolah secara kritis narasi-narasi yang ada bagi kesehatan dan kedewasaan spiritual diri sendiri.

Kini pertanyaannya, siapkah kita merevisi asumsi, grow the flip up, dan melanjutkan pembelajaran?

Berkah Dalem
FZ 💞✍️☦️ 趙健忠
#12of30 #30harimenulis


Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

No comments:

Post a Comment