Wednesday, March 26, 2025

TERSESAT DALAM DIRI


Efesus 4:14-15 (TB) "..sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala."

Sebagai guru piano bagi pemula, saya menyadari suatu hambatan siswa dalam menguasai sebuah lagu. Benar, kurangnya rutinitas latihan merupakan penyebab, namun kenapa? Minimnya hal2 tsb memperlambat pembentukan dua hal, yakni "memori otot" dan skill baca notasi. Mengapa keduanya penting? Memori otot memungkinkan mereka "merasakan" posisi jari dan tuts yang benar tanpa perlu (sering) melihat ke bawah (tangan). Dan karena notasi adalah aksara dan bahasa musikal, lancar membaca notasi berarti sudah sebagian dalam lancar bermain.

Tanpa keduanya kita cenderung melihat ke bawah saat bermain lalu membaca notasi, setiap mereka melakukan yang satu, yang lainnya akan dikorbankan, makin mencoba meraih kendali, makin hilang kendali. Saya menamai fenomena ini "tersesat dalam diri", karena problem ini diawali dari egosentrisme yang ingin nyaman (tidak mau latihan ekstra) dan menganggap diri lebih mampu (padahal tidak).

Merenungkan hal ini saya sadar bhw ketika Efesus 4:14 dibahas, biasanya umat, bahkan rohaniwan pula tergesa menimpali, "Oh, supaya tidak terombang-ambing dan sesat, kita perlu membaca Alkitab lebih sering, lebih serius, atau berdoa lebih banyak, atau worship lebih banyak".

Setidaknya ada beberapa problem di sini:

1. Biblika. Kita hidup dalam konteks berbeda dengan Alkitab. Membaca lebih banyak tanpa pelatihan hanya akan memaksakan proyeksi pikiran sendiri kepada teks Alkitab.

2. Teologi. Alkitab berisi "perdebatan" tentang Allah. Tanpa studi yang akuntabel, kita akan entah kebingungan atau mencoba membela konsep tertentu dengan meredam narasi lainnya.

3. Spiritualitas. Saya menyukai konsep Quadrilateral (empat sisi) dalam Metodisme. Komponen pewahyuan dalam komunitas dan tradisi Kudus menghindarkan kita dari mendalami dan "mendengarkan" Sabda secara delusional.

Dan terkait poin 3, saya pikir parameter di atas menjawab langsung terhadap isu ketersesatan dalam diri, terutama dalam bentuk delusi mendengarkan "suara Allah" dalam kasus yang ekstrem (acap kali terkait masalah kesehatan mental). Komplikasi dalam bentuk penghayatan iman yang menutup diri dari masukan dunia luar adalah suatu hal yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Sebagai contoh, pada tahun 2014, Deanna Laney, seorang Ibu asal Texas, Amerika Serikat, didakwa dengan tuduhan pembunuhan dua orang puteranya, dan 2001, Andrea Yates didakwa setelah menenggelamkan lima orang anaknya, kedua wanita ini mengaku melakukan semua itu setelah mendengarkan perintah Tuhan untuk menguji iman mereka (rujukan sumber dapat diakses di bawah).

Ilustrasi dan contoh kejadian di atas kiranya menjelaskan betapa beresikonya berteologi atau menafsirkan "apa kata Alkitab" atau "pesan Allah" sementara kita membatasi akses dunia luar dalam mengkoreksi dan menyehatkan spiritualitas kita. Entah dinilai sebagai psikosis, halusinasi, atau bahkan kekuatan super sekalipun, saya pikir adalah berdasar bagi orang-orang di sekitar kita dalam dunia yang "sekuler" ini untuk gugup ketika mendengarkan pengakuan bahwa kita "mendengarkan" pesan ilahi. Dan adalah wajar untuk menjadi konsesus yang patut dihormati bersama bahwa terlepas dari klaim iman kita, kita perlu menjamin bahwa kita tidak "membahayakan" siapapun dengan keimanan tersebut.

Jadi, mungkinkah yang dibutuhkan kerohanian kita adalah studi dan komunitas yang baik ketimbang mengunci diri "bersama Allah" lantas tersesat dalam diri sendiri?


Berkah Dalem,

FZ 趙健忠 ☦🕯✍📚🙏

#16of30 #30harimenulis


Catatan :

https://en.wikipedia.org/wiki/Deanna_Laney_murders

https://www.goupstate.com/story/news/2004/04/04/mother-who-stoned-two-sons-to-death-acquitted-of-charges/29712906007/

https://www.nbcnews.com/id/wbna4660600

https://edition.cnn.com/2007/US/law/12/11/court.archive.yates8/index.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Andrea_Yates

https://briefspro.com/casebrief/yates-v-state/

============================================================


Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana jika kasih dan keberpihakan Yesus yang "ekstrem" menyinggung kekristenan kita? Apa Yesus harus mengikuti sesi terapi?

Ternyata #kaburajadulu juga relevan dengan kisah sejarah iman.

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Sunday, March 23, 2025

IT'S OK THAT'S LOVE




Matius 22:39b (TB)

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."


Beberapa tahun silam sering muncul narasi dari mimbar Gereja kurang lebih demikian, "Tahu tidak kenapa sekarang Kekristenan di Korea (Selatan) lesu? Karena orang-orang mudanya lebih memilih jadi artis ketimbang melayani Tuhan." Terlepas dari apakah pernyataan tersebut didukung data statistik ataukah sekadar christian clickbait, entah mengapa tagline tersebut kembali terngiang di benak saya namun dengan "menyeret" pula memori akan serial K-Drama yg pertama kali saya tonton.

Serial TV 괜찮아, 사랑이야 "Gwaenchanha Sharangiya" (It's OK, That's Love) ternyata berhasil memenangkan banyak penghargaan baik sinema maupun musikal sekitar periode 2014 sampai 2016. Tak heran sejak itu, saya amat pilih-pilih dalam menyaksikan serial serupa karena baik dari aspek akting maupun script & plot-nya menurut saya serial ini telah menetapkan standar yang di atas rata-rata dalam pemahaman saya tentang sebuah K-Drama yang layak menyita waktu dan perhatian. (Spoiler warning - Mature content) ⚠ 

Berkisah tentang novelis sukses yang berpapasan kisah dengan seorang dokter spesialis kejiwaan yang berlanjut dengan permusuhan namun perlahan menjadi romansa, amat basic kedengarannya. Kisah lantas bergulir, nampak bahwa tiap karakter (bahkan karakter pendukung) mengalami kondisi kejiwaan bervariasi terkait masa lalu mereka. Tourette Syndrome, OCD hingga schizophrenia, kasus-kasus digambarkan dengan dramatis, manusiawi, immersive dan intim. Kisah diakhiri dengan bagaimana cinta kasih yang memberi ruang serta kepercayaan memungkinkan kesembuhan dan hidup yang lebih baik.

Pasca serangkaian peristiwa traumatis dalam dekade tersebut, serial ini nampak memberi ruang regulasi dan recovery lebih luas bagi saya secara pribadi. Sayangnya saya tidak dapat mengatakan hal serupa terkait oknum dan/atau komunitas spiritual yang pernah seperjalanan yang kemungkinan besar ada pada posisi mengkritik pop culture dengan prasangka dan secara tidak berimbang.

Terinspirasi pengalaman di atas, saya mencoba menggarisbawahi realita kontradiksi teks kitab suci, narasi anti-empati dalam lingkaran religi fundamentalis hari-hari ini dan membandingkannya dengan posisi Kristus. Apakah kasih itu pada hakekatnya tanpa batas, tanpa aturan dan tanpa konsekuensi?

Yesus yang menggenapi Taurat (Mat 5:17-18), namun juga memberi "Perintah Baru" (Yoh 13:34). Yesus yang mencegah hukuman mati (Yoh 8:7) juga adalah Pribadi yang keras terhadap dusta, apalagi ketika dusta, kemunafikan dan korupsi itu menyakiti harkat hidup mereka yang rentan dan tak mampu bersuara (Luk 17:2). Sambil sama-sama berdebat dengan para pemuka agama dan menyinggung Taurat yang sama dan Nabi Musa yang sama, Dia melonggarkan aturan Sabat (Mrk 2:23-27) namun sekaligus keras melarang perceraian (Mrk 10), yang mana ketika kita kritisi secara mendalam, larangan itu Ia utarakan semata mengingat wanita kala itu rentan terhadap kemiskinan jika bercerai dan dengan memanfaatkan "celah" Taurat, seorang pria dapat menceraikan istrinya dengan alasan paling konyol sekalipun.*

Hari ini, ketika korupsi dan penindasan dibiarkan atau dibela dengan alasan yang tak kalah konyolnya, sementara kemurahan yang tak seberapa namun dapat mengubah atau bahkan mempertahankan hidup malah dicemooh, Yesus tidak berpihak pada dikotomi yang kaku dan naif antara legalisme, liberalisme atau anarkisme, Yesus berfokus dan lebih tertarik membela yg lemah dan rentan, bagaimanapun pendekatannya. Bagi-Nya, it's OK, that's love.


Berkah Dalem

FZ 趙健忠 🌺🌈💕☦✍🙏

#15of30 #30harimenulis



Catatan tambahan :

Terkait ketidakadilan dalam hukum perceraian Yudaisme kuno

Dalam periode "Bait Suci Kedua", hukum agama Yahudi (sebagaimana ditafsirkan oleh golongan Farisi) mengijinkan para pria untuk menceraikan istri mereka berdasarkan kitab Ulangan 24:1 yang berbunyi: 

”Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya"

Golongan (pengikut rabi) Shammai memiliki pandangan yang lebih ketat sehingga perceraian hanya diperbolehkan dalam kasus pelanggaran yang serius, sementara kelompok rabi Hillel mengijinkan perceraian bahkan untuk alasan remeh seperti masakan yang tidak enak. Perdebatan ini dibukukan dalam literatur rabinik seperti Mishna dan Talmud.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Ternyata #kaburajadulu juga relevan dengan kisah sejarah iman.

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Wednesday, March 19, 2025

#KABURAJADULU

Narasi Perlawanan terhadap Manipulasi Ketaatan Iman dan Patriotisme

 


Kecuali Anda bersembunyi setahun ini dalam gua, Anda tentu mengetahui tagar yang sempat populer ini. Dilandasi kekecewaan dan kegelisahan sebagian kalangan terkait kondisi pendidikan, lapangan kerja, moneter, polkam dan kepastian hukum, sejumlah orang mengajak masyarakat utk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.

Terlepas bagaimana kita memaknai #kaburajadulu, kita melihat bentangan sejarah manusia yang diwarnai migrasi dan eksodus. Ada yang dilakukan dalam kondisi baik dan terencana seperti dalam kondisi damai utk perbaikan karier dan kesejahteraan, ataupun dilakukan mendadak dalam situasi genting mencekam seperti dalam skenario persekusi atau perang.

Saya pun kerap berusaha menginternalisasi apa maknanya menjadi Tionghoa-Indonesia, sebuah generasi dan demografi yang lahir dari pendahulu yang beberapa kali meninggalkan kenyamanan "rumah" utk sejenak terlunta-lunta ke tempat yang jauh demi hidup yang lebih sejahtera, bahkan agar tetap hidup dan merdeka.

Di sisi spiritual, saya merasa terhormat dan terinspirasi karena warisan sejuta kebijaksanaan dari leluhur kami dalam iman, yang mengungsi karena kekeringan dan kelaparan (bdk. Kej 42-46), lari dari perbudakan (bdk. Kel 13), melintasi belantara ganas saat hendak kembali ke tanah terjanji, lalu melintasinya kembali saat dibawa paksa sebagai tawanan kerajaan.

Tanpa sadar tema besar "menjadi musafir di bumi sekaligus duta kerajaan mendatang" mungkin juga terpatri lewat pengembaraan keluarga kudus dan Gereja perdana yang terpencar oleh tangan besi emporium Romawi ke berbagai benua, mengikuti eksodus pasca penghancuran Yerusalem tahun 72 Masehi. Selalu ada heroisme, epos, misi, panggilan dan kehadiran Allah di tiap pedih dan gamangnya pelarian jiwa-jiwa yang membentuk DNA spiritual dan melahirkan raga kami hari ini.*

Dulu lewat lensa "umat teraniaya", saya bersimpati kepada mereka yang lari pasca tragedi 1965, 1998, dan seterusnya, karena memang emporium lama tidak memberi pengayoman sebagaimana harapan dan kebutuhan, sementara mengekstraksi kepatuhan dan jerih lelah rakyat yang nyaris semua dalam rentang kurun waktu puluhan ribu tahun di Nusantara pada hakikatnya adalah pendatang. Hari ini saya kembali melihat mereka yang #kaburajadulu dari konoha atau dari korporasi dan/atau gereja yang toxic dan manipulatif, para pengungsi ini menyandang martabat dan lencana perlawanan Kristus terhadap tangan-tangan antikris, struktur-struktur high controlling serupa sekte atau bahkan kamp konsentrasi, penindas yang lemah dan rentan.

 

Salam, para musafir. Kiranya Tuhan besertamu. 💕

 

Berkah Dalem

FZ 趙健忠 ☦🕯✍☦🙏

#14of30 #30harimenulis

 

 

Catatan :

*Kisah Para Rasul dan tulisan Bapa Gereja seperti Tertulianus menyebutkan bahwa darah para martir dan penganiayaan menjadi benih bagi tumbuh dan penyebaran Gereja. Penganiayaan besar dalam era pemerintahan Kaisar Nero dan Deokletianus memaksa gereja perdana untuk menyebar dan mendirikan komunitas-komunitas baru di daerah asing.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Tuesday, March 18, 2025

MEMANDANG MISTERI



Mazmur 17:15 - Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu. 

Suatu kali seorang teman meminta saya merekamnya menyanyikan sebuah lagu rohani. Agak terkejut ketika ia meminta agar kalimat lirik yg berbunyi "lihat wajah-Mu" diganti. "Ngaco ini liriknya, mana bisa kita melihat wajah Allah yg Kudus? Ga ada yg sanggup, bisa mati kita," tukasnya dgn serius & percaya diri. Demikian uniknya, pengalaman tersebut masih teringat jelas sampai hari ini.


Saya paham bahwa mungkin dia memakai referensi ini:


Keluaran 33:20 (TB) Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."

Atau, mungkin ini :

Wahyu 1:13-18 (TB) "Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. 

Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.  

Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.  

Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut."

Namun bagaimana dengan Mazmur 17:15 tadi, dimana pemazmur berhasrat memandang wajah Allah yang sama yang menjumpai Musa dalam Keluaran 33:20 di gunung Sinai? Perlu dicatat bahwa Kel 33:11a menyatakan, "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya;". Dan ya, baik ayat 11 maupun 21 dalam Keluaran 33 menggunakan kata יַהוְה YHWH (tetragrammaton, "Adonai") untuk "TUHAN" dan פַּנִים "panim" untuk "wajah".

Don't get me wrong. Saya tidak menyiratkan bahwa sikap tak hormat kepada Allah adalah tindakan yang dapat diterima. Hanya saja, kontradiksi mengenai konsekuensi memandang "wajah" Allah dalam teks-teks tersebut (jika dimaknai literal) jelas ada. Belum lagi polemik apakah Allah memiliki fisiologi manusia, lantas apa makna "gambar & rupa" dalam kitab Kejadian dan apa maknanya kita serupa dengan Allah.

Lantas bagaimana memaknai Alkitab sebagai Firman Allah? Kapan kita membaca secara teks secara literal apa adanya, kapan secara alegorikal (perumpamaan)? Kapan ia bicara tentang realitas fisik, dan di mana ia bicara perkara rohani? Apa makna yang lebih dalam saat Allah digambarkan secara "antropomorfik" (dianalogikan dengan fitur-fitur fisik atau intelektual khas manusia)? Makin seru bukan?


Dari contoh ini kita dpt berefleksi bhw:

1. Suka tidak suka, sadar maupun tidak, kita tidak mungkin lepas dari yang namanya berteologi (teos = Tuhan, logia = ilmu, pemikiran), menyangkali teologi sama dengan merendahkan karunia intelegensia yang Allah berikan pada setiap kita (bdk. Ul 6:5; Mat 22:37).

2. Teologi yang sehat tidak dapat dibangun secara "sporadis" berdasarkan ayat atau narasi tertentu saja. Memang kita tak dapat menghindari proteksi mental kita terhadap cara kita menafsirkan apa kata Alkitab, namun metodologi yang akuntabel tak dapat pula dikorbankan atas nama "kesan dan ilham" dari Roh Kudus (bdk. 2Tim1:7).

3. Alkitab tidak ditulis sebagai buku bertuah yg tabu didiskusikan, karena ia pun merupakan koleksi polemik tentang Allah.

4. Allah menyingkapkan diri namun Ia pun suatu misteri. Bertumbuh dalam keduanya adalah baik ketimbang kepastian semu dengan bias dan blindspot yang tidak kita sadari.

Sebagaimana Metropolitan Kallistos Ware menguraikan dengan indah dalam bukunya "The Orthodox Way" (pg. 37, "God as a Mystery"):


"Kegelapan pekat yang ke dalamnya kita masuk bersama-sama Musa, ternyata menjadi suatu kegelapan yang menyilaukan. Secara apofatik* 'tidak mengetahui' (unknowing) tidak berakhir pada kehampaan, namun kepenuhan. Negasi menjadi super-afirmasi, melampaui ekspresi bahasa manapun, langsung kepada pengalaman Allah sendiri ...

... sebagaimana kata misteri yang berasal dari mysterion, menunjuk kepada praktek agama pagan dimana seseorang ditutup matanya melewati suatu prosesi dan kemudian saat penutup di buka, ia dapat menyaksikan lambang-lambang atau emblem rahasia agama tersebut. Pemaknaannya bagi Kekristenan adalah bahwa misteri bukanlah suatu teka-teki membingungkan atau masalah tak terpecahkan, sebaliknya, misteri adalah penyingkapan namun yang tak dapat dipahami sepenuhnya karena ia menyasar langsung ke dalam misteri Allah. Dalam hal inilah mata kita tertutup sekaligus terbuka."


Maka menjadi suatu paradoks yang indah bagi saya ketika Allah yang adalah Misteri Agung itu justru menampakkan dirinya kepada kita melalui imaji dan persona yang kemungkinan besar justru akan ditolak oleh mereka yang meyakini bahwa kebenaran Firman "yang terang" atau "pasti" itu berlaku "mahakuasa" dalam artian opresif dan kolonialis-supremasif** terhadap yang liyan, asing atau misterius, atau meyakini Allah yang "mahakasih" namun bersikeras bahwa dalam lingkup pagar kelompok dan keyakinannya sajalah Allah dapat mengasihi dan menyelamatkan dengan sempurna.

1 Raja-raja 8:12 (TB) Pada waktu itu berkatalah Salomo: "TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. 

1 Timotius 6:16 (TB) Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin. 



Berkah Dalem

FZ 赵健忠 🌿☦️🙏✍️

#13of30 #30harimenulis


Keterangan Tambahan

* Apofatik : pengenalan akan Allah yang diperoleh dengan jalan menegasi atau via negativa (mengatakan apa yg "Allah bukan" atau what God is NOT), lawan dari apofatik adalah Katafatik pengenalan akan Allah dengan mendefinisikan apa itu Allah (what God IS) yang lebih berkembang dalam Kekristenan Barat.

** Menjadi kecenderungan hermenetika yang diwariskan khususnya oleh para misionaris Barat bahwa selain memberitakan keselamatan dalam Yesus Kristus, proses "konversi" maupun "penginjilan" seringkali membawa muatan anti budaya lokal atau membingkai kearifan lokal dengan segala corak dan simbolnya sebagai bentuk dosa atau suatu praktek "demonik" atau "satanik", tanpa melakukan dialog dan refleksi yang memadai dengan komunitas dan sistem keyakinan yang dijumpainya.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Monday, March 17, 2025

IGNORANCE IS A BLISS?

Apakah Ketidaktahuan Lebih Mendatangkan Kedamaian?




Yoh 8:31-32 (TB) Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."

Dalam suatu kesempatan saya menerima orang tua calon siswa musik yang ingin anak mereka mahir bermain musik hanya dalam 3 bulan. Namun yang membuat saya geleng kepala adalah syaratnya: mereka tak bersedia memakai metode & kurikulum baku. Perlu dicatat bahwa sang anak sama sekali belum menguasai baik dasar musikalitas maupun instrumen secara motorik. Kira-kira jika Anda gurunya, apakah bersedia mengajar? ☺️

Di semesta lain, jemaat & gembala sebuah Gereja sedang antusias, beberapa dari mereka hendak melanjutkan pendidikan di suatu "sekolah Alkitab". Sebenarnya para jemaat tak terlalu paham apa yang sebenarnya dipelajari di sana (atau apa "gunanya" bagi Gereja), namun sampai di titik ini mereka masih menunjukkan antusiasme dan memberikan dukungan

Tak lama berselang, muncul banyak keluhan karena para "seminaris" ini mulai "berulah" karen membagikan hal-hal yang terdengar "aneh" dalam berbagai kesempatan pendalaman Alkitab maupun dalam ibadah raya. Sebagian jemaat tak paham apa yang kemudian terjadi. Yang pasti, tak lama setelah digelarnya "rapat khusus", selepas desingan dan lontaran sebutan "sesat", "liberal", "angkuh", dan sebagainya, para pengajar ini tak pernah nampak lagi.

Apa benang merah dari kedua kisah tadi? Menurut saya baik orang tua calon siswa maupun petinggi dan jemaat tadi sama-sama memiliki:
1. Presuposisi/asumsi tentang proses dan hasil
2. Blindspot, ketidakmampuan melihat realita yang melampaui asumsi yang telah mereka miliki sebelumnya (asumsi ini juga termasuk presumsi/prasangka).
3. Resistensi atau penolakan yang terjadi karena timbulnya konflik antara presuposisi dengan realita.

Orang tua tadi punya asumsi tersendiri tentang "bisa main musik", namun realita berkata bahwa sang anak akan mengalami pelatihan intens dan penuh disiplin karena ia akan belajar musik sebagai "bahasa kedua", barulah melatih koordinasi motorik & kognitif interpretatifnya untuk mewujudkan kehidupan bermusiknya yang holistik.

Jemaat dan gembala tadi berasumsi bahwa para seminaris tadi hanya disekolahkan agar semakin cakap "kerja bagi visi gereja" dan pandai berargumen membela iman sebagaimana dirumuskan Gereja tersebut (yang notabene diyakini hampir seluruh jemaatnya sebagai ajaran Kristiani yang paling benar dan sesuai secara historis). 

Realitanya, seminari, sekolah teologi dan/atau filsafat membuka "kotak pandora" seperti :
  • Kontroversi sejarah, bahwa gereja (bahkan sebelum reformasi Protestan) telah mengalami metamorfosa dalam meyakini sesuatu dan merumuskannya, misalnya mengenai doktrin mariologi, "dosa asal", pandangan tentang kisah Kejadian 3 sebagai "kejatuhan umat manusia" (yang mana tidak pernah dinyatakan secara literal dalam Perjanjian Lama, maupun dalam teologi agama Yahudi dimana teks-teks ini dihasilkan), atau bagaimana Gereja meyakini eksistensi Allah Tritunggal (padahal tak satupun disebutkan secara eksplisit baik dalam PL maupun PB), atau bagaimana Gereja mendefinisikan ketuhanan Yesus sekaligus keutuhan kemanusiaan-Nya (kesatuan hipostatik), atau tentang mengapa Katolik Roma dan Ortodoks Timur berbeda fahan bahkan berselisih tajam tentang filioque (apakah Yesus "berasal" dari Bapa saja, atau dari Bapa dan Roh Kudus), apa implikasinya, dan masih banyak lagi kisah yang membentuk apa yg kita sebut hari ini sebagai "ajaran iman".
  • Polemik tafsir, bahwa jika tidak bijak untuk menafsir teks Alkitab seturut pemahaman dan merefleksikannya dalam pengalaman kita sendiri, maka apakah eksegesis (menafsir dengan 100% berdasarkan konteks jaman penulisan tersebut) dimungkinkan? Masihkan akan ada hubungannya dengan kehidupan kita hari ini? Dan jika direlasikan dengan hari ini tidakkan eksegesis akan terkompromi? Maka jangankan khotbah eksposisi, perlu ditanyakan dahulu adakah yang namanya eksegesis & ajaran yang murni? Apakah ukurannya? 
  • Dialog antara dogma versus data. Eksodus besar-besaran Israel dari perbudakan Mesir, runtuhnya tembok raksasa Yerikho, matahari yang berhenti berjam-jam di angkasa saat peperangan yang dipimpin oleh Yosua (rotasi bumi terhenti), kemenangan Daud atas Goliat, Yunus ditelan ikan/monster laut, sensus besar kekaisaran di masa kelahiran Yesus Kristus, mujizat-mujizat Yesus dan para rasul, adakah bukti astro-fisika dan arkeologinya? Apakah sungguh terjadi secara positif empirik atau forensik, ataukah kisah dengan "bumbu" hikayat khas cara bertutur masyarakat purba untuk menekankan "kebenaran iman" dan nilai spiritual? Jika kita masih hendak mengimani bahwa Allah ada dan bahwa Alkitab itu "benar", maka apa maknanya "kebenaran", apa itu "benar" dan "salah"? Bagaimanakah "merenegosiasi" keyakinan kita akan Allah lewat teks yang demikian purba dan asing terhadap peradaban pasca-moderen kita hari ini? 
  • Absolutisme versus bias kultural, konservatisme versus progresivitas. Apakah Alkitab sejak awal menetapkan nilai-nilai luhur seperti pernikahan atau abolisi perbudakan dan diskriminasi sebagaimana dipahami saat ini (padahal tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama banyak yg tidak masalah dengan poligami, memiliki budak, dsb), ataukah Gereja "berprogres" merumuskan nilai kesetiaan relasi secara lebih lanjut dan bahwa itu menyediakan "stabilitas" yang menguntungkan bagi perkembangan peradaban manusia? Jika kita harus mengikuti Alkitab secara kata per kata, bagaimanakah dengan hukum Taurat, sunat, perayaan hari besar Yahudi, aturan makanan haram dan lain sebagainya? Bagaimana Gereja men-teologisasi kurva pergerakan "pembebasan" dan inklusi yang dibawa oleh Yesus Kristus ke dalam penghayatan Kristian hari ini (yang ternyata selektif dan memilah-milah juga)?
  • dan masih banyak lagi 
Sebagaimana dibagikan dalam tulisan berjudul "Stunting (Kerdil) Rohani", kita telah terlalu dimanjakan dengan pola asuh gerejawi yang tinggal tunggu makanan siap saji rohani dari mimbar tanpa mau mengolah secara kritis narasi-narasi yang ada bagi kesehatan dan kedewasaan spiritual diri sendiri.

Kini pertanyaannya, siapkah kita merevisi asumsi, grow the flip up, dan melanjutkan pembelajaran?

Berkah Dalem
FZ 💞✍️☦️ 趙健忠
#12of30 #30harimenulis


Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Sunday, March 16, 2025

SELAMAT, TERNYATA ITU SAYA

Sedikit Lagi Menyoal Kemunafikan dan Iman




Yohanes 8:7b, 10-11 (TB) 

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"

Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."


Kisah perempuan yang dituduh berbuat tidak senonoh dan hendak dihakimi massa yang agamis, telah saya dengar berulangkali dan ditafsirkan beragam. Beberapa rohaniwan  membahasnya sambil bertanya, "Ke mana pria nya? Kabur? Atau jangan-jangan salah satu di antara kaum religius yang hendak menghakimi itulah pelakunya dan ia hendak melenyapkan saksi? Ada juga pengkhotbah yang menekankan bahwa makna kisah tersebut adalah bahwa kasih Allah bukan alasan untuk tetap hidup dalam “siklus dosa".

Dalam tulisan lampau, saya membidik kemunafikan dalam lensa Mesias yang menderita versus obsesi kekuasaan dan legitimasi kekejaman. Namun saya rasa ada aspek pembicaraan yang tertunda dan terlewat, dan untuk mengalamatkan hal tersebut Saya  mungkin perlu juga berkaca dan berhadapan dengan kemunafikan saya sendiri.

Kemunafikan, hal yang tak nyaman di telinga, semua orang menghindari membicarakannya apalagi ketika itu menyangkut dirinya sendiri. Seolah seperti seorang bocah polos, kita berharap bahwa dengan berdiam tentangnya, sang monster kemunafikan akan dibutakan dan berjalan melewati kita begitu saja. Namun faktanya kemunafikan menyerang tanpa eksklusi, Petrus ditegur Paulus karena kontaminasinya, Daud dikecam Natan dan dikudeta Absalom, puteranya sendiri karena terinfeksi dan tersandera olenya*, dan karenanya pula ahli Taurat petinggi Yahudi dikutuki Yohanes Pembaptis dan sepupunya, the one dan only, Yesus dari Nazaret!

Sadar bahwa era penulisan Alkitab belum mengenal pemisahan antara perkara negara dan agama, masuk akal bahwa para nabi Perjanjian Lama sampai kepada Yesus Kristus tidak pernah mengecam dosa hanya sebagai wujud keberhalaan saja, namun juga kecaman terhadap kemunafikan dan dosa "sistemik" yakni tendensi kesalehan eksternal yang rawan menjadi pencitraan semata yang lantar melahirkan standar ganda, diskriminasi dan melindungi "status quo" tertentu. 

Sekadar berargumen terhadap anekdot, “tak ada dosa kecil atau dosa besar”, meski Yesus kerap meminta semua orang untuk “jangan berdosa lagi”, meski Dia menyadari bahwa kita para pendosa ini kerap jatuh dalam kebodohan yang menyakiti diri sendiri dan menghancurkan orang lain, Yesus toh lemah lembut pada mereka yang lemah, namun tak kenal ampun pada para pengabdi sistem kekuasaan ataupun religi yang menindas.

Faktanya, kita semua rentan terhadap dosa dan kemunafikan, dan saya pikir saran-saran "konselor" (perhatikan tanda petik pada konselor) seperti "banyaklah berdoa dan membaca Alkitab" bukanlah jawaban yang bertanggung jawab. Lantas bagaimana agar kemunafikan bisa diselesaikan sampai ke akarnya dan tidak diredam secara penampilan luar semata sambil menunggu kekambuhan?

1. Pelayanan multidisipliner. Hurt people hurt people (mereka yang terluka cenderung melukai orang lain), prinsip ini juga menjelaskan bagaimana kemunafikan secara kejiwaan merupakan mekanisme pertahanan diri dan cerminan ketakutan atau trauma. Dibutuhkan pendekatan yang humanis dan empatik dalam unit komunitas terkecil yang bermitra dengan pelayanan konseling yang mengupayakan pemulihan pribadi secara holistik.

2. Church is a sanctuary, so let's make it safe. Membudayakan Gereja sebagai ruang aman bagi transformasi karakter, mulai dari tataran pimpinan atau pastoralnya. Pembekalan secara kognitif saja dalam teologi, filsafat maupun managerial skills tak lagi memadai. Para pemimpin kita adalah juga pelayan kita, dan untuk itu mereka perlu selesai dahulu dengan ambisi, trauma, atau apapun yang berpotensi mengkompromikan peranan mereka dalam menggembalakan bahkan melindungi sesama tubuh Kristus yang paling rentan. Pekerjaan rumah ini berat karena pribadi-pribadi yang terikat dengan ketidakjujuran dan sikap munafik atau manipulatif perlu diterima apa adanya namun juga ditemani dalam menapaki jalan pemulihan dan memunculkan versi terbaik diri mereka. Dan hal ini mustahil dilakukan jika mereka yang sedianya membimbing justru terbelit dalam skandal dan siklus dusta dan kemunafikan itu sendiri. Kepemimpinan kolektif untuk menjaga akuntabilitas juga sangat disarankan.

3. Literasi biblika dan teologi, untuk mengekspos manipulasi tafsir sejak dini. Membudayakan obrolan-obrolan teologis dan tidak anti dengan iman yang didasari pemikiran kritis memang akan memaksa suatu komunitas iman untuk memikirkan ulang dan merumuskan kembali banyak hal. Banyak dogmatika yang perlu diijinkan untuk dipegang secara lebih “longgar” sedangkan nilai-nilai lainnya yang mencerminkan semangat Kristus yang membebaskan diangkat menjadi inti dan landasan kebersamaan serta kolaborasi. Dan jika hal itu “mengganggu” kalangan tertentu dengan dalih merusak kemurnian, kebenaran atau kesalehan (sedangkan semua dogma maupun praktek spiritual yang dibela tadi tidak menyentuh, memperbaiki dan mengutuhkan kehidupan sesama), maka mungkin kita telah menemukan sejumlah penafsiran yang pada dasarnya munafik (sekaligus para penafsirnya 🤭🙏).


"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Lukas 4:18-19 (TB)  


Berkah Dalem,

FZ 趙健忠 💞

✍️☦️

#11of30 #30harimenulis


* Daud yang dikenal sebagai raja yang sangat "terobsesi" dengan menyembah Yahweh dan mengabdi kepada "kebenaran" dan nilai luhur, malah melakukan pembiaran ketika "kegagalan moral" terjadi dalam keluarganya sendiri dimana Amnon, puteranya dari Ahinoam melakukan kekerasan seksual kepada Tamar, saudari tiri-nya sendiri (puteri Daud, adik perempuan Absalom bin Daud; bdk. 2Sam 13:1,22,32) yang akhirnya memicu kebencian Absalom.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak bahwa inkarnasi Kristus merupakan solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Tuesday, March 11, 2025

ANTARA KEMUNAFIKAN DAN IMAN



'Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. 

Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. 

Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: ”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” 

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. '

Markus 8:31-34


DR. Russell Moore, pemimpin media Christianity Today menyatakan bahwa kekristenan di Amerika Serikat sedang mengalami krisis. Moore membagikan temuan di banyak tempat dari banyak rekanan gembala Gereja bahwa setelah mereka mengutip “Sabda Bahagia” atau ajaran Kristus terkait membalas kejahatan dengan kebaikan, ada saja mereka yang kemudian menanyakan, “darimana Anda memperoleh poin pemikiran ‘liberal’ semacam itu’?” Dan yang mengejutkan adalah setelah dijelaskan bahwa itu adalah ajaran Yesus sendiri, alih-alih meminta maaf, orang-orang ini akan bersikeras mengatakan hal seperti, “Itu lemah.” atau “Itu tak berlaku lagi sekarang”. (lebih lengkap, baca di sini

Fakta menarik ketika saya mulai mempelajari Injil Markus secara kritik-tekstual yakni:

1. Markus diyakini sebagai teks Injil tertua dari ketiga lainnya.

2. Markus menekankan mengenai mesias yang menderita. Memberi dorongan ketabahan jemaat mula-mula yang amat teraniaya.


Dalam nats di atas, Yesus dipotret sedang galak-galaknya, dan sebagai orang timur yang bertendensi kepo, saya terprovokasi merenungkan sebab kemarahan Yesus dan apa yang mungkin disasar-Nya dari teguran tersebut. Jika memperhatikan beberapa ayat sebelumnya, Petrus menegur Yesus saat Dia memberitakan penderitaan dan kematian-Nya (dan juga kebangkitan-Nya) yang akan datang, dan Yesus membalas Petrus dengan memanggilnya "Iblis" 🤣! (bdk. Markus 8:33)

Lupakanlah sejenak bagaimana kita dibesarkan dengan kisah Jumat Agung dan Paskah. Jika kita seorang Yahudi yang hidup di abad pertama Masehi (dimana apa yang dikisahkan dalam Injil pun belum terjadi), sangat mungkin kita tahu ajaran Judaisme tentang kebangkitan di akhir jaman, namun mendengar dari Yesus bahwa kita akan menyaksikannya, dan kita diminta percaya, ini akan sama risihnya (namun normal kala itu bagi mereka) layaknya saat Marta mengatakan yang hal sama mengenai Lazarus, saudaranya yang kala itu baru saja wafat (bdk. Yoh 11:23-26). Bayangkan betapa berbedanya reaksi Petrus dan Marta seandainya mereka berfokus pada janji kebangkitan ketimbang pada berita dan fakta kematian.

Itulah masalahnya dengan iman. Kebanyakan kita akan melalui fase "kemunafikan" sebelum iman itu dimurnikan. Kita akan mengklaim percaya A namun nyatanya berbuat B karena jauh di lubuk hati dan bawah sadar kita sejatinya meragukan A. Padahal jika Petrus menerima utuh berita sengsara Yesus, harapannya akan teguh utk kebangkitan (kapan pun itu akan terjadi), imannya pun akan mulai tumbuh dan bukan pura-pura di ada-adakan seperti Marta. Ini pun menjadi pengingat bagi kita bahwa sekadar pengetahuan akan data, iterasi akan hafalan doktrin, itu semua tidak (akan pernah) setara dengan iman. Iman akan menempatkan kita dalam dilema persimpangan dan kegentingan, lantas ia akan meminta dan menantang sebuah tanggapan.

Lantas bagaimana dengan Gereja hari ini yang terobsesi "berkat" jasmani hingga pada tahap dimana mereka yang mengalami kesulitan, kegagalan, musibah atau penyakit dinilai sebagai orang yang memiliki “cacat” moral atau hubungan yang “belum dibereskan” dengan Tuhan? Bagaimana pula dengan mereka yang membajak Sabda Yesus guna mengkafir-kafirkan atau melakukan demonizing terhadap mereka yang berbeda dan marginal, yang sadar maupun tidak menjadi bagian dalam manipulasi kesalehan ke arah politik identitas?

 

'Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. '

Yohanes 9:1-3

 

Ketika Markus 8 atau Yohanes 9 diberitakan di tempat-tempat lagu dan pujian di kumandangkan bagi “Yesus yang luar biasa” itu, akankah Yesus yang sejati namun "lemah" dan tidak “mengkriminalisasi” para penderita itu malah akan ditolak bagaikan “habis manis sepah dibuang”?

Jika "Sabda Bahagia" (Mat 5:1-12) dibacakan di tempat dimana Yesus diidentikkan dengan “Allah perkasa yang akan menghancurkan musuh-musuh-Nya”, adakah kita mencemooh Sabda Yesus sendiri sebagai "lemah" atau "liberal"?

Akankah Yesus memanggil saya "Iblis" karena mengijinkan ketakutan saya akan kematian dan ketidakpercayaan saya akan kebangkitan menjelma menjadi berhala “kekuatan dan kemakmuran” dan bahwa saya telah sujud menyebah berhala itu sambil memanggilnya “Yesus”? Akankah Kristus menghardik sikap pengecut dan munafik kita di depan umum sambil mengajar ulang orang banyak tentang bagaimana seharusnya mengenali dan mengikuti Dia?

 

Berkah Dalem

FZ 赵健忠 ☦💕🙏🌈

#10of30 #30harimenulis



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.