Sunday, November 30, 2025

Adven (Saat Natal Tak Terasa Desember)










                  Yesaya 2:3,4b - "dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.. bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang."

Bacaan lainnya (Liturgi Minggu Pertama Adven): Yesaya 2:1-5; Roma 13:11-14; Matius 24:37-44 .. (Klik pula tautan ini untuk memberi dukungan dan berbagi inspirasi) 🫰🙏💕

Lagu bertema Natal klasik mengalun bergantian antara Nat King Cole, Andy Williams dan Frank Sinatra, ditemani lampu2 bercahaya hangat & lembut, aroma penganan memenuhi udara malam saat akhir pekan kami melepas lelah di sebuah kompleks niaga kuliner outdoor baru, dekat dengan rumah.

Disamping tumpukan tugas untuk dirampungkan sebelum sejenak hibernasi dalam romansa salju sintetik, cemara plastik, mainan tentara, melodi lonceng, merah & santa, minuman hangat dlm udara dingin artifisial, sejumlah tanya eksistensial akhirnya membuncah, menambah parah gelisah.

Apa ada sisa asa menggebu mendalam ketika inkarnasi, penebusan, selamat, dosa, rahmat & eskaton (hari Tuhan, kesusahan jaman) itu pun telah terdekonstruksi begitu rupa?

Maksudnya? Bersama kami yang jengah melihat praktek-praktek tak manusiawi dan hipokrit dari para "pembela iman", yang lantas (kami) malah menceburkan diri dalam studi pembacaan Kitab Suci yang kritis terhadap sejarah pembentukan tafsir, mari menelusur langkah ke belakang, ke sumber, the reason for this season, kata kaum evangelikal.

Kebanyakan kita yang sudah kronis bergereja dan stadium lanjut dalam membaca Alkitab akan menjawab pertanyaan mengapa gembira akan Natal sebagai berikut:


"Saya gembira karena Natal memperingati kedatangan Yesus ke dunia, Dia datang untuk keselamatan dunia (saya), maksudnya, Dia mengorbankan diri menggantikan saya menanggung hukuman dosa saya, supaya diampuni Allah, terhindar dari neraka dan kelak hidup selamanya di surga."

Masalahnya, berkebalikan dengan tumbuh yang harusnya ke atas bukan ke samping, penggambaran surga dan keselamatan yang vertikal eskapis (exit earth, kabur dari bumi) ala ajaran rapture disepensasionalisme, tidaklah sesuai dengan kitab Wahyu yang justru menggambarkan kepenuhan datangnya kerajaan Allah di sini, bersama kita, "bumi yang baru" (Wahyu 21:2).

Senada, Perjanjian Lama pun menubuatkan hari akhir sebagai pemulihan yang


terjadi di tengah manusia dan seluruh ciptaan dimana kejahatan berakhir selamanya (Yesaya 11:6-9). Bagaimanapun wujud kekekalan itu, ia telah dimulai dengan inkarnasi Kristus dan menuju penggenapannya hari ini dan di sini. Tapi lihatlah betapa banyak pengikut Kristus yang hari ini tidak ambil pusing dengan kerusakan tatanan sosial dan ekologi, semua lahir dari terkilirnya teologi yang melihat bumi ini sebagai dunia yang disposable. 🗑️ 

Belum lagi perkara istilah "keselamatan" dan "berkorban menggantikan" , yang dikenal

sebagai teori PSA (penal substitutionary atonement atau penebusan melalui pertukaran penanggung hukuman) yang (betapa terkejutnya saat saya memahami bahwa ia) merupakan - ya - salah satu teori atau pendekatan teologis tentang karya salib Kristus. Masing-masing mempunyai dasar biblika nya dan juga kelemahan (blind spot) masing-masing. Silakan meriset secara mandiri. Singkatnya, Dr. Jennifer Garcia-Bashaw merangkum kaleidoskop perspektif penebusan menjadi lima: Christus Victor, Satisfactory Theory, PSA, Moral Exemplary dan yang terkini, Scapegoat Theory.

Akhirnya, yang menjadi paku peti mati kenaifan terakhir bagi saya adalah telaah tentang tujuan inkarnasi. 

Yohanes 1:14a (TB) "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita"

Bagian pertama klausa di atas diambil dari teks asli Yunani kuno (koine): "και ο λογοσ σαρξ εγένετο / kai ho logos sarx egeneto", dan σαρξ "sarx" (menjadi akar istilah "sarkos" atau "sarkofagus") digunakan secara universal untuk segala yang memiliki jasad atau rupa fisik dan mengindikasikan segala yang ada di alam yang nampak, bukan hanya manusia sebagaimana biasa dirujuk menggunakan σωμα "soma" (yang menjadi akar istilah "psikosomatis"). 

Apa implikasinya? Jika Kristus turun mengambil rupa fisik dan ciptaan, tidakkan Dia turut menebus dan membebaskan segala ciptaan? Mengapa kita yang diberi kemampuan dan harkat begitu tinggi tidak menjadi penegak dari mandat ilahi pemulihan segala ciptaan tersebut, malah sebaliknya, lewat misinterpretasi ayat melahirkan teologi antroposentris (berpusat melulu pada manusia) yang bernada dominasi, beraura manipulasi dan eksploitasi nan egois & narsisistik?

Sampai titik ini, setelah perspektif "penebusan", "eskaton" dan "inkarnasi" mengalami dekonstruksi, renovasi dan renegosiasi sedemikian, semoga dapat dipahami mengapa krisis yang berubah wajah melahirkan pula harapan dan antisipasi berbeda. Sedihnya apa yang dulu nampak sebagai damai dan kebaikan, menampilkan apa yang lebih menyerupai skandal yang memilukan. Dan disinilah, meski dunia nampak gelap, kebaikan tersandera dan kebenaran terpasung, Adven menjadi "lompatan iman" yang diajukan tepat pada waktunya.

Lantas, apa masih ada teduh senandung batin tersisa bagi kita manusia tropis urban, buruh korporat ini selain alasan psikologis pragmatis di atas, yang masih dapat terkait dengan narasi "damai Natal"? 

Pertanyaan ini kian mendesak mengingat perayaan populer "Thanksgiving" yang

mendahului masa Adven juga sesuatu yang historically controversial, keturunan kaum migran yang majemuk di negeri Paman Sam dikultur-kondisikan bersyukur atas berkat, tanah, rejeki, semua yang diperoleh langsung ataupun tidak dari pengusiran serta pembersihan etnis, dari perbudakan serta diskriminasi, praktek-praktek yang lahir dari ilusi ketidakcukupan yang melahirkan keserakahan, pemerasan, pesta dan syukuran yang berdiri tegak dan tertata rapi di atas tonggak-tonggak dosa struktural yang hari-hari ini justru berjalan mundur dalam penyangkalan dan pengaburan sejarah (koq familiar dengan keadaan kesultanan konoha?)

Apakah yang bisa memberi harap hangat di tengah berita duka bencana, tirani dan trauma di mana-mana? Bagaimana merasionalisasi nikmat sajian sedangkan pramusaji dan barista yang menghidangkan mgkn menyimpan duka atau cemas utk tahun mendatang di balik rapinya seragam & senyuman yg ditugaskan? Bagaimana saya dapat pura-pura tak tahu bahwa utk kemeriahan ini, kejamnya marginalisasi pernah dan masih (akan) terjadi?

Liturgi minggu pertama adven ini merangkum confession of chaos ini menjadi harapan

serta doa profetik (kenabian). Ketika jalan ke Bethlehem demikian terjal, The God of Desember, Sang Akhir, akan tiba, kuasa berlandaskan takut, serakah, eksploitasi dan perang takkan ada lagi, suku bangsa (orang biasa, rakyat jelata) yang berjumpa Sang Sabda, akan jadi mereka yang menata dunia. Kasih akan berkumandang dan kejahatan takkan lagi memberi laba sepadan.

Roma 8:3 (TB) Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, 

Natal memang takkan terasa Desember lagi, karena Sang Akhir sedang dan akan tiba, dan Natal akan sungguh jadi kabar baik bagi semua. Dan dengan iman itu, lilin pertama Adven menyala.🕯️ 




FZ趙健忠☦️✍️🕊️📚


#73of100 #100kalimenulis #100tulisan

Iman (yang) Berandalan




Bilangan 12:1-2

Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush .

Kata mereka : "Sungguhkah TUHAN berfirman dgn perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.


Serial "Dark Justice" yg populer 30 thn silam berkisah tentang seorang hakim yang beraksi sebagai eksekutor gelap, dilatari oleh tragedi yg merenggut keluarganya, sang hakim tak lagi percaya pada struktur & sistem peradilan. Dan hingga kini vigilante justice (keadilan melalui balas dendam) berlatar trauma menjadi tema yg populer dlm sastra & hiburan, sebut saja komik Punisher, Batman atau V for Vendetta yg kemudian diadaptasi pula menjadi film layar lebar ternama.


Tulisan ini terinspirasi post seorang pengkhotbah evangelical kulit putih (perempuan lagi) yang bicara soal "Jangan malu menyebut minoritas orientasi tertentu (LGBTQ) sbg dosa", bagaimana ia gencar mempromosikan "nilai2 Kristiani" & "kembali menjadi lebih alkitabiah", namun secara bersamaan tutup telinga terhadap klarifikasi banyak gembala & cendikia perihal ambiguitas teks Alkitab soal orientasi & gender jika diproyeksikan secara paksa pada mindset postmodern, belum lagi soal standar ganda dalam menggunakan ayat-ayat sebagai senjata politik, kemunafikan dan SKANDAL baik keuangan maupun pelecehan dlm lingkar komunitas yang sealiran dengannya sendiri.


Dan tak ayal saya mengingat kutipan Thomas E. Bergler dlm buku "Reformasi Liturgi" 📚 :

" Juvenilization (pemberandalan) adalah kondisi dimana keyakinan religius, praktek spiritual & karakteristik perkembangan anak2 akhil balik diterima & dijalankan oleh org2 Kristen segala usia. Apa yg awalnya mulia sbg upaya merelevansikan iman bagi orang2 muda, bermuara menjadi masalah saat baik jemaat yg tua & muda sama2 memeluk versi iman yg TIDAK DEWASA."


Problematika ini juga mengundang tanya saat saya membaca kisah Bilangan 12. Jika poligami sama sekali bukan masalah dalam dunia Timur Tengah kuno (bandingkan dengan Abraham, Yakub, Daud dan Salomo), maka apa yang membuat Miriam & Harun mencemooh Musa bahkan hendak melengserkannya? Ingat, jika Musa adalah manusia paling mulia dlm sejarah iman Yahudi, maka Harun adalah leluhur semua imam dan Miryam adalah ibu segala kaum pujangga dan pemuji! Lantas apa yg menjadi "jebakan" yang membuat mereka yang amat spiritual ini membangkitkan amarah Allah? (Bdk. Bil 12:9)  


Mari kita lihat "Kush" lebih dekat dlm lintas narasi PL, apa/siapakah dia?

1. Kush adalah keturunan Ham, anak Nuh yg dikutuk krn melihat ketelanjangan ayahnya saat mabuk. Ham adalah simbol imoralitas. 

  1 Tawarikh 1:8 (TB) Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan.

2. Keturunan Kush melahirkan Nimrod dan Misraim (nama lain dari "Mesir"/mitsrayma (מִצְרָיְמָה) yg menggambarkan kekuasaan penindas. 

   Kejadian 10:8 (TB) Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi;.. 

   1 Tawarikh 1:8 (TB) Keturunan Ham ialah Kush, *Misraim*(מִצְרָיִם) , Put dan *Kanaan* .

Dalam penuturan bernada mitologis-etiologis PL, Kanaan dinarasikan sebagai musuh bukan semata krn kejahatan atau budaya mrk mempersembahkan anak-anak kepada dewa-dewi (krn semua bangsa lain kala itu melakukan yg sama) namun pemusnahan Kanaan adalah krn narasi ini, mereka dianggap keturunan terkutuk dan karenanya pasti jahat dan akan mempengaruhi Israel utk berbuat yg jahat di mata Tuhan. Namun benarkah cara membaca Alkitab yang demikian? Atau jika ia "Alkitabiah" apakah ia juga Kristiani?


Jika Kush, Kanaan dan Misraim dipotret lewat lensa trauma perbudakan sebagai entitas anti Yahweh, lantas adakah kisah kudeta Miriam & Harun menjadi paralel kita hari ini perihal trauma komunitas yg lantas melahirkan normalisasi penyangkalan harkat manusia thdp mereka yg Liyan/berbeda saat berhadapan dengan suku, agama, pandangan politik atau bahkan orientasi yang berbeda?


Mengapa mengkaitkan ini dgn fundamentalisme & "keberandalan" iman? 

Karena mengkritisi pembacaan Bilangan 12, melihat "Kush" sbg identitas termarginalisasi yg justru dibela Kristus & direngkuh dlm sejarah Gereja, ini dimungkinkan jika sementara keberandalan sbg respon alami pertumbuhan thdp trauma perlu didengar, ia wajib pula mendengarkan חוצפה ומדרש "khutzpa & midrash" (debat & penggalian) narasi PL & PB sepanjang jaman.

Sementara semangat kembali ke penghayatan iman yg "murni" itu baik, kita perlu mengkritisi apa itu "baik" dan apakah "kebenaran" Firman itu bertumpu kepada penafsiran yg dpt dipertanggungjawabkan, tidak menghancurkan harkat kemanusiaan golongan manapun, sekaligus sesuai dgn hasrat Yesus yg merangkul perempuan Samaria yg "sesat", menyatakan selamat Zahkeus yg "bejat", Petrus yg menginjili Kornelius, penjajah yg "kafir" atau Filipus yg membaptis Sida-sida Etiopia yg dikebiri sejak kecil demi tugas istana dan alhasil menjadi Queer & ambigu gender nya seumur hidup?


Dari sesama BERANDALAN 🤟 


FZ趙健忠 ☦️✍️


#72of100 #100kalimenulis

Friday, November 28, 2025

Alkitab sebagai Tulisan Para Penyintas


Rekan2 terkasih, berikut salinan/terjemahan dari "Purpose Statement" yang saya susun sebagai persyaratan beasiswa penuh di Garrett Evangelical Theological Seminary, (GETS) Evanston, Illinois, US (program online pascasarjana studi teologia, fokus Perjanjian Lama & sastra Ibrani kuno).

Berhubung informasi dari salah satu sponsor & sahabat saya Ps. Finki Kantohe, M.Th., mengenai warna pendidikan di GETS yang mengadvokasi pluralitas dan kesetaraan, saya memanfatkan "tantangan administrasi" tersebut sebagai peluang untuk berbagi kisah hidup dlm menavigasikan keberadaan sebagai minoritas baik agama maupun suku & bgmn semua itu menuntun saya pada hasrat mendalam menggali kitab suci dlm konteks sastra purba nya dan menemukan di dalam nya berita anugerah, kesembuhan dari trauma komunitas & generasional, serta pesan keadilan bagi semua.

Kiranya menjadi berkat & inspirasi .. 


Berkah Dalem 

FZ ✍️📚☦️🌈 


================


Menjadi seorang Kristen Indonesia keturunan Tionghoa merupakan sebuah tantangan besar yang darinya kisah unik saya dibentuk dan dinarasikan.

Lahir sebagai anak sulung dari dua putra orang tua "peranakan" yang beremigrasi dari Kalimantan Barat ke Jakarta, saya turut merasakan trauma generasi dan komunitas mereka. Dari pengalaman mereka menghadapi kekerasan militer selama konfrontasi Indonesia-Malaysia, juga penutupan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa secara nasional pada tahun 1960-an, keluarga kecil kami yang bertahan & tumbuh di bawah diskriminasi selama beberapa dekade harus terancam lagi oleh kerusuhan sipil tahun 1998 dan beberapa "riak" di masa sesudahnya.

Propaganda yang bermuatan rasial, kerusuhan yang dihasut yang menargetkan bisnis dan tempat tinggal kaum peranakan, stereotip kesenjangan sosial, atau dikaitkan dengan komunisme, kami telah berhasil menjalani kehidupan kelas menengah urban sambil membawa kesadaran ini, menavigasi prasangka dan marginalisasi (peminggiran).

Setelah mengalami semua hal di atas, secara retrospektif (napak tilas), ada rasa bangga yang mendasari. Sebagai peranakan Kristen, kami telah dianiaya karena ras dan iman kami, dan saya kira itulah salah satu alasan mengapa iman dan kisah Kristus selalu menjadi titik fokus yang signifikan dari mana kisah-kisah saya dibingkai ulang, dan bagaimana transformasi teologis saya dipertanggungjawabkan. Dan demikianlah saya akan berbagi keyakinan dan nilai-nilai saya, secara retrospektif.


Saya percaya akan kesucian perjalanan rohani setiap orang.

Warisan Iman Katolik Roma saya dan perjalanan menghayati pentekostalisme, lantas menemukan & meninggalkan sejumlah keyakinan Injili pascamoderen utk lantas kembali menghargai tradisi asal saya sekaligus merengkuh "Wesleyan quadrilateral" (4 pondasi Iman menurut Metodisme), semua ini akan dipermasalahkan oleh pemahaman keselamatan yang tertutup, namun tetaplah menjadi perenungan atas sejarah penafsiran kita, sebuah mikrokosmos dimana Allah berkarya.

Dulu saya berpikir bahwa sikap "on edge" (siaga & tegang) adalah satu2nya cara menghadapi masalah beragama di Indonesia, dimana kami kaum nasrani mengkhawatirkan terbentuknya negara Islam, sdgkn faksi2 lain yg kerap mengklaim mewakili seluruh umat Muslim merasa terancam dengan narasi "kristenisasi" (gerakan mengubah kepercayaan mereka menjadi Kristiani).[1]

Namun seiring membuka diri terhadap diskursus/wacana universalisme Kristiani & beriman dalam kemasyarakatan yg majemuk, saya tak hanya menerima namun juga menumbuhkan kepedulian yang tulus terhadap para mitra & kolega Muslim serta mereka dari latar keyakinan beragam. Sejak itulah saya belajar menjumpai Allah melalui mereka.


Bersedia hidup dalam paradoks atau "ketegangan" Iman.

Usaha obsesif saya akan pengejaran teologis & biblika takkan membawa "kehidupan" tanpa suatu imajinasi "apofatik" (Allah yang dikenal bukan krn pernyataan-Nya yg dikumandangkan, namun krn karya-Nya yang misterius & melampaui kemampupahaman, apofatik adalah lawan dari "katafatik" sebagaimana dominan dalam kekristenan Barat, mengenal Allah melalui pernyataan Allah dan menelusuri apa yang bisa kita temukan dan pahami darinya).

Dukacita karena kehilangan ibunda tercinta oleh sakit yang mendadak, kegagalan karier, pergumulan keuangan, didiagnosa dengan kondisi saluran cerna yg menakutkan, prahara hidup dan kesan "chaos" telah mengajarkan bahwa menolak merengkuh misteri justru melemahkan iman. 

Saya menemukan bahwa perjumpaan dengan Allah lewat kerentanan bahkan ketidakberdayaan, justru menjadi contoh indah akan apa yang kerap didengungkan oleh para penganut Kristen konservatif, "jangan membatasi Allah".


Saya menghargai kejujuran akademis, data, dialog, literasi teologis, dan studi Alkitab ketimbang apologetika dogmatisme buta & indoktrinasi.

Pengalaman menemukan narasi alternatif dalam berdialog dengan tafsir arus utama, dan kemudian dikucilkan oleh komunitas gereja yg pernah saya anggap sbg "rumah", menunjukkan adanya rasa insecure (tidak aman), ajaran yg dipengaruhi trauma, penginjilan yg narsistik-pragmatis, dan bagaimana fundamentalisme menyekap para penganutnya dalam "gelembung-gelembung" klaim kebenaran yang terisolasi serta iman yang berbasis pada (manipulasi) ketakutan dan/atau rasa malu. 

Saya menghasrati tugas "sederhana" ini, menyebarkan kesadaran bahwa apa yg kita rasakan & ketahui tentang Tuhan sejatinya adalah diri kita sendiri yg sedang berteologi, dan itu tidak masalah (karena Allah pun berkarya di dalamnya). Justru berpikir secara  dikotomis bahwa pewahyuan akan meniadakan inisiatif dan "agency" (jatidiri, kemampukaryaan) kita atau bahwa kita dapat berpikir dan mengindera "di luar" Allah menjadi sebuah konsep bermasalah.


Saya percaya bahwa pertobatan paling baik dilakukan melalui pendidikan.

Mempertimbangkan pendapat & hikmat orang lain di atas pendapat kita sendiri lebih penting daripada sekadar benar secara legal.

Saya percaya bahwa etos kemauan untuk terus belajar adalah lokus (tempat) di mana kita bertemu Tuhan, yang merupakan "Sang Yang Sepenuhnya Berbeda" secara utuh, dan pada gilirannya, "kelainan" (otherness) membantu kita dalam perenungan dan penemuan jatidiri. Lagipula, John Calvin pernah menuliskan, "mengenal Tuhan dan mengenal diri sendiri terikat oleh hubungan timbal balik".


Keadilan rasial dan sosial memiliki tempat khusus di hati saya.

Karena pernah mengalami diskriminasi rasial & sosial, Imamat 19:34 dan Ulangan 24:18 (tentang perintah Allah lewat Musa tentang bgmn memperlakukan budak & orang asing secara manusiawi), adalah pengingat tujuan mengapa saya berteologi. 

Setelah memahami bahwa Alkitab ditulis melalui pengalaman mereka yg menjadi korban penindasan di mana "pelanggaran perjanjian" terus-menerus & secara konsisten berbicara tentang penyalahgunaan hak istimewa terhadap sesama "imago dei" (gambar Allah) sama parahnya dengan praktik non-Yahwistik, saya menjadi semakin yakin bahwa studi Alkitab yang kritis & pengajaran Kristen yang sehat harus terus-menerus menantang kekuasaan di luar dan di dalam Gereja melalui pesan pembebasan dari Injil.


Saya percaya bahwa kesaksian iman Kristen kita harus memberdayakan kita untuk mengasihi dengan lebih berani.

Kisah Orang Samaria yg Baik Hati, Perempuan Samaria, Kornelius, dan Sida-sida Etiopia telah memberikan kita dasar teologis yg berlimpah di mana kita sebagai orang beriman tidak sepantasnya melihat ekspresi keanehan (queerness) sebagai alasan untuk tidak menunjukkan kasih karunia & kemurahan hati.



Lantas, Mengapa Program MTS Alkitab Ibrani di Garrett?


Saya tumbuh besar tanpa tahu apa yang orang lakukan di "Sekolah Alkitab"; saya berasumsi bahwa seminari membantu "menghubungkan titik-titik" antar ayat-ayat Alkitab untuk berkhotbah. Namun, secara samar benak ini bertanya, 

"Jika saya sudah memercayai apa yang saya percayai, lalu apa peranan mereka yg berpendidikan Alkitab lebih tinggi terhadap iman orang saya?"


Saya lantas mulai berminat mempelajari bahasa Ibrani modern. Saya jatuh cinta dengan "berperilaku gramatikal" bahasa ini terutama konsep "shoresh" שורש (akar) dan penyatuan ide dalam satu akar tertentu.


Ketika saya mulai memandang Alkitab sebagai literatur kuno, saya menjadi tertarik pada bagaimana Alkitab berdialog dengan budaya yang lebih luas pada masa itu maupun dengan tulisan-tulisan eksternal lainnya.

Salah satu temuan awal saya adalah tentang pengaruh Apokrifa (kitab Deuterokanonika) terhadap ajaran Yesus tentang "menyimpan harta di surga" (Mat 6:19-21).

Temuan saya berikutnya adalah "Perpetual Shalom: Elisha’s Gift to Naaman", karya Dr. Walter Brueggemann. Kemudian, sebuah jurnal tentang diskusi Talmud tentang disabilitas oleh Rabbi Julia Watts-Belser.[2]

Saya menyadari bahwa kekuatan hermeneutika (penafsiran), bukan sekadar perkakas atau senjata untuk berargumen, melainkan adalah cermin yang melaluinya kita merefleksikan cara hidup yang lebih menyerupai Kristus.

Selanjutnya, seorang teman merekomendasikan "The Bible Tells Me So"[3] oleh Dr. Peter Enns, yang menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana mitos kuno dan epos berdialog dan menginformasikan sejarah umat Tuhan.

Meskipun banyak yang tersinggung dan menganggap studi biblika sebagai ancaman terhadap pelestarian iman, telah menjadi keinginan dan obsesi saya bahwa bergabung dengan program MTS – Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) akan memberdayakan saya untuk, pada gilirannya, membantu siapa saja yang menghargai Alkitab agar lebih tersentuh secara mendalam oleh penyajian (penuturan) dan keindahan linguistiknya (kebahasaannya).



Referensi :

1. Lakawa, Septemmy E. 2022. Kemurahhatian dan Trauma (Generosity and Trauma). 31-32. BPK Gunung Mulia.

2. Belser, Julia. (2011). Reading Talmudic Bodies: Disability, Narrative, and the Gaze in Rabbinic Judaism.10.1057/9780230339491_1.

3. Enns, Peter. 2014. The Bible Tells Me So: Why Defending Scripture Has Made Us Unable to Read It. Harper Collins.

Thursday, April 3, 2025

LITERASI VS FUNDAMENTALISME



Matius 10:39 (TB)  Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.


Minggu ini saya dikejutkan dengan ulasan sebuah akun edukasi medsos mengenai John Calvin. Dikatakan di sana bahwa banyak orang keliru memahami pemikiran Calvin terkait keselamatan, Gereja, dan lembaga publik. Eksklusivisme teologinya diduga membuat banyak orang mencoba "memastikan" keselamatan atau "keterpilihan" mereka dengan segala cara untuk meraih status hidup yang dipersepsikan sebagai "tanda" keterpilihan atau "perkenanan" Allah. Dpt diterka bahwa status yang d mksd adalah keunggulan posisi sosial, kekayaan, kekuatan politik dll dengan mengorbankan belas kasih, kejujuran dan nilai luhur lainnya yang justru diwartakan oleh Kristus dan Gereja-Nya sepanjang jaman. Uniknya, disonansi dan distorsi ini acap kali diresponi dalam dua ekstrem yang bertolak belakang dan sama kuatnya. Di satu sisi pemikiran yang terlanjur "mainstream" mengenai Kalvinisme melahirkan antipati sementara kalangan lainnya mendukung dan meyakininya sebagai cara yang terbaik dalam memandang Sabda Allah dan pesan Injil.*

Klarifikasi dilanjutkan bahwa justru Calvin merumuskan pemikiran dan teologinya tak lepas dari peran dan kesadarannya sebagai baik teolog dan pejabat publik. Calvin menekankan kepatuhan pada lembaga negara namun pula memberi "legitimasi" resistensi bagi Gereja ketika penguasa tidak lg amanah thdp kebaikan orang banyak, dan lagi, Calvinisme tak hanya melulu soal imaginative post-mortem soteriology (konsep keselamatan pasca-kematian yang imajinatif).

Terkait hal ini, seorang sahabat pun acung jempol pada konten tersebut, bahwa mereka yang belajar dengan kritis akan membedah Calvin dengan sudut pandang yang berbeda. Dalam kekagetan, I can't agree more, bagaimana tidak, selama ini konten-konten emosional dan combative berhasil meyakinkan saya seolah Kalvinisme hanya soal predestinasi, innerancy dan TULIP (padahal innerancy adalah "produk" Chicago Faith Statement besutan SBC 1978, dipertahankan secara literatur oleh figur-figur evangelikal spt Al Mohler, William Lane Craig dkk, dan TULIP adalah interpretasi atas Calvin, bukan originally Calvin's).

Dan dalam analogi yang mirip mungkin rekan dan sahabat saya para pengajar dan pembicara Katolik banyak yang tidak mengenal sosok dan kontribusi Rm (alm.) Hans Küng baik buku, karier akademik, maupun pelayanan konsultasi teologisnya semasa Konsili Vatikan II. Para aktivis persekutuan yang "latah" dan kurang kritis menyerap fundamentalisme evangelikal akan kaget ketika Küng, kakak kelas Kardinal Ratzinger alm. (yang kemudian terpilih sebagai Paus Benediktus XVI) ini justru amat mendukung dialog setara antar-agama.

Maka sambil membaca kembali Matius 10:39, apakah teologi "mempertahankan nyawa" tengah menjadikan the untold story of Calvin & Hans Küng sebagai minority report? 🤔


Berkah Dalem 

FZ 趙健忠 ☦✍📚✍

#17of30 #30harimenulis



* Dalam lingkaran fundamentalisme tertentu seperti gereja-gereja independent baptists maupun southern baptist di Amerika Serikat, maupun komunitas-komunitas secara global yang secara sadar maupun tidak mengadopsi dogmatika mereka, 

Wednesday, March 26, 2025

TERSESAT DALAM DIRI


Efesus 4:14-15 (TB) "..sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala."

Sebagai guru piano bagi pemula, saya menyadari suatu hambatan siswa dalam menguasai sebuah lagu. Benar, kurangnya rutinitas latihan merupakan penyebab, namun kenapa? Minimnya hal2 tsb memperlambat pembentukan dua hal, yakni "memori otot" dan skill baca notasi. Mengapa keduanya penting? Memori otot memungkinkan mereka "merasakan" posisi jari dan tuts yang benar tanpa perlu (sering) melihat ke bawah (tangan). Dan karena notasi adalah aksara dan bahasa musikal, lancar membaca notasi berarti sudah sebagian dalam lancar bermain.

Tanpa keduanya kita cenderung melihat ke bawah saat bermain lalu membaca notasi, setiap mereka melakukan yang satu, yang lainnya akan dikorbankan, makin mencoba meraih kendali, makin hilang kendali. Saya menamai fenomena ini "tersesat dalam diri", karena problem ini diawali dari egosentrisme yang ingin nyaman (tidak mau latihan ekstra) dan menganggap diri lebih mampu (padahal tidak).

Merenungkan hal ini saya sadar bhw ketika Efesus 4:14 dibahas, biasanya umat, bahkan rohaniwan pula tergesa menimpali, "Oh, supaya tidak terombang-ambing dan sesat, kita perlu membaca Alkitab lebih sering, lebih serius, atau berdoa lebih banyak, atau worship lebih banyak".

Setidaknya ada beberapa problem di sini:

1. Biblika. Kita hidup dalam konteks berbeda dengan Alkitab. Membaca lebih banyak tanpa pelatihan hanya akan memaksakan proyeksi pikiran sendiri kepada teks Alkitab.

2. Teologi. Alkitab berisi "perdebatan" tentang Allah. Tanpa studi yang akuntabel, kita akan entah kebingungan atau mencoba membela konsep tertentu dengan meredam narasi lainnya.

3. Spiritualitas. Saya menyukai konsep Quadrilateral (empat sisi) dalam Metodisme. Komponen pewahyuan dalam komunitas dan tradisi Kudus menghindarkan kita dari mendalami dan "mendengarkan" Sabda secara delusional.

Dan terkait poin 3, saya pikir parameter di atas menjawab langsung terhadap isu ketersesatan dalam diri, terutama dalam bentuk delusi mendengarkan "suara Allah" dalam kasus yang ekstrem (acap kali terkait masalah kesehatan mental). Komplikasi dalam bentuk penghayatan iman yang menutup diri dari masukan dunia luar adalah suatu hal yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Sebagai contoh, pada tahun 2014, Deanna Laney, seorang Ibu asal Texas, Amerika Serikat, didakwa dengan tuduhan pembunuhan dua orang puteranya, dan 2001, Andrea Yates didakwa setelah menenggelamkan lima orang anaknya, kedua wanita ini mengaku melakukan semua itu setelah mendengarkan perintah Tuhan untuk menguji iman mereka (rujukan sumber dapat diakses di bawah).

Ilustrasi dan contoh kejadian di atas kiranya menjelaskan betapa beresikonya berteologi atau menafsirkan "apa kata Alkitab" atau "pesan Allah" sementara kita membatasi akses dunia luar dalam mengkoreksi dan menyehatkan spiritualitas kita. Entah dinilai sebagai psikosis, halusinasi, atau bahkan kekuatan super sekalipun, saya pikir adalah berdasar bagi orang-orang di sekitar kita dalam dunia yang "sekuler" ini untuk gugup ketika mendengarkan pengakuan bahwa kita "mendengarkan" pesan ilahi. Dan adalah wajar untuk menjadi konsesus yang patut dihormati bersama bahwa terlepas dari klaim iman kita, kita perlu menjamin bahwa kita tidak "membahayakan" siapapun dengan keimanan tersebut.

Jadi, mungkinkah yang dibutuhkan kerohanian kita adalah studi dan komunitas yang baik ketimbang mengunci diri "bersama Allah" lantas tersesat dalam diri sendiri?


Berkah Dalem,

FZ 趙健忠 ☦🕯✍📚🙏

#16of30 #30harimenulis


Catatan :

https://en.wikipedia.org/wiki/Deanna_Laney_murders

https://www.goupstate.com/story/news/2004/04/04/mother-who-stoned-two-sons-to-death-acquitted-of-charges/29712906007/

https://www.nbcnews.com/id/wbna4660600

https://edition.cnn.com/2007/US/law/12/11/court.archive.yates8/index.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Andrea_Yates

https://briefspro.com/casebrief/yates-v-state/

============================================================


Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana jika kasih dan keberpihakan Yesus yang "ekstrem" menyinggung kekristenan kita? Apa Yesus harus mengikuti sesi terapi?

Ternyata #kaburajadulu juga relevan dengan kisah sejarah iman.

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Sunday, March 23, 2025

IT'S OK THAT'S LOVE




Matius 22:39b (TB)

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."


Beberapa tahun silam sering muncul narasi dari mimbar Gereja kurang lebih demikian, "Tahu tidak kenapa sekarang Kekristenan di Korea (Selatan) lesu? Karena orang-orang mudanya lebih memilih jadi artis ketimbang melayani Tuhan." Terlepas dari apakah pernyataan tersebut didukung data statistik ataukah sekadar christian clickbait, entah mengapa tagline tersebut kembali terngiang di benak saya namun dengan "menyeret" pula memori akan serial K-Drama yg pertama kali saya tonton.

Serial TV 괜찮아, 사랑이야 "Gwaenchanha Sharangiya" (It's OK, That's Love) ternyata berhasil memenangkan banyak penghargaan baik sinema maupun musikal sekitar periode 2014 sampai 2016. Tak heran sejak itu, saya amat pilih-pilih dalam menyaksikan serial serupa karena baik dari aspek akting maupun script & plot-nya menurut saya serial ini telah menetapkan standar yang di atas rata-rata dalam pemahaman saya tentang sebuah K-Drama yang layak menyita waktu dan perhatian. (Spoiler warning - Mature content) ⚠ 

Berkisah tentang novelis sukses yang berpapasan kisah dengan seorang dokter spesialis kejiwaan yang berlanjut dengan permusuhan namun perlahan menjadi romansa, amat basic kedengarannya. Kisah lantas bergulir, nampak bahwa tiap karakter (bahkan karakter pendukung) mengalami kondisi kejiwaan bervariasi terkait masa lalu mereka. Tourette Syndrome, OCD hingga schizophrenia, kasus-kasus digambarkan dengan dramatis, manusiawi, immersive dan intim. Kisah diakhiri dengan bagaimana cinta kasih yang memberi ruang serta kepercayaan memungkinkan kesembuhan dan hidup yang lebih baik.

Pasca serangkaian peristiwa traumatis dalam dekade tersebut, serial ini nampak memberi ruang regulasi dan recovery lebih luas bagi saya secara pribadi. Sayangnya saya tidak dapat mengatakan hal serupa terkait oknum dan/atau komunitas spiritual yang pernah seperjalanan yang kemungkinan besar ada pada posisi mengkritik pop culture dengan prasangka dan secara tidak berimbang.

Terinspirasi pengalaman di atas, saya mencoba menggarisbawahi realita kontradiksi teks kitab suci, narasi anti-empati dalam lingkaran religi fundamentalis hari-hari ini dan membandingkannya dengan posisi Kristus. Apakah kasih itu pada hakekatnya tanpa batas, tanpa aturan dan tanpa konsekuensi?

Yesus yang menggenapi Taurat (Mat 5:17-18), namun juga memberi "Perintah Baru" (Yoh 13:34). Yesus yang mencegah hukuman mati (Yoh 8:7) juga adalah Pribadi yang keras terhadap dusta, apalagi ketika dusta, kemunafikan dan korupsi itu menyakiti harkat hidup mereka yang rentan dan tak mampu bersuara (Luk 17:2). Sambil sama-sama berdebat dengan para pemuka agama dan menyinggung Taurat yang sama dan Nabi Musa yang sama, Dia melonggarkan aturan Sabat (Mrk 2:23-27) namun sekaligus keras melarang perceraian (Mrk 10), yang mana ketika kita kritisi secara mendalam, larangan itu Ia utarakan semata mengingat wanita kala itu rentan terhadap kemiskinan jika bercerai dan dengan memanfaatkan "celah" Taurat, seorang pria dapat menceraikan istrinya dengan alasan paling konyol sekalipun.*

Hari ini, ketika korupsi dan penindasan dibiarkan atau dibela dengan alasan yang tak kalah konyolnya, sementara kemurahan yang tak seberapa namun dapat mengubah atau bahkan mempertahankan hidup malah dicemooh, Yesus tidak berpihak pada dikotomi yang kaku dan naif antara legalisme, liberalisme atau anarkisme, Yesus berfokus dan lebih tertarik membela yg lemah dan rentan, bagaimanapun pendekatannya. Bagi-Nya, it's OK, that's love.


Berkah Dalem

FZ 趙健忠 🌺🌈💕☦✍🙏

#15of30 #30harimenulis



Catatan tambahan :

Terkait ketidakadilan dalam hukum perceraian Yudaisme kuno

Dalam periode "Bait Suci Kedua", hukum agama Yahudi (sebagaimana ditafsirkan oleh golongan Farisi) mengijinkan para pria untuk menceraikan istri mereka berdasarkan kitab Ulangan 24:1 yang berbunyi: 

”Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya"

Golongan (pengikut rabi) Shammai memiliki pandangan yang lebih ketat sehingga perceraian hanya diperbolehkan dalam kasus pelanggaran yang serius, sementara kelompok rabi Hillel mengijinkan perceraian bahkan untuk alasan remeh seperti masakan yang tidak enak. Perdebatan ini dibukukan dalam literatur rabinik seperti Mishna dan Talmud.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Ternyata #kaburajadulu juga relevan dengan kisah sejarah iman.

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Wednesday, March 19, 2025

#KABURAJADULU

Narasi Perlawanan terhadap Manipulasi Ketaatan Iman dan Patriotisme

 


Kecuali Anda bersembunyi setahun ini dalam gua, Anda tentu mengetahui tagar yang sempat populer ini. Dilandasi kekecewaan dan kegelisahan sebagian kalangan terkait kondisi pendidikan, lapangan kerja, moneter, polkam dan kepastian hukum, sejumlah orang mengajak masyarakat utk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.

Terlepas bagaimana kita memaknai #kaburajadulu, kita melihat bentangan sejarah manusia yang diwarnai migrasi dan eksodus. Ada yang dilakukan dalam kondisi baik dan terencana seperti dalam kondisi damai utk perbaikan karier dan kesejahteraan, ataupun dilakukan mendadak dalam situasi genting mencekam seperti dalam skenario persekusi atau perang.

Saya pun kerap berusaha menginternalisasi apa maknanya menjadi Tionghoa-Indonesia, sebuah generasi dan demografi yang lahir dari pendahulu yang beberapa kali meninggalkan kenyamanan "rumah" utk sejenak terlunta-lunta ke tempat yang jauh demi hidup yang lebih sejahtera, bahkan agar tetap hidup dan merdeka.

Di sisi spiritual, saya merasa terhormat dan terinspirasi karena warisan sejuta kebijaksanaan dari leluhur kami dalam iman, yang mengungsi karena kekeringan dan kelaparan (bdk. Kej 42-46), lari dari perbudakan (bdk. Kel 13), melintasi belantara ganas saat hendak kembali ke tanah terjanji, lalu melintasinya kembali saat dibawa paksa sebagai tawanan kerajaan.

Tanpa sadar tema besar "menjadi musafir di bumi sekaligus duta kerajaan mendatang" mungkin juga terpatri lewat pengembaraan keluarga kudus dan Gereja perdana yang terpencar oleh tangan besi emporium Romawi ke berbagai benua, mengikuti eksodus pasca penghancuran Yerusalem tahun 72 Masehi. Selalu ada heroisme, epos, misi, panggilan dan kehadiran Allah di tiap pedih dan gamangnya pelarian jiwa-jiwa yang membentuk DNA spiritual dan melahirkan raga kami hari ini.*

Dulu lewat lensa "umat teraniaya", saya bersimpati kepada mereka yang lari pasca tragedi 1965, 1998, dan seterusnya, karena memang emporium lama tidak memberi pengayoman sebagaimana harapan dan kebutuhan, sementara mengekstraksi kepatuhan dan jerih lelah rakyat yang nyaris semua dalam rentang kurun waktu puluhan ribu tahun di Nusantara pada hakikatnya adalah pendatang. Hari ini saya kembali melihat mereka yang #kaburajadulu dari konoha atau dari korporasi dan/atau gereja yang toxic dan manipulatif, para pengungsi ini menyandang martabat dan lencana perlawanan Kristus terhadap tangan-tangan antikris, struktur-struktur high controlling serupa sekte atau bahkan kamp konsentrasi, penindas yang lemah dan rentan.

 

Salam, para musafir. Kiranya Tuhan besertamu. 💕

 

Berkah Dalem

FZ 趙健忠 ☦🕯✍☦🙏

#14of30 #30harimenulis

 

 

Catatan :

*Kisah Para Rasul dan tulisan Bapa Gereja seperti Tertulianus menyebutkan bahwa darah para martir dan penganiayaan menjadi benih bagi tumbuh dan penyebaran Gereja. Penganiayaan besar dalam era pemerintahan Kaisar Nero dan Deokletianus memaksa gereja perdana untuk menyebar dan mendirikan komunitas-komunitas baru di daerah asing.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Bagaimana jika ternyata misteri dan kebesaran Allah tidak menakutkan dan menghancurkan, namun membebaskan dan menghidupkan?

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Tuesday, March 18, 2025

MEMANDANG MISTERI



Mazmur 17:15 - Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu. 

Suatu kali seorang teman meminta saya merekamnya menyanyikan sebuah lagu rohani. Agak terkejut ketika ia meminta agar kalimat lirik yg berbunyi "lihat wajah-Mu" diganti. "Ngaco ini liriknya, mana bisa kita melihat wajah Allah yg Kudus? Ga ada yg sanggup, bisa mati kita," tukasnya dgn serius & percaya diri. Demikian uniknya, pengalaman tersebut masih teringat jelas sampai hari ini.


Saya paham bahwa mungkin dia memakai referensi ini:


Keluaran 33:20 (TB) Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."

Atau, mungkin ini :

Wahyu 1:13-18 (TB) "Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. 

Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.  

Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.  

Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut."

Namun bagaimana dengan Mazmur 17:15 tadi, dimana pemazmur berhasrat memandang wajah Allah yang sama yang menjumpai Musa dalam Keluaran 33:20 di gunung Sinai? Perlu dicatat bahwa Kel 33:11a menyatakan, "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya;". Dan ya, baik ayat 11 maupun 21 dalam Keluaran 33 menggunakan kata יַהוְה YHWH (tetragrammaton, "Adonai") untuk "TUHAN" dan פַּנִים "panim" untuk "wajah".

Don't get me wrong. Saya tidak menyiratkan bahwa sikap tak hormat kepada Allah adalah tindakan yang dapat diterima. Hanya saja, kontradiksi mengenai konsekuensi memandang "wajah" Allah dalam teks-teks tersebut (jika dimaknai literal) jelas ada. Belum lagi polemik apakah Allah memiliki fisiologi manusia, lantas apa makna "gambar & rupa" dalam kitab Kejadian dan apa maknanya kita serupa dengan Allah.

Lantas bagaimana memaknai Alkitab sebagai Firman Allah? Kapan kita membaca secara teks secara literal apa adanya, kapan secara alegorikal (perumpamaan)? Kapan ia bicara tentang realitas fisik, dan di mana ia bicara perkara rohani? Apa makna yang lebih dalam saat Allah digambarkan secara "antropomorfik" (dianalogikan dengan fitur-fitur fisik atau intelektual khas manusia)? Makin seru bukan?


Dari contoh ini kita dpt berefleksi bhw:

1. Suka tidak suka, sadar maupun tidak, kita tidak mungkin lepas dari yang namanya berteologi (teos = Tuhan, logia = ilmu, pemikiran), menyangkali teologi sama dengan merendahkan karunia intelegensia yang Allah berikan pada setiap kita (bdk. Ul 6:5; Mat 22:37).

2. Teologi yang sehat tidak dapat dibangun secara "sporadis" berdasarkan ayat atau narasi tertentu saja. Memang kita tak dapat menghindari proteksi mental kita terhadap cara kita menafsirkan apa kata Alkitab, namun metodologi yang akuntabel tak dapat pula dikorbankan atas nama "kesan dan ilham" dari Roh Kudus (bdk. 2Tim1:7).

3. Alkitab tidak ditulis sebagai buku bertuah yg tabu didiskusikan, karena ia pun merupakan koleksi polemik tentang Allah.

4. Allah menyingkapkan diri namun Ia pun suatu misteri. Bertumbuh dalam keduanya adalah baik ketimbang kepastian semu dengan bias dan blindspot yang tidak kita sadari.

Sebagaimana Metropolitan Kallistos Ware menguraikan dengan indah dalam bukunya "The Orthodox Way" (pg. 37, "God as a Mystery"):


"Kegelapan pekat yang ke dalamnya kita masuk bersama-sama Musa, ternyata menjadi suatu kegelapan yang menyilaukan. Secara apofatik* 'tidak mengetahui' (unknowing) tidak berakhir pada kehampaan, namun kepenuhan. Negasi menjadi super-afirmasi, melampaui ekspresi bahasa manapun, langsung kepada pengalaman Allah sendiri ...

... sebagaimana kata misteri yang berasal dari mysterion, menunjuk kepada praktek agama pagan dimana seseorang ditutup matanya melewati suatu prosesi dan kemudian saat penutup di buka, ia dapat menyaksikan lambang-lambang atau emblem rahasia agama tersebut. Pemaknaannya bagi Kekristenan adalah bahwa misteri bukanlah suatu teka-teki membingungkan atau masalah tak terpecahkan, sebaliknya, misteri adalah penyingkapan namun yang tak dapat dipahami sepenuhnya karena ia menyasar langsung ke dalam misteri Allah. Dalam hal inilah mata kita tertutup sekaligus terbuka."


Maka menjadi suatu paradoks yang indah bagi saya ketika Allah yang adalah Misteri Agung itu justru menampakkan dirinya kepada kita melalui imaji dan persona yang kemungkinan besar justru akan ditolak oleh mereka yang meyakini bahwa kebenaran Firman "yang terang" atau "pasti" itu berlaku "mahakuasa" dalam artian opresif dan kolonialis-supremasif** terhadap yang liyan, asing atau misterius, atau meyakini Allah yang "mahakasih" namun bersikeras bahwa dalam lingkup pagar kelompok dan keyakinannya sajalah Allah dapat mengasihi dan menyelamatkan dengan sempurna.

1 Raja-raja 8:12 (TB) Pada waktu itu berkatalah Salomo: "TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. 

1 Timotius 6:16 (TB) Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin. 



Berkah Dalem

FZ 赵健忠 🌿☦️🙏✍️

#13of30 #30harimenulis


Keterangan Tambahan

* Apofatik : pengenalan akan Allah yang diperoleh dengan jalan menegasi atau via negativa (mengatakan apa yg "Allah bukan" atau what God is NOT), lawan dari apofatik adalah Katafatik pengenalan akan Allah dengan mendefinisikan apa itu Allah (what God IS) yang lebih berkembang dalam Kekristenan Barat.

** Menjadi kecenderungan hermenetika yang diwariskan khususnya oleh para misionaris Barat bahwa selain memberitakan keselamatan dalam Yesus Kristus, proses "konversi" maupun "penginjilan" seringkali membawa muatan anti budaya lokal atau membingkai kearifan lokal dengan segala corak dan simbolnya sebagai bentuk dosa atau suatu praktek "demonik" atau "satanik", tanpa melakukan dialog dan refleksi yang memadai dengan komunitas dan sistem keyakinan yang dijumpainya.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Ketika yang hendak belajar merasa lebih paham dari pengajarnya, siapakah yang rugi?

Bagaimana menghadapi kecenderungan manipulatif dan kemunafikan dalam lingakaran terdekat?

Mengapa bentuk kesalehan atau keyakinan menjadi munafik ketika ia menolak inkarnasi Kristus sebagai solidaritas dan kehadiran Allah ditengah penderitaan dan kerapuhan?   

Bagaimana Ekaristi/Perjamuan Kudus menginspirasi kita tentang karakter Allah yang penuh keramahan dan memanggil kita untuk menampilkan hal serupa.

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.