Efesus 4:14-15 (TB) "..sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala."
Sebagai guru piano bagi pemula, saya menyadari suatu hambatan siswa dalam menguasai sebuah lagu. Benar, kurangnya rutinitas latihan merupakan penyebab, namun kenapa? Minimnya hal2 tsb memperlambat pembentukan dua hal, yakni "memori otot" dan skill baca notasi. Mengapa keduanya penting? Memori otot memungkinkan mereka "merasakan" posisi jari dan tuts yang benar tanpa perlu (sering) melihat ke bawah (tangan). Dan karena notasi adalah aksara dan bahasa musikal, lancar membaca notasi berarti sudah sebagian dalam lancar bermain.
Tanpa keduanya kita cenderung melihat ke bawah saat bermain lalu membaca notasi, setiap mereka melakukan yang satu, yang lainnya akan dikorbankan, makin mencoba meraih kendali, makin hilang kendali. Saya menamai fenomena ini "tersesat dalam diri", karena problem ini diawali dari egosentrisme yang ingin nyaman (tidak mau latihan ekstra) dan menganggap diri lebih mampu (padahal tidak).
Merenungkan hal ini saya sadar bhw ketika Efesus 4:14 dibahas, biasanya umat, bahkan rohaniwan pula tergesa menimpali, "Oh, supaya tidak terombang-ambing dan sesat, kita perlu membaca Alkitab lebih sering, lebih serius, atau berdoa lebih banyak, atau worship lebih banyak".
Setidaknya ada beberapa problem di sini:
1. Biblika. Kita hidup dalam konteks berbeda dengan Alkitab. Membaca lebih banyak tanpa pelatihan hanya akan memaksakan proyeksi pikiran sendiri kepada teks Alkitab.
2. Teologi. Alkitab berisi "perdebatan" tentang Allah. Tanpa studi yang akuntabel, kita akan entah kebingungan atau mencoba membela konsep tertentu dengan meredam narasi lainnya.
3. Spiritualitas. Saya menyukai konsep Quadrilateral (empat sisi) dalam Metodisme. Komponen pewahyuan dalam komunitas dan tradisi Kudus menghindarkan kita dari mendalami dan "mendengarkan" Sabda secara delusional.
Dan terkait poin 3, saya pikir parameter di atas menjawab langsung terhadap isu ketersesatan dalam diri, terutama dalam bentuk delusi mendengarkan "suara Allah" dalam kasus yang ekstrem (acap kali terkait masalah kesehatan mental). Komplikasi dalam bentuk penghayatan iman yang menutup diri dari masukan dunia luar adalah suatu hal yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Sebagai contoh, pada tahun 2014, Deanna Laney, seorang Ibu asal Texas, Amerika Serikat, didakwa dengan tuduhan pembunuhan dua orang puteranya, dan 2001, Andrea Yates didakwa setelah menenggelamkan lima orang anaknya, kedua wanita ini mengaku melakukan semua itu setelah mendengarkan perintah Tuhan untuk menguji iman mereka (rujukan sumber dapat diakses di bawah).
Ilustrasi dan contoh kejadian di atas kiranya menjelaskan betapa beresikonya berteologi atau menafsirkan "apa kata Alkitab" atau "pesan Allah" sementara kita membatasi akses dunia luar dalam mengkoreksi dan menyehatkan spiritualitas kita. Entah dinilai sebagai psikosis, halusinasi, atau bahkan kekuatan super sekalipun, saya pikir adalah berdasar bagi orang-orang di sekitar kita dalam dunia yang "sekuler" ini untuk gugup ketika mendengarkan pengakuan bahwa kita "mendengarkan" pesan ilahi. Dan adalah wajar untuk menjadi konsesus yang patut dihormati bersama bahwa terlepas dari klaim iman kita, kita perlu menjamin bahwa kita tidak "membahayakan" siapapun dengan keimanan tersebut.
Jadi, mungkinkah yang dibutuhkan kerohanian kita adalah studi dan komunitas yang baik ketimbang mengunci diri "bersama Allah" lantas tersesat dalam diri sendiri?
Berkah Dalem,
FZ 趙健忠 ☦🕯✍📚🙏
#16of30 #30harimenulis
Catatan :
https://en.wikipedia.org/wiki/Deanna_Laney_murders
https://www.nbcnews.com/id/wbna4660600
https://edition.cnn.com/2007/US/law/12/11/court.archive.yates8/index.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Andrea_Yates
https://briefspro.com/casebrief/yates-v-state/
============================================================
Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...
Ternyata #kaburajadulu juga relevan dengan kisah sejarah iman.
Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?
Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?
Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?
Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..