Yohanes 8:7b, 10-11 (TB)
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
Kisah perempuan yang dituduh berbuat tidak senonoh dan hendak dihakimi massa yang agamis, telah saya dengar berulangkali dan ditafsirkan beragam. Beberapa rohaniwan membahasnya sambil bertanya, "Ke mana pria nya? Kabur? Atau jangan-jangan salah satu di antara kaum religius yang hendak menghakimi itulah pelakunya dan ia hendak melenyapkan saksi? Ada juga pengkhotbah yang menekankan bahwa makna kisah tersebut adalah bahwa kasih Allah bukan alasan untuk tetap hidup dalam “siklus dosa".
Dalam tulisan lampau, saya membidik kemunafikan dalam lensa Mesias yang menderita versus obsesi kekuasaan dan legitimasi kekejaman. Namun saya rasa ada aspek pembicaraan yang tertunda dan terlewat, dan untuk mengalamatkan hal tersebut Saya mungkin perlu juga berkaca dan berhadapan dengan kemunafikan saya sendiri.
Kemunafikan, hal yang tak nyaman di telinga, semua orang menghindari membicarakannya apalagi ketika itu menyangkut dirinya sendiri. Seolah seperti seorang bocah polos, kita berharap bahwa dengan berdiam tentangnya, sang monster kemunafikan akan dibutakan dan berjalan melewati kita begitu saja. Namun faktanya kemunafikan menyerang tanpa eksklusi, Petrus ditegur Paulus karena kontaminasinya, Daud dikecam Natan dan dikudeta Absalom, puteranya sendiri karena terinfeksi dan tersandera olenya*, dan karenanya pula ahli Taurat petinggi Yahudi dikutuki Yohanes Pembaptis dan sepupunya, the one dan only, Yesus dari Nazaret!
Sadar bahwa era penulisan Alkitab belum mengenal pemisahan antara perkara negara dan agama, masuk akal bahwa para nabi Perjanjian Lama sampai kepada Yesus Kristus tidak pernah mengecam dosa hanya sebagai wujud keberhalaan saja, namun juga kecaman terhadap kemunafikan dan dosa "sistemik" yakni tendensi kesalehan eksternal yang rawan menjadi pencitraan semata yang lantar melahirkan standar ganda, diskriminasi dan melindungi "status quo" tertentu.
Sekadar berargumen terhadap anekdot, “tak ada dosa kecil atau dosa besar”, meski Yesus kerap meminta semua orang untuk “jangan berdosa lagi”, meski Dia menyadari bahwa kita para pendosa ini kerap jatuh dalam kebodohan yang menyakiti diri sendiri dan menghancurkan orang lain, Yesus toh lemah lembut pada mereka yang lemah, namun tak kenal ampun pada para pengabdi sistem kekuasaan ataupun religi yang menindas.
Faktanya, kita semua rentan terhadap dosa dan kemunafikan, dan saya pikir saran-saran "konselor" (perhatikan tanda petik pada konselor) seperti "banyaklah berdoa dan membaca Alkitab" bukanlah jawaban yang bertanggung jawab. Lantas bagaimana agar kemunafikan bisa diselesaikan sampai ke akarnya dan tidak diredam secara penampilan luar semata sambil menunggu kekambuhan?
1. Pelayanan multidisipliner. Hurt people hurt people (mereka yang terluka cenderung melukai orang lain), prinsip ini juga menjelaskan bagaimana kemunafikan secara kejiwaan merupakan mekanisme pertahanan diri dan cerminan ketakutan atau trauma. Dibutuhkan pendekatan yang humanis dan empatik dalam unit komunitas terkecil yang bermitra dengan pelayanan konseling yang mengupayakan pemulihan pribadi secara holistik.
2. Church is a sanctuary, so let's make it safe. Membudayakan Gereja sebagai ruang aman bagi transformasi karakter, mulai dari tataran pimpinan atau pastoralnya. Pembekalan secara kognitif saja dalam teologi, filsafat maupun managerial skills tak lagi memadai. Para pemimpin kita adalah juga pelayan kita, dan untuk itu mereka perlu selesai dahulu dengan ambisi, trauma, atau apapun yang berpotensi mengkompromikan peranan mereka dalam menggembalakan bahkan melindungi sesama tubuh Kristus yang paling rentan. Pekerjaan rumah ini berat karena pribadi-pribadi yang terikat dengan ketidakjujuran dan sikap munafik atau manipulatif perlu diterima apa adanya namun juga ditemani dalam menapaki jalan pemulihan dan memunculkan versi terbaik diri mereka. Dan hal ini mustahil dilakukan jika mereka yang sedianya membimbing justru terbelit dalam skandal dan siklus dusta dan kemunafikan itu sendiri. Kepemimpinan kolektif untuk menjaga akuntabilitas juga sangat disarankan.
3. Literasi biblika dan teologi, untuk mengekspos manipulasi tafsir sejak dini. Membudayakan obrolan-obrolan teologis dan tidak anti dengan iman yang didasari pemikiran kritis memang akan memaksa suatu komunitas iman untuk memikirkan ulang dan merumuskan kembali banyak hal. Banyak dogmatika yang perlu diijinkan untuk dipegang secara lebih “longgar” sedangkan nilai-nilai lainnya yang mencerminkan semangat Kristus yang membebaskan diangkat menjadi inti dan landasan kebersamaan serta kolaborasi. Dan jika hal itu “mengganggu” kalangan tertentu dengan dalih merusak kemurnian, kebenaran atau kesalehan (sedangkan semua dogma maupun praktek spiritual yang dibela tadi tidak menyentuh, memperbaiki dan mengutuhkan kehidupan sesama), maka mungkin kita telah menemukan sejumlah penafsiran yang pada dasarnya munafik (sekaligus para penafsirnya 🤭🙏).
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
Lukas 4:18-19 (TB)
Berkah Dalem,
FZ 趙健忠 💞
✍️☦️
#11of30 #30harimenulis
* Daud yang dikenal sebagai raja yang sangat "terobsesi" dengan menyembah Yahweh dan mengabdi kepada "kebenaran" dan nilai luhur, malah melakukan pembiaran ketika "kegagalan moral" terjadi dalam keluarganya sendiri dimana Amnon, puteranya dari Ahinoam melakukan kekerasan seksual kepada Tamar, saudari tiri-nya sendiri (puteri Daud, adik perempuan Absalom bin Daud; bdk. 2Sam 13:1,22,32) yang akhirnya memicu kebencian Absalom.
Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...
Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?
Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..
No comments:
Post a Comment