Narasi Perlawanan terhadap Manipulasi Ketaatan Iman dan Patriotisme
Kecuali Anda bersembunyi setahun ini dalam gua, Anda tentu mengetahui
tagar yang sempat populer ini. Dilandasi kekecewaan dan kegelisahan sebagian
kalangan terkait kondisi pendidikan, lapangan kerja, moneter, polkam dan
kepastian hukum, sejumlah orang mengajak masyarakat utk mencari kehidupan yang
lebih baik di luar negeri.
Terlepas bagaimana kita memaknai #kaburajadulu, kita melihat
bentangan sejarah manusia yang diwarnai migrasi dan eksodus. Ada yang dilakukan
dalam kondisi baik dan terencana seperti dalam kondisi damai utk perbaikan
karier dan kesejahteraan, ataupun dilakukan mendadak dalam situasi genting
mencekam seperti dalam skenario persekusi atau perang.
Saya pun kerap berusaha menginternalisasi apa maknanya
menjadi Tionghoa-Indonesia, sebuah generasi dan demografi yang lahir dari
pendahulu yang beberapa kali meninggalkan kenyamanan "rumah" utk
sejenak terlunta-lunta ke tempat yang jauh demi hidup yang lebih sejahtera,
bahkan agar tetap hidup dan merdeka.
Di sisi spiritual, saya merasa terhormat dan terinspirasi karena
warisan sejuta kebijaksanaan dari leluhur kami dalam iman, yang mengungsi karena
kekeringan dan kelaparan (bdk. Kej 42-46), lari dari perbudakan (bdk. Kel 13),
melintasi belantara ganas saat hendak kembali ke tanah terjanji, lalu
melintasinya kembali saat dibawa paksa sebagai tawanan kerajaan.
Tanpa sadar tema besar "menjadi musafir di bumi sekaligus
duta kerajaan mendatang" mungkin juga terpatri lewat pengembaraan keluarga
kudus dan Gereja perdana yang terpencar oleh tangan besi emporium Romawi ke
berbagai benua, mengikuti eksodus pasca penghancuran Yerusalem tahun 72 Masehi.
Selalu ada heroisme, epos, misi, panggilan dan kehadiran Allah di tiap pedih dan
gamangnya pelarian jiwa-jiwa yang membentuk DNA spiritual dan melahirkan raga
kami hari ini.*
Dulu lewat lensa "umat teraniaya", saya bersimpati
kepada mereka yang lari pasca tragedi 1965, 1998, dan seterusnya, karena memang
emporium lama tidak memberi pengayoman sebagaimana harapan dan kebutuhan,
sementara mengekstraksi kepatuhan dan jerih lelah rakyat yang nyaris semua dalam
rentang kurun waktu puluhan ribu tahun di Nusantara pada hakikatnya adalah
pendatang. Hari ini saya kembali melihat mereka yang #kaburajadulu dari konoha
atau dari korporasi dan/atau gereja yang toxic dan manipulatif, para pengungsi
ini menyandang martabat dan lencana perlawanan Kristus terhadap tangan-tangan
antikris, struktur-struktur high controlling serupa sekte atau bahkan
kamp konsentrasi, penindas yang lemah dan rentan.
Salam, para musafir. Kiranya Tuhan besertamu. 💕
Berkah Dalem
FZ 趙健忠 ☦🕯✍☦🙏
#14of30 #30harimenulis
Catatan :
*Kisah Para Rasul dan tulisan Bapa Gereja seperti
Tertulianus menyebutkan bahwa darah para martir dan penganiayaan menjadi benih bagi
tumbuh dan penyebaran Gereja. Penganiayaan besar dalam era pemerintahan Kaisar
Nero dan Deokletianus memaksa gereja perdana untuk menyebar dan mendirikan
komunitas-komunitas baru di daerah asing.
Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...
Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?
Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?
Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?
Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..
No comments:
Post a Comment