Wednesday, March 19, 2025

#KABURAJADULU

Narasi Perlawanan terhadap Manipulasi Ketaatan Iman dan Patriotisme

 


Kecuali Anda bersembunyi setahun ini dalam gua, Anda tentu mengetahui tagar yang sempat populer ini. Dilandasi kekecewaan dan kegelisahan sebagian kalangan terkait kondisi pendidikan, lapangan kerja, moneter, polkam dan kepastian hukum, sejumlah orang mengajak masyarakat utk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.

Terlepas bagaimana kita memaknai #kaburajadulu, kita melihat bentangan sejarah manusia yang diwarnai migrasi dan eksodus. Ada yang dilakukan dalam kondisi baik dan terencana seperti dalam kondisi damai utk perbaikan karier dan kesejahteraan, ataupun dilakukan mendadak dalam situasi genting mencekam seperti dalam skenario persekusi atau perang.

Saya pun kerap berusaha menginternalisasi apa maknanya menjadi Tionghoa-Indonesia, sebuah generasi dan demografi yang lahir dari pendahulu yang beberapa kali meninggalkan kenyamanan "rumah" utk sejenak terlunta-lunta ke tempat yang jauh demi hidup yang lebih sejahtera, bahkan agar tetap hidup dan merdeka.

Di sisi spiritual, saya merasa terhormat dan terinspirasi karena warisan sejuta kebijaksanaan dari leluhur kami dalam iman, yang mengungsi karena kekeringan dan kelaparan (bdk. Kej 42-46), lari dari perbudakan (bdk. Kel 13), melintasi belantara ganas saat hendak kembali ke tanah terjanji, lalu melintasinya kembali saat dibawa paksa sebagai tawanan kerajaan.

Tanpa sadar tema besar "menjadi musafir di bumi sekaligus duta kerajaan mendatang" mungkin juga terpatri lewat pengembaraan keluarga kudus dan Gereja perdana yang terpencar oleh tangan besi emporium Romawi ke berbagai benua, mengikuti eksodus pasca penghancuran Yerusalem tahun 72 Masehi. Selalu ada heroisme, epos, misi, panggilan dan kehadiran Allah di tiap pedih dan gamangnya pelarian jiwa-jiwa yang membentuk DNA spiritual dan melahirkan raga kami hari ini.*

Dulu lewat lensa "umat teraniaya", saya bersimpati kepada mereka yang lari pasca tragedi 1965, 1998, dan seterusnya, karena memang emporium lama tidak memberi pengayoman sebagaimana harapan dan kebutuhan, sementara mengekstraksi kepatuhan dan jerih lelah rakyat yang nyaris semua dalam rentang kurun waktu puluhan ribu tahun di Nusantara pada hakikatnya adalah pendatang. Hari ini saya kembali melihat mereka yang #kaburajadulu dari konoha atau dari korporasi dan/atau gereja yang toxic dan manipulatif, para pengungsi ini menyandang martabat dan lencana perlawanan Kristus terhadap tangan-tangan antikris, struktur-struktur high controlling serupa sekte atau bahkan kamp konsentrasi, penindas yang lemah dan rentan.

 

Salam, para musafir. Kiranya Tuhan besertamu. 💕

 

Berkah Dalem

FZ 趙健忠 ☦🕯✍☦🙏

#14of30 #30harimenulis

 

 

Catatan :

*Kisah Para Rasul dan tulisan Bapa Gereja seperti Tertulianus menyebutkan bahwa darah para martir dan penganiayaan menjadi benih bagi tumbuh dan penyebaran Gereja. Penganiayaan besar dalam era pemerintahan Kaisar Nero dan Deokletianus memaksa gereja perdana untuk menyebar dan mendirikan komunitas-komunitas baru di daerah asing.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

No comments:

Post a Comment