Sunday, March 9, 2025

EKARISTI DAN PERSAHABATAN ALLAH

Refleksi Keramah-tamahan Allah dan Reimajinasi Misi, Evangelisasi dan Katekisasi


 

Saya tersipu menyeka wajah yang basah karena air mata yang mendadak deras mengalir tanpa permisi di tengah momen "konsekrasi" Ekaristi pagi ini. Pikiran ini berpacu mencoba merasionalisasi mengapa dialog (yang kali ini dinyanyikan oleh imam) menjelang hosti dibagikan, mendadak membuat Saya demikian emosional.

Memori saya terkunci pada saat imam mendaraskan "Inilah Anak Domba, Penyelamat kita" dan lantas mengutip Sabda Yesus dalam Yohanes 15:13, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

"Sahabat".. betapa berharganya dan dirindukannya sebuah persahabatan sejati itu.

Pelacakan berlanjut, saya terhenti pada makna kata "sahabat" jauh sebelum Magna Carta, sebelum banyaknya institusi dan deklarasi yang diupayakan dalam melindungi hak hidup manusia. Setiap jabat tangan adalah tanda bahwa Anda tak menyembunyikan senjata untuk melumpuhkan atau merampok saya. Persahabatan tidak hanya bicara tentang kebutuhan emosional sekunder dengan konotasi feminin apalagi lemah. Persahabatan secara esensi bicara tentang ketersediaan interaksi yang aman baik secara fisik maupun mental, sebaliknya, hubungan tanpa keramahtamahan akan mendatangkan ancaman fisik maupun trauma psikologis.

Yosua 5:13 - Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: "Kawankah engkau atau lawan?"

Sahabat saya, Pdt. DR. Timothy Athanasios, menggunakan permainan kata bahasa Ibrani untuk merangkum argumen Allah menghadapi gugatan Ayub yang menderita tanpa sebab, "Masakan Aku (Tuhan) tak dpt membedakan antara "Ayub" (איוב "Eyov") dengan "lawan" (אויב "Oyev")?"

Beberapa tahun ini, sejak mengalami dekonstruksi dalam penafsiran biblika yang fundamentalistik-eksklusivis menjadi lebih akademik dan kritis-tekstual, lantas renegosiasi teologis dari semula hiper-karismatik dan reform menjadi lebih kepada liturgis, universalis-humanis dan inklusif, saya mengalami masa-masanya disalahpahami & kehilangan banyak sahabat. Sebagian menganggap saya terlalu "rohani", namun yang lainnya menganggap saya "sesat", “liberal” bahkan “sosialis”.

Betapa mengejutkannya ketika dogma dan insecurity bisa mengorbankan relasi. Nampak pula mereka yang selama ini menjadikan “persahabatan” sebagai kamuflase untuk niatan meng-konversi keyakinan seseorang ke dalam kekristenan (versi mereka), maupun guna menjaga kita tetap dalam “pagar” komunitas mereka. Begitu terjadi perbedaan yang tak dapat direkonsiliasi, “persaudaraan” akan dikorbankan atas nama “mengutamakan kebenaran” atau argumen bahwa “dalam kasih-Nya, Allah pun akan mengirimkan jiwa-jiwa pendosa langsung menuju neraka”. Proyeksi ketakutan ke dalam teologi inilah yang belakangan ini ramai di kalangan evangelikalisme saat mereka mengecam Bishop Mariann Budde dengan tuduhan melakukan “dosa empati” ketika ia meminta Presiden AS terpilih, Donald Trump untuk menunjukkan belas kasih kepada para minoritas “queer” dan kaum migran.

Saya disadarkan akan keramah-tamahan Allah. Jika saya meyakini bahwa Allah itu mahatahu dan mahakuasa, maka saya patut mengakui bahwa Ia cukup secure untuk tetap bersahabat dengan saya, meski banyak pertanyaan sulit saya lemparkan pada Gereja-Nya. Ia tak akan merasa terancam ketika saya mengangkat begitu banyak kontadiksi teks "kekerasan" dalam Taurat dan kisah-kisah Perjanjian Lama, lantas berseru, "Yesus yang kukenal tak demikian, Aku tahu itu bukan isi hati-Mu!"

Ekaristi menyadarkan kita akan “amanat agung” Kristus, Sang Sahabat Kekal untuk semua. Panggilan untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya (Mat 28:19-20) tidak dimaksudkan untuk mendirikan suatu “Christendom” atau Kerajaan Allah dalam bentuk teokrasi politik. Sebaliknya, menilik konteks historis Injil dan Kisah Para Rasul, komunitas Gereja perdana melayani mereka yang membutuhkan (bahkan mereka yang “di luar iman”) kendati mengalami aniaya, terancam, menjadi pelarian dan pengungsi, dan kondisi memprihatinkan lainnya. Ini menunjukkan bahwa hasrat untuk orang lain mengimani Kristus tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan kesaksian lewat pelayanan kasih serta tindakan mulia dan berbelas kasih*. Kesaksian dan resilience semacam inilah yang justru menjungkirbalikkan kekaisaran Roma dari kekaisaran yang menganiaya kekristenan menjadi kekaisaran yang mendorong warganya menjadi Kristen!**

Nampaknya, setelah berefleksi, saya kembali tersipu mengingat bagaimana dulu saya dalam kurangnya literasi teologis mendambakan lewat doa “syafaat” bahwa lingkungan saya menjadi lebih kristiani, atau bahwa negara tempat saya berada menjadi negara Kristen. Saya pernah berpikir bahwa itulah tanda penyertaan Allah dan bahwa Injil barulah dapat dikenal secara maksimal lewat Gereja yang nampak hebat, penuh mujizat, besar, atau lewat situasi yang “kondusif dan bersahabat” terhadap iman kita. Betapa salahnya saya.

Menutup refleksi ini, mari perhatikan dua ayat yang mengapit Yoh 15:13 tadi.

Ayat 12: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Ayat 14: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”

Yoh 15:12 bicara bahwa kasih Yesus yang besar itu datang dengan instruksi, yakni agar kita saling mengasihi. Dalam ayat 14 kita dapat merefleksikan sejarah iman dan Gereja, bagaimana mereka yang mengasihi Kristus dan berusaha menunjukkannya dalam ketaatan melaksanakan perintah-Nya kerap jatuh bangun dan nyaris tak pernah sepakat tentang apa yang terutama. Perselisihan Arius dan Athanasius yang bermuara pada konsili Nicea, skisma awal dan ekskomunikasi atau anatema antara Roma dan Ortodoksi Timur, reformasi Protestan, sejarah kelam perbudakan di berbagai koloni Barat dengan legitimasi Gereja dan Alkitab, adalah sebagian kisah dimana para kudus yang dipanggilnya juga adalah manusia-manusia rentan yang bergulat dengan keterbatasan pemahaman, bahkan dengan dosa dan keserakahan. Broken saints, that’s what we have been and what we are.

Mengingat semua itu, tanpa berasumsi bahwa saya dapat memberikan solusi yang ultima, momen “mistik” hari ini memberikan saya keyakinan dan harapan ekstra bahwa sebagai bagian Tubuh Kristus, kita dipanggil oleh Allah yang bersahabat itu untuk menjadi pula sahabat serta ruang aman bagi sesama musafir iman. Kita pasti bisa, kita harus bisa. Karena kesalahan doktrinal tak pernah lebih merusak ketimbang ketiadaan belas kasih.

Berkaca pada inkarnasi dan karya Yesus Kristus, saya berani berharap, mungkin Allah tidak sedemikian sulit untuk disenangkan, fakta bahwa setiap orang dari keyakinan maupun dogmatika kristiani yang berbeda-beda tetap dapat mengalami kehadiran, tuntunan dan damai sejahtera Allah cukup bagi saya sebagai bukti betapa universalis-nya Allah dan betapa inklusif kerajaan-Nya. Lagipula adakah yang tak mungkin bagi Dia?


"Tuhan Allahku, aku tidak tahu ke mana aku pergi. Aku tidak melihat jalan di depanku. Aku tidak tahu pasti di mana ujungnya. Aku juga tidak benar-benar mengenal diriku sendiri, dan kenyataan bahwa aku mengira mengikuti kehendak-Mu, tidak berarti aku benar-benar berbuat demikian. Tetapi aku percaya bahwa keinginan untuk menyenangkan Engkau pada kenyataannya (memang) menyenangkan Engkau." -- Thomas Merton.

 

Berkah Dalem

FZ 趙健忠 💞✍🙏

 

#9of30 #30harimenulis


Catatan kaki: 

* Ketika terjadi 2 wabah dahsyat yang melanda Kekaisaran Romawi pada tahun 165 dan 251 M, di luar Gereja, masyarakat tidak menunjukkan semangat rela berkorban. Sepertiga penduduk Imperium Romawi tewas karena wabah tersebut, para tabib melarikan diri ke rumah peristirahatan mereka di desa-desa, mereka yang menunjukkan gejala penyakit tersebut diusir dengan paksa dari rumah mereka, serta para pemimpin agama meninggalkan pelayanan mereka di rumah-rumah ibadah.

Namun orang-orang Kristen ini mengklaim bahwa mereka memiliki jawaban dan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan oleh masyarakat. Jawaban mereka meliputi pengampunan dosa melalui Kristus Yesus dan pengharapan akan kehidupan kekal yang melampaui kematian.

Suatu pesan berharga bagi dunia yang “lumpuh”, putus asa, dan tidak berdaya.

Mengenai tindakan, Gereja merawat mereka yang sakit dan sekarat. Bahkan Uskup Dionisius dari Aleksandria menuliskan surat yang memuji perilaku Gereja:

“Sebagian besar dari saudara-saudara kita telah menun-jukkan kasih dan kesetiaan mereka tanpa batas, dengan tidak menahan-nahan dan hanya memikirkan orang lain. Tidak peduli akan bahaya yang ada, mereka merawat orang-orang miskin, mencukupi kebutuhan mereka dan mengarahkan mereka ke dalam Kristus, bahkan meninggalkan hidup ini bersama dengan orang-orang yang mereka rawat dalam kebahagiaan.”

Sejarah Gereja mencatat bahwa seiring berjalannya waktu, kepedulian terhadap orang-orang sakit dan miskin yang dilakukan demi nama Yesus, mengakibatkan suatu gerakan “counter culture” yang memenangkan banyak orang kepada Sang Kristus.

Dua abad kemudian, kaisar Romawi Julian the Apostate (332-363 M) yang ingin menyegarkan kembali agama Romawi kuno, melihat Kristenan sebagai ancaman yang terus bertumbuh. Ia menuliskan rasa frustrasinya kepada imam besar Romawi di Galatia:

“Ateisme (baca: Kekristenan) semakin maju melalui pelayanan kasih kepada orang-orang asing, dan melalui kepedulian mereka memakamkan orang-orang mati. Merupakan batu sandungan di sini bahwa tidak seorang Yahudi pun menjadi pengemis, dan bahwa orang-orang Galilea (baca: orang-orang Kristen) yang tak ber-tuhan itu tidak hanya memedulikan orang-orang miskin dari kalangan mereka, tetapi juga dari kalangan kita. Sedangkan mereka yang berasal dari kalangan kita tidak mendapat pertolongan dari kita sebagaimana mestinya.”

Hal ini melebarkan pandangan kita dari hanya sekadar liturgi ibadah di dalam Gereja, menjadi suatu budaya liturgi sosial; suatu aksi publik yang berpusat dan mengarah kepada Yang Ilahi. (Sumber: Reformasi Liturgi, hlm.39, 40)


** Pengangkatan (kaisar) Konstantinus merupakan titik balik bagi Kekristenan awal. Setelah kemenangannya, Konstantinus mengambil alih peran sebagai pelindung iman Kristen. Ia mendukung Gereja secara finansial, membangun sejumlah basilika , memberikan hak istimewa (misalnya, pembebasan pajak tertentu) kepada pendeta, mempromosikan orang Kristen ke jabatan tinggi, mengembalikan harta benda yang disita selama Penganiayaan Besar Diokletianus, [ 27 ] dan menganugerahkan tanah dan kekayaan lainnya kepada gereja. [ 28 ] Antara tahun 324 dan 330, Konstantinus membangun kota baru, Roma Baru , di Byzantium di Bosporos , yang kemudian diberi nama Konstantinopel untuknya. Tidak seperti Roma "lama", kota tersebut mulai menggunakan arsitektur Kristen yang terang-terangan, memiliki gereja-gereja di dalam tembok kota, dan tidak memiliki kuil-kuil dari agama lain yang sudah ada sebelumnya. [ 29 ]

Dalam melakukan hal ini, bagaimanapun, Konstantinus mengharuskan mereka yang belum masuk Kristen untuk membayar kota baru tersebut. [ 28 ] Para penulis sejarah Kristen mengatakan bahwa tampaknya Constantine perlu "mengajar rakyatnya untuk meninggalkan ritual mereka ... dan membiasakan mereka untuk membenci kuil-kuil mereka dan gambar-gambar yang ada di dalamnya," (sumber: Wikipedia)



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Apakah menjadi "rata-rata" dalam memahami kitab suci itu tidak masalah (dalam tradisi yang menganggapnya sebagai otoritas iman yang tertinggi setelah Allah).

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Thursday, March 6, 2025

STUNTING (KERDIL) ROHANI



Ibrani 5:12,14 (TB)  Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.

Makanan berpengaruh langsung kepada tubuh kita. Saya banyak belajar tentang obat-obatan dari mertua karena pengalaman mereka berinteraksi dengan pihak-pihak di bidang farmasi. Imajinasi mata kuliah kimia yang saya peroleh sekitar 25 tahun silam juga membantu saya menalar pengaruh olah raga, jenis makanan2 & nutrisi terhadap metabolisme & kesehatan. Di sisi lain ada pula kerabat yang tergantung pada dokter begitu obat bebas tidak lagi mempan. Ada pula yang tergantung pada orang lain meski hanya sakit ringan.

Layaknya perihal nutrisi atau farmasi, ternyata kadar ilmu dan pengalaman akan berpengaruh dalam menciptakan hidup yang mudah, menarik, bermanfaat, atau justru sebaliknya. Dan pertanyaan yang menyusulnya adalah,

“Bagaimana dengan wawasan kita akan kitab suci atau kefasihan berteologi?”

Apakah kita menyerahkan “PR spiritual” kita kepada para rohaniwan & gembala kita sementara kita memilih duduk manis menunggu jawaban yang "mudah dicerna", bahkan harus sesederhana "boleh/dosa/tidak" layaknya susu atau bubur rohani?

St. Paulus mengatakan bahwa kepada jemaat Korintus yang terkenal penuh karunia rohani pun, ia harus berbicara layaknya dengan anak-anak (bdk. 1 Kor 3:1-3), dimana tolok ukurnya (ay.3) adalah adanya perselisihan dan persaingan, seolah kubu Paulus lebih benar dari Apolos atau sebaliknya. Sikap seperti ini dapat pula lahir dari spiritualitas instan yang malas. Polarisasi semacam ini hanya dimungkinkan oleh dua skenario, pemimpin yang memanipulasi, atau pengikut yang menolak menjadi pandai. Berlatar belakang seorang Farisi, Paulus menegaskan pentingnya terlibat dalam "diskursus" (wacana, interogasi, diskusi) akan kitab suci dengan seksama, karena meski para ahli meyakini Paulus sebagai seorang Yahudi “apokaliptik”, pun Paulus berpendapat bahwa sebagai manusia yang utuh antara tubuh, roh dan jiwa, menjadi terlalu “mistik” atau "nge-roh" saja tidak cukup untuk pendewasaan rohani kita!

Dalam Mazmur 119:99-101, Raja Daud yang merenungkan kitab suci (Taurat) dikatakan “lebih bijak daripada orang-orang tua dan semua pengajarnya”, dan bahwa berpegang pada Firman Tuhan dan menjauhi kejahatan adalah dua kesatuan yang saling mempengaruhi secara timbal balik. 

Tiga nats berbeda tadi rasanya cukup untuk menjawab jika ada pertanyaan “Apakah jemaat awam perlu yang namanya literasi teologis?”. Terlalu besar pertaruhannya untuk meneruskan hidup bergereja dan perjalanan spiritual (bahkan pula aspek lainnya seperti bermasyarakat, berbisnis dan lain sebagainya yang seolah "non-spiritual") tanpa hasrat dan upaya kita dalam menjadi – setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga - “gembala dan guru”* yang fasih dalam memahami dan berelasi dengan kitab suci, entah itu secara kontemplatif, mistik, dan yang tak kalah penting, kognitif.  

Tanpa literasi biblika (kitab suci), maka kejahatan dan penyelewengan akan merajalela sekalipun kita pribadi mengaku Kristen atau sekalipun komunitas kita mengklaim diri sebagai Gereja. Perselisihan akan membutakan kita semua akan kehendak Allah yang sejati bagi umat manusia karena masing-masing memiliki keyakinan buta tanpa akuntabilitas dan terputus dari relasi dengan iman Gereja universal dari jaman ke jaman. Semoga kita tidak terbilang sebagai mereka yang stunting (kerdil) apalagi ompong rohani, yang mestinya sudah dalam fase kehidupan yang sedia memimpin dan/atau mengajar, namun kita masih berteologi seperti (atau lebih simple dan naif dibandingkan) anak sekolah minggu.

 

Berkah Dalem,

FZ - 趙健忠

#8of30 #30harimenulis

 

Kata yang diterjemahkan dari frasa “ποιμένας καὶ διδασκάλους” (poimenas kai didaskalous = gembala dan pengajar) dari Efesus 4:11. Dalam hal ini, kata “kai” mensyaratkan bahwa keduanya tak dapat dipisahkan, seorang pemimpin haruslah seorang pengajar dan pengajar manakah yang lebih baik daripada mereka yang sebelumnya juga adalah para pelajar yang baik dan setia?



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Apakah iman Kristiani yang otentik itu tidak "kompromi" dengan tradisi?

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Tuesday, March 4, 2025

IMAN ITU ANTI TRADISI?



Hari ini umat Gereja Katolik Roma bersama berbagai Gereja yang mengamati "kalender liturgi", merayakan Hari Raya "Rabu Abu" sebagai awal masa pertobatan, sebulan menjelang Paskah. Tahun ini ijinkan saya merefleksikan "abu" secara singkat sebagai sarana memahami kembali, mengafirmasi, sekaligus kritisi terhadap makna kata "tradisi".

Telah sekian lama terdapat kecenderungan "anti tradisi" yg dihembuskan oleh kalangan fundamentalis tertentu dlm kekristenan. Mereka memanfaatkan kecenderungan banyak komunitas utk mengidentifikasikan diri simply sbg "Kristen" saja, which is fine, hingga saat ia tak lagi bisa ditoleransi, yakni saat retorika & faham yg mereka tebarkan di berbagai (sosial) media hari-hari ini berupaya membenarkan diri melalui misinfomasi. 

Mereka memposisikan tafsir khas mereka akan kitab suci sebagai satu-satunya kebenaran absolut dan ilahi, dan dengan itu mereka "mengkafirkan" umat Kristiani lainnya lantaran perbedaan konstruksi & posisi teologis, seperti perihal syarat keselamatan, baptisan, perihal sakramen, doa, penghormatan orang kudus, tentang metodologi tafsir kitab suci, universalime (pada akhirnya semua akan dipersatukan dalam Kristus) versus eksklusivisme keselamatan kristiani (semua harus mengikuti formula doa "terima Yesus", jika tidak, tidak selamat*) dan lain sebagainya.

Matius 11:12 (TB)  Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.

Matius 11:212 (NET) [From the days of John the Baptist until now the kingdom of heaven has suffered violence, and forceful people lay hold of it.]

Saya memahami, sebagai salah satu kekuatan pendorong peradaban dunia, Kekristenan telah menjadi "komoditi" menggiurkan bagi banyak petualang & oportunis demi mendulang dua hal yang bersandingan dengan "gospel" (pesan Injil) dalam semboyan jelajah samudera beberapa abad silam yakni "gold" (kekayaan) & "glory" (kejayaan). Dalam perspektif tersebut kita dapat memahami sikap mereka yang tidak transparan ini, bahwa sebenarnya sikap "anti tradisi" JUGA adalah TRADISI yang berkamuflase. 

Mengakui afiliasi dengan tradisi tertentu akan memaksa mereka mengakui masa lalu yang kelam atau problematik, seperti misalnya pembiaran dan dukungan tradisi tertentu terhadap perbudakan dan diskriminasi ras di masa lalu yang semangatnya masih bertahan hingga hari ini, atau tradisi lainnya yang pernah menindas penganut kristen lainnya kala mereka berkuasa, atau tradis tertentu yang dikenal dengan banyaknya skandal eksploitasi baik seksual maupun finansial dari para rohaniwan mereka, dan masih banyak lagi. Fakta sejarah ini tentu tidak "menguntungkan" bagi upaya mereka dalam membangun image, simpati, status quo & pengaruh, dasarnya insecurity atau ketidakpercayaan diri inilah yang melahirkan tradisionalisme atau fundamentalisme dan inilah justru yg merusak keluhuran tradisi iman.

Mengklaim bahwa kita tidak mengikuti tradisi iman tertentu adalah sama absurdnya dengan mengklaim bahwa kita tidak "berteologi", keduanya berasal dari kenaifan dan kurangnya pemahaman. Sementara teologi adalah proses tak terelakkan bagi insan yang memaknai Allah, yang berdoa, beriman, membaca kitab suci dan mempercayainya, tradisi iman atau tradisi kristiani adalah sesederhana menjalankan praktek spiritual dan menganut pemahaman teologis tertentu dan meneruskan "hal baik" tersebut kepada penerus kita. Bahkan sekuat apapun penyangkalan yang dilakukan, kitab suci adalah "produk" dari tradisi iman, mulai dari Judaisme purba di zaman besi, hingga abad awal masehi. 

Akhirnya, menyadari tradisi Iman kita bukanlah aib melainkan jalan yg mulia, edukatif & positif bagi pengenalan diri & pertumbuhan rohani.

"Tradisi bukanlah penyembahan terhadap terhadap abu, namun pelestarian akan api." (Gustav Mahler)

"Tradisi adalah iman yg HIDUP dari mereka yang telah berpulang, tradisionalisme adalah iman yang mati dari mereka yang masih hidup, dan itulah yang mencoreng nama tradisi." (Jaroslav Pelikan)


Berkah Dalem 

FZ 趙健忠 🌈🙏☦

#7of30 #30harimenulis


* Yang dimaksud dengan "selamat" terbatas pada pengertian masuk surga setelah kematian, dan sebaliknya, yang tidak selamat masuk dalam neraka sebagai penghukuman kekal atas dosa-dosa selama hidup.

Untuk referensi diskusi tentang eksklusivisme dan tendensi anti tradisi yang berstandar ganda di kalangan fundamentalis, dapat disimak konten berikut dari Kate Boyd dan Pete Enns. (klik di nama mereka masing-masing)



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Ketika keyakinan kita malah menjadi hal yang toxic bagi dunia ..

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

TEOLOGI KURANG KERJAAN



Yohanes 9:2-3

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."


"Apakah ini karena hukuman Tuhan?"

"Ini hukuman Tuhan karena wilayah itu penuh orang yang tidak seiman dengan kita" atau "karena di situ sarang maksiat!"

"Si A selamat padahal sekitarnya kena semua, itu karena ia berdoa."

"Kita harus berdoa agar pagar perlindungan Tuhan tidak diangkat dari kita."


Pernah mendengar kalimat atau narasi demikian? Ketika baru-baru ini terjadi kebakaran hutan hebat di kawasan Los Angeles, Amerika Serikat, media sosial dipenuhi dengan para "nabi" & pengkhotbah dadakan & kambuhan. Di sini pun tak ada bedanya, hal serupa terjadi pula saat berbagai bencana terjadi di dalam negeri.

Mengapa sikap dan pola pikir demikian bermasalah dan sejujurnya sangat mengesalkan bagi saya?

  1. Karena ia menunjukkan pemahaman yg dangkal akan kuasa maupun misteri karya Allah. Jika Allah memang menghakimi Dia tdk mengenal collateral damage (Kej 18:25), dlm kasus kebakaran LA, menuduh "dosa" Holywood, padahal lokasi korban jauh dari sana, sama saja mengatakan bahwa Allah itu rabun & tidak bisa membidik. Namun fakta bahwa segala kalangan jadi korban sudah meruntuhkan argumen tadi.
  2. Masih terkait misteri, narasi tadi tidak sejalan dgn pesan-pesan kontra atau "anti mainstream" yang dilestarikan dalam Alkitab. Mulai dari kitab Ayub, Mazmur, Yunus dam lainnya, semua tidak men-"sensor" kenyataan bahwa orang beriman pun bisa menderita kemalangan & orang jahat seolah diluputkan. Selain itu saat bermurah hati, Allah tdk tunduk pada siapa yg kita pandang layak (Rm 9:15, Yun 4:11), meskipun kita menggunakan ayat-ayat sebagai pembelaan maupun senjata. "Ketidakadilan" dan pertanyaan sulit terkait hal inilah yg mendewasakan iman. Sedangkan bicara soal brain rot karena keseringan menkonsumsi konten rendah mutu, saya khawatir bahwa aksi mencari pengikut dengan cara menebar ajaran berkat-kutuk transaksional yg naif dan mengada-ada hanya akan menahan kerohanian dan iman kita tetap kerdil, belum lagi faham kesalehan "egosentris" macam ini cenderung memanfaatkan kemalangan sesama untuk melontarkan tuduhan dan penghakiman yang tidak menolong siapapun selain menyakiti perasaan para korban.
  3. Teologi pembalasan apalagi dgn kekerasan bukanlah jalan, karya & perutusan Yesus yg kepadanya kita dipanggil (Luk 4:18-19). Karenanya, saya tidak pernah simpati dengan konten clickbait dan ruang gaung yang menarasikan bahwa Allah membalas perlakuan tidak hormat seseorang dengan musibah atau kejadian mengerikan. Bukannya saya permisif dengan sikap tak hormat pada Allah, namun saya berada pada posisi yang beropini bahwa sebaiknya kita menjaga sikap kita sendiri pada Allah dan sesama. Selebihnya, tidakkah kita bersukacita jika mereka akhirnya diberi kesempatan menyadari dan akhirnya mengasihi Allah? Patut direnungkan bahwa kita cenderung menginginkan keadilan dan menyerukan konsekuansi atau kualat jika itu dosa orang lain, namun jika itu dosa kita, kita pasti menginginkan anugerah dan keringanan. Saya takkan lelah mengulangi bahwa "Gehenna" yang digunakan Yesus Kristus, yang kemudian diterjemahkan sebagai "neraka" dalam Injil penuh nuansa alegori dan sepantasnya terbuka untuk interpretasi dan negosiasi, sedangkan perintah (sebagai kesimpulan kisah "hukuman Allah" tersebut) yakni untuk bermurah hati adalah literal & tak bisa ditawar-tawar.

Dalam kutipan Yohanes 9 di atas Yesus melanjutkan di ayat 4 dengan pernyataan ini:

"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja"

Saya pikir cukuplah sudah menganalisa sebab adanya bencana dan derita karena lazimnya ia akan berakhir menjadi sarana dehumanisasi, penghakiman, sekaligus pencitraan kesalehan semu kita sendiri. Bukankah ketika hari masih siang, ketika waktu masih memungkinkan, ketika kita masih hidup dan diberi kemampuan, bahkan ketika Yesus telah hadir dalam dunia dan hidup kita, bukankah pekerjaan Allah yang mengutus itu yang perlu diutamakan? Mari dalam memaknai Allah dan karya-Nya kita pun ikut berkarya menjadi sandaran bahkan fulcrum (titik ungkit) untuk mengangkat derajat hidup mereka yang membutuhkan atau ditimpa kemalangan, karena di sanalah Yesus menghadirkan diri-Nya agar baik yang menolong atau ditolong berjalan bersama salib yang dipanggul oleh Sang Penebus yang sama setia selamanya.



Berkah dalem.

FZ 趙健忠


#6of30 #30harimenulis




Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Sunday, March 2, 2025

JADI SIAPA YANG SEBENARNYA BUTA?



Kisah disembuhkannya Bartimeus dari kebutaan (bdk. Markus 10:46-52) atau seorang buta anonim yang lantas diusir dari rumah ibadah dan ditolak oleh keluarganya setelah disembuhkan (bdk. Yohanes 9:1-41), keduanya menyingkapkan hikmat yang luar biasa saat dibaca dengan kritis & pemahaman konteks yang memadai.

Bartimeus yang berseru-seru memanggil Yesus sebagai Mesias משיח (sedangkan orang2 yg "sehat" & tidak cacat malah meragukan-Nya) menyerukan kritik pedas 🌶️ 🔥 yang sama kala Yesus menjawab para Farisi di Yohanes 9. Nampaknya keterbatasan pandangan tdk membatasi pengenalan akan Allah, setidaknya tak separah kemunafikan orang banyak yanh menyuruh Bartimeus diam yang lantas berubah 180 derajat menyemangati Bartimeus saat Yesus ternyata memanggilnya (bdk. ayat 48-49), atau perasaan benar sendiri & elitisme Farisi dgn doktrin berkat-kutuk "deuteronomis" mereka yang ketat & penuh penghakiman itu.

Menarik bahwa baik orang banyak dalam Markus 10 maupun kaum Farisi dlm Yohanes 9, sama-sama menggambarkan atau merepresentasikan mayoritas masyarakat yang kerap menyuruh mereka yang dipandang tidak capable utk DIAM. Padahal Bartimeus menyerukan kebenaran tentang identitas mesianik Yesus dan orang buta dalam Yohanes 9 menegur kaum Farisi bahwa Taurat yg mereka pandang secara sempit itu pun kontra terhadap tuduhan mereka kalau-kalau Yesus berkarya melalui kuasa gelap melawan יהוה Yahweh.

Betapa membebaskannya ketika kita sadar bahwa kedua kisah orang buta yang disembuhkan ini tak hanya bicara soal mujizat supernatural utk mereka yang memenangkan perlombaan iman yang transaksional (yang justru merangsang motivasi ke arah kemunafikan, triumfantalisme/mengagungkan pencapaian & pragmatisme/memperalat Allah). Namun keduanya bercerita & menyemangati kita yang mungkin punya gagasan berbeda mengenai Alkitab, tentang kebenaran, mengenai etika atau simply tentang cara menjalani hidup. Bisa jadi berdua orang buta tersebut secara kronologi lebih awal mengakui Mesias ketimbang Santo Petrus yg katanya sokoguru Gereja! 

Mengutip sahabat saya, Pdt. DR. Timothy Athanasios M.Min., "Bartimeus itu seolah mau berkata : Gue boleh saja buta, tapi gue kan ga bisu.. Ko Felix, teruslah berbicara di hadapan mrk yg menyuruhmu diam." 🥹🙏💕

Mungkin ada yg membutuhkan kalimat itu pula hari ini, jika ya, BICARALAH, Anda boleh jadi salah & punya bias, tapi itu urusan lain. Semua bisa didiskusikan & diluruskan, namun tak ada orang yang lebih berhak beropini atau terpanggil lebih daripada Anda hingga berhak menegasi penghayatan & pengalaman Anda akan Allah. Berbicaralah, berjuanglah utk ruang dialog yg aman bagi semua.



Berkah dalem.

FZ 趙健忠 💕🙏🍿📚🕊️🌈

#5of30 #30harimenulis


Tq @holy_heretics (Sdr. Freddy Sulaiman) buat referensi "kupasan" Bartimeus nya 🙏


Kutipan lengkap nats yg digunakan :

Markus 10:46-52 -- https://alkitab.app/v/20605ef57e3a

Yohanes 9:1-41 -- https://alkitab.app/v/c3c525ad1258


Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

THE SIN OF CERTAINTY


Kemarin saya tertidur lebih awal karena enam sesi mengajar kemarin yg melelahkan. Dan ketika terbangun dinihari, saya menemukan pertanyaan ini di grup WhatsApp keluarga kami dari salah satu putera kami.

Dia baru saja menyaksikan video yang "membuktikan" eksistensi Tuhan lewat argumen fisika mengenai alam semesta & energi. Pertanyaannya nan simpel ini tetap mengagumkan saya. Maklum, kebanyakan orang umumnya manggut-manggut saja atau tergesa-gesa berseru "Amin!" dalam euforia semu bahwa "agama telah menang atas ateisme" atau bahwa "God is not dead!" Well, ada masanya juga dulu saya akan merespon serupa, to be fair. Terlepas dari kompleksitas tersendiri untuk menjelaskan apa yg dimaksudnya sebagai "benar" atau "nyata",  this young man dianugerahi pikiran cukup kritis utk mempertanyakan klaim video tersebut.


Salah satu fitur yg akan Anda alami ketika belajar kitab suci secara kritis adalah KETERKEJUTAN. Ya, saya terkejut bahwa dulu saya - seperti banyak orang dlm keluarga maupun komunitas Iman saya tak tahu bhw:

1. Kitab Kejadian tidak ditulis secara final sebelum periode monarki Israel (±1000 SM) dan kisah "penciptaan" di dalamnya bukanlah fakta historis melainkan narasi puitis, atau ..

2. Bahwa kisah penciptaan dunia terdengar mirip dengan narasi "Enuma Elish" atau kisah Nuh yang sangat mirip dengan epik "Gilgamesh" dalam peradaban Mesopotamia kuno, atau ..

3. Bahwa sejarah para patriark & Kerajaan Istael-Yehuda sebagaimana banyaknya kontradiksi antara kitab Raja-Raja versus Tawarikh, lebih didasari motif propaganda & politik teritorial ketimbang sejarah yang "netral & objektif", atau ..

4. Bahwa beberapa kitab PB termasuk surat Timotius & Titus sangat mungkin adalah "pseudoepigraf" (seseorang yang menulis dengan mengaku sebagai Paulus), atau

5. Bahwa tak ditemukan sumber di luar Alkitab yang mengkonfirmasi mujizat & kebangkitan Kristus... Atau Masih banyak lagi..

Dan mungkin keterkejutan yang tak kalah besarnya adalah banyak dari kita yang mengharuskan Alkitab untuk menjadi kitab yang akurat secara literal historis agar ia dapat melandasi iman akan Allah. Kita takut kalau-kalau Alkitab terbukti tak handal secara saintifik & karenanya mencoba "membela Iman", hingga di tahap yang terkadang mengada-ada atau melalu perdebatan dengan melupakan pemberitaan melalui kasih dan teladan sikap yang mulia.

Padahal Alkitab akan selamanya berselubungkan misteri & bahwa mengimani melampaui "rasa pasti" lah tanda bahwa Allah ada & bahwa Roh-Nya berkarya menuntun hati kita pada Kristus. Iman tak anti akal budi namun ia tak sedemikian rapuh dan insecure sampai seolah hidup matinya tergantung pada bukti. 💕🙏


Berkah dalem

FZ 趙健忠

#4of30 #30harimenulis 



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Thursday, February 20, 2025

KETIKA TIDAK MENGAPA UNTUK TIDAK “OBJEKTIF”

 

Dari Ilusi Kebenaran “Absolut” kepada Sadar Berteologi dan Mendialogkan Dogmatika sebagai Sesama Peziarah Iman


 

Pagi ini di Saya menemukan konten berikut dari Peter Enns, kontributor SBL (Society ofBiblical Literature) yang beranjak lansia namun masih asyik, casual dan santun dalam mengkomunikasikan perspektif akademik kepada masyarakat awam. (link video dapat dibuka di bawah ini untuk memperjelas konteks)

https://bit.ly/4k4ptpe atau https://bit.ly/3X7IVrv


Video diawali ketika seorang pembicara dengan yakin dan mantap menyampaikan bahwa :

  •        Kita tidak bisa pilih-pilih dalam meyakini hal-hal dalam Kitab Suci.
  •        Mereka yang melakukan penafsiran secara demikian bukanlah seorang Kristiani.

Yang kemudian dilanjutkan dengan opini dan argumen Dr. Enns bahwa pendekatan sang pembicara yang diistilahkan sebagai Taking The Bible at Face Value (menerima isi Alkitab secara literal “apa adanya”) justru menjadi hal yang membawanya ke dalam dunia telaah Alkitab secara akademik.

Lho, koq begitu?

Karena dari membaca Kitab Suci secara apa adanyalah kita menemukan banyak hal yang memerlukan pemikiran kritis untuk memungkinkan ia menjadi suatu “sistematika hikmat” guna mengarahkan penghayatan iman kita kepada keselamatan dalam Yesus Kristus (termasuk bagaimana mendefinisikan “keselamatan” itu secara bertanggung jawab) jika kita membaca Alkitab dalam lensa Kristiani.

Sebelum melanjutkan, saya rasa adalah waktu yang tepat pula untuk merespon banyak pernyataan yang saya terima selama ini yang kira-kira berbunyi, “Membahas iman dan Alkitab secara rumit bukanlah untuk saya atau kebanyakan orang. Tidak semua orang (Kristen) tertarik mendalami teologi, mereka lebih butuh pendalaman Alkitab yang mudah di cerna dan ‘berguna’ atau aplikatif, bukan teori di awang-awang.”

To be fair, saya pikir perlu dipahami disini bahwa teologi (“theos” = Tuhan; keilahian; “logia” = ilmu, pemahaman) bukanlah suatu pilihan dalam eksistensi kita yang terikat mutlak dengan proses menalar dan memahami, sama seperti kita tidak dapat menyangkali adanya udara dan bahwa suka tak suka setiap saat kita menghirup udara. Hanya dengan mendengar bagaimana Anda berdoa, memilih lagu Rohani kesukaan, “bersaksi” dan mengkorelasikan pengalaman Anda dengan keberadaan atau karya Allah, saya dapat menentukan posisi dan konstruksi teologis Anda. Kita semua memilikinya. Kita semua berteologi. Selama kita mengklaim diri sebagai umat yang berdoa dan membaktikan diri kepada Allah atau ingin mengenal Dia, ingin memahami dan menjelaskan bagaimana Ia hadir dalam ketidakpastian dunia, kita tidak dapat tidak berteologi! Bahkan seorang agnostik atau ateis pun berteologi melalui keraguan atau ketidakyakinannya akan Allah.

Memulai dengan kesadaran tadi adalah hal yang baik karena dengan itu kita dapat melihat bahwa tidak ada yang namanya kedewasaan rohani jika ia hanya bersifat magis atau kesalehan moral relatif belaka namun menolak pertumbuhan pemahaman yang lebih mendalam akan salah satu sokoguru iman kita, yakni bagaimana menafsirkan pesan Kitab Suci.

Maka, mari kembali menjelajah. Apa sih contoh hal-hal yang menuntut pemikiran kritis kita tentang Alkitab? (karena beriman secara naif dan irasional itu berbahaya)


1.  Kontradiksi & mutli-vokalitas

1.1. Contoh 1: Perbedaan urutan penciptaan. Manusia diciptakan dalam urutan terakhir (Kej 1:26), sedangkan dalam Kej 2:9,19, manusia diciptakan sebelum tumbuhan dan hewan-hewan.

1.2. Contoh 2: Perbedaan jenis binatang yang diperintahkan Allah untuk dikumpulkan oleh Nuh ke dalam bahtera sebelum air bah.

1.2.1.     Kejadian 6:19-20 menjelaskan bahwa semua hewan dibawa masing-masing SATU pasang, jantan dan betina,

1.2.2.     sedangkan dalam Kejadian 7:2-3 dikatakan bahwa dari hewan yang “haram” harus diambil TUJUH pasang dan hewan haram SATU pasang saja.

Dan lagi, Hukum tentang haram versus tahir baru ada jauh kemudian setelah Israel keluar dari Mesir. Ataukah kisah ini disusun pasca eksodus dari Mesir?

1.3. Contoh 3: Kontradiksi perintah dalam memperlakukan budak.

1.3.1.     Keluaran 21: bangsa Israel boleh memperbudak sesamanya, istri dan anak yang kemudian lahir setelah perbudakan tidak dapat dibebaskan.

1.3.2.     Namun, Ulangan 15:12-18 mengatakan: budak laki-laki MAUPUN perempuan Ibrani dapat dibebaskan setelah mengabdi selama 6 tahun.

1.3.3.     Dalam Imamat 25:39-43, bangsa Israel DILARANG memperbudak sesamanya, melainkan harus mengupah lantas dibebaskan pada tahun “Yobel”.

1.4. Contoh 4: Buah dari kesalehan tidaklah selalu berkah dan mereka yang jahat tidak selalu terjerat hukum.

1.4.1.     Ketika Allah menjanjikan berkat bagi yang saleh (Ul 28:1-2), Ayub malah mengalami tragedi besar (Ayub 1:1-22).

1.4.2.     Ketika Amsal 10:3 menjanjikan orang benar akan dipuaskan, Pengkhotbah 7:15 menggambarkan orang fasik yang mendapatkan apa yang mereka inginkan, begitu pula lewat keluhan Ahur bin Yake (Amsal 30).

1.5. Dan nampaknya Alkitab tidak selalu sepakat mengenai siapakah yang Allah kutuk atau berkati dan ampuni. Contoh ..

1.5.1.     Kota Niniwe diampuni Allah menurut kitab Yunus namun dihukum dalam kitab Nahun dan Zefanya.

1.5.2.     Yehu, raja Israel, menumpas Izebel dan keluarga raja Ahab atas perintah Allah (2Raj 9 & 10), namun dikecam dalam Hosea 1:4 sebagai “hutang darah”, apakah framing ini dilakukan oleh pihak dengan dua agenda berbeda?

1.6. Kronologi yang berbeda terkait kelahiran, silsilah dan lama pelayanan Yesus Kristus. Mat 1:6-7 menyebutkan garis keturunan Yusuf dari Salomo, sedangkan Luk 3:31 menarik garis silsilah dari Natan. Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) menuturkan bahwa Yesus hanya melayani selama sekitar setahun, sedangakan Injil Yohanes menggambarkan dari jumlah perayaan Paskah bahwa Yesus melayani selama sekitar 3 tahun.

1.7. Dalam Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), “pengudusan” Bait Allah dimana Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dilakukan menjelang akhir pelayanan-Nya (menjelang penyaliban), namun dalam Injil Yohanes hal itu dilakukan di awal pelayanan-Nya.

1.8. KESELAMATAN.. it’s not that simple. Rasul Paulus menekankan pentingnya iman dibandingkan perbuatan sebagai gambaran keselamatan dalam Kristus (Roma 3:28) sedangkan Surat Yakobus (Yakobus 2:24) menekankan bahwa iman perlu dibuktikan melalui perbuatan baik terhadap sesama. Apakah ini kontradiksi atau saling melengkapi? Apapun jawabnya, kedua narasi menjadi paradoks yang mau tak mau direkonsiliasi atau direnegosiasi dalam suatu ketegangan tertentu yang kita hidupi sehari-hari.


2.Motif Penulisan & Propaganda; 

      yang menjadi tantangan bagaimana menghayati iman Kristiani lewat warisan teks suci yang dipenuhi motif propaganda dan justifikasi pendudukan lahan Kanaan oleh suku bangsa Ibrani, motiv narasi legitimasi monarki Daud, dll. Hal-hal ini akan saya elaborasi di tulisan mendatang.


3.Isu Moral dan Hak Asasi Manusia

Alkitab secara teks tidak luput dari polemik dan kritik etika moral, sebagai contoh  adalah poin 1.3. tadi dimana Perjanjian Lama (dan Perjanjian Baru pula) ditulis dalam peradaban yang menormalisasi dan tidak masalah dengan adanya perbudakan, tentu ini bermasalah ketika kita atau kalangan Kristen tertentu mengklaim bahwa menurut teks, Allah berpendapat bahwa memperbudak atau mengeksploitasi kelompok masyarakat tertentu atau mendirikan sebuah negara “Kristen” dimana satu versi tafsir diskriminatif tertentu dinobatkan sebagai “kebenaran” Alkitabiah, semua itu menjadi tidak hanya diperbolehkan namun adalah juga “mandat Ilahi”. Anda mungkin berpikir bahwa saya bercanda. Namun inilah narasi yang digunakan di masa lalu untuk menjustifikasi dan membela penjajahan kolonial, perbudakan, berbagai Gerakan fasisme, persekusi kelompok religious minoritas, genosida dan penindasan lainnya berdasarkan diskriminasi dan kecurigaan rasial atau strata social, dan apakah yang dimanfaatkan dan disalahgunakan dalam semua ini? Ya, Alkitab.


4.Evolusi keyakinan Eskatologis (terkait alam baka, penghakiman setelah kematian, hari akhir / akhir zaman, dll)

Mengamati pergerakan penyusunan kitab-kitab dan peristiwa yang terjadi di seputarnya (penghancuran & pembuangan Israel ke Babilonia +/- thn 597 SM, penjajahan berulang di wilayah Palestina kuno oleh Persia, Yunani kemudia Romawi, penganiayaan gereja perdana dan pengusiran mereka dari Sinagoge lewat dekrit Jamnia/Yavne thn 90 Masehi, dll), kita dapat memahami bagaimana pergumulan “theodicy” atau upaya memahami keadilan dan kasih Allah di tengah ketidakpastian dan tragedi dunia (lih. 1.4. dan 1.5.) membawa pesan-pesan dalam kitab-kitab apokrifa (deuterokanonika, utamanya 1 & 2 Makabe) berevolusi penjadi keyakinan akan ganjaran di kehidupan selanjutnya (akhirat) dalam Judaisme (yang diteruskan ke dalam Kekristenan).

Lagi-lagi iman yang terbentuk karena kontradiksi baik dalam teks maupun antara iman dan kenyataan hidup, dan mungkin mengejutkan bagi sebagian kita, penghayatan ini adalah hasil renegosiasi teologis dalam memaknai Allah alih-alih asumsi bahwa semua sudah demikian sejak dulu (misal, di era monarki Daud dan setelahnya).

Bagi Anda yang menjelajah perihal penggunaan kata γέεννα “Gehenna” yang kemudian diterjemahkan sebagai “neraka” dalam banyak kutipan Injil, akan nampak jelas pula bagaimana imajinasi surga maupun neraka pasca kematian yang kita miliki hari ini banyak dipengaruhi oleh budaya popular terkemudian dan tentunya tidak ada dalam alam pemikiran masyarakat Yahudi di abad pertama masehi. Sebagai konsekuensi, kita perlu mempertimbangkan bahwa sementara kita mengimani ganjaran akhirat bagi kebaikan dan kejahatan dalam bentuknya yang terselubung bahasa kiasan dan mitologi, ajaran Kristus yang menyertai penggunaan kata “Gehenna” –  yang nyaris selalu mengecam keserakahan dan kekejaman manusia –   adalah prioritas dan instruksi yang lebih jelas dan karenanya tidak bisa diabaikan atau dinomorduakan.

 

Alkitab dipenuhi narasi-narasi yang saling bertentangan satu sama lain jika dibaca hanya secara literal. Menyangkal hal itu dengan serangkaian argumen dan “akrobatik” mental untuk “membuktikan” ketepatan historik-sientifik atau ketiadaan kontradiksi dalam Alkitab layaknya dilakukan oleh banyak “apologet” (pembela iman konservatif) justru mematahkan argumen di atas, karena akhirnya akan nampak nyata bahwa mereka pun selektif dalam menafsir dan dasar seleksi itu bukan kebenaran surgawi objektif melainkan keyakinan dogmatik mereka akan “sola scriptura” (Alkitab sebagai satu-satunya sumber iman) secara sempit, dan akhirnya Alkitab malah menjadi sulit untuk dipahami “apa adanya”, mereka bersikeras bahwa Alkitab harus dipahami melampaui tradisi, padahal tradisi iman lah yang memungkinkan penulisan, pelestarian dan kanonisasi Alkitab!

Bagi saya pribadi setelah banyak pembelajaran dan perenungan, memang iman kepada Kristus tidak bisa bertolak dari perspektif pembuktian forensik ala-ala konsep kebenaran era modernisme, itu akan sama saja memakai metodologi dari pihak yang Anda tentang untuk menguatkan argumen Anda, padahal iman adalah keterbukaan rasional akan dimensi misteri Allah. Maka di dalam keterbukaan itu, kita bisa koq tetap beriman tanpa perlu malu mengakui bahwa:

1.     Alkitab disusun dalam periode peradaban kuno dimana bahasa mitologi, hiperbola dan alegori adalah cara yang umum dalam menceritakan kisah maupun tokoh yang amat berpengaruh atau diimani sangat dekat dengan keterlibatan Sang Pencipta.

2.     Kita semua pilih-pilih koq dalam menafsir Alkitab. Tidak ada yang sempurna, and it’s OK. Kita dan Gereja sepanjang sejarah telah melakukan proses teologisasi dan renegosiasi penafsiran dan penyesuaian (kontekstualisasi) teks-teks purba dalam Alkitab dengan kehidupan kita saat ini. Dan persis karena itulah Allah melalui Alkitab masih “berbicara” kepada kita hingga hari ini. Yang terpenting adalah pemahaman dan metodologi pembacaan yang dapat dipertanggungjawabkan dan setia dengan tradisi iman para Rasul yang mereka terima dari Kristus. Di sinilah menurut saya pentingnya katekisasi dan dialog biblika secara terdidik dan egaliter, bukan bible study independent non-kredibel sana-sini, bukan juga debat kusir dengan sembarang mengutip ayat tanpa konteks yang jelas dan pemikiran yang runut. Katekisasi yang baik meski seolah membosankan dan terlalu akademik, justru adalah sarana pencegahan terhadap keimanan yang fundamentalistik manipulatif dan anti akal sehat serta beriman secara sehat. Sebagaimana seorang sahabat teolog mengatakan, “syarat utama berteologi cuma satu.. waras”.

 

Maka, mari waspada jika ada mereka yang mengklaim paham dan mengajarkan pada Anda “kebenaran Alkitabiah” namun yang pada akhirnya membuat pembedaan dan penghakiman akan siapa yang benar dan salah tanpa mengijinkan Alkitab untuk dibaca secara kritis dari lensa Yesus Kristus yang penuh keterbukaan dan semangat kesetaraan serta pembebasan.

 

Berkah dalem.

FZ 趙健忠

 

#3of30 #30harimenulis

 

Catatan:

Dr. Enns, Dr. Walter Bruegemann, Rm. Henri Nouwen (alm.), Rev. Tish Harrison Warren dan Dr. Miguel de La Torre  adalah para cendikia dan teolog yang tulisannya menginspirasi saya secara massif dalam dekonstruksi / peralihan interpretative dari pandangan spiritualitas yang fundamentalistik menuju universalitik, progresif dan kritis terhadap muatan propaganda dan kolonialisme dalam pewartaan Kitab Suci, namun sekaligus kembali kepada apresiasi mendalam terhadap Sejarah Gereja, pemikiran pujangga Gereja maupun liturgi yang sakramental dan ekaristis dalam keseharian.

Mengenai ironi konsep kebenaran "konservatif" yang menjadi problematik secara humanis, juga telah saya tulis di sini.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...


Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.