Pendidikan vs Indoktrinasi?
1 Petrus 3:15b "Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu.."
Studi MTS biblika saya akan mulai bbrp bulan lagi. Sambil membangun stamina baca, saya bergulat dengan "Evangelical Faith & The Challenge of Historical Criticism" karya Dr. Christopher Hays, profesor studi PL di Fuller Theological Seminary ¹. Saya akan mengambil kesempatan khusus untuk membedah buku keren ini, namun singkatnya saja dahulu, Bab 1 menyediakan landasan bagi target pembaca dari arus iman evangelikal untuk meyakini bahwa kedaulatan Allah (sebagaimana menjadi salah satu fokus doktrinal) maupun keyakinan dalam makna apapun tentang "benarnya" iman Kristen menjadi prasyarat makna akan keyakinan bahwa Alkitab merupakan literatur yang diinspirasikan oleh Allah, bukan sebaliknya.
Dan karenannya dua hal ini tak lantas berkonflik apalagi batal apabila teks Alkitab ditemukan "tak sempurna" dalam telaah kritis historis. Terlepas innerant atau errant nya Alkitab, Allah dalam kedaulatan yang sama telah memilih dan mengilhaminya. Iman tetaplah keputusan karena keyakinan akan realita spiritual akan Kristus, tidak tergantung kemenangan apologetika apalagi perang-perangan ayat yang tidak bermanfaat banyak selain memperparah polarisasi yang tak perlu.
Bagi saya dengan skor 135/160 Duolingo English Test pun butuh bantuan AI di sana sini untuk menjelaskan gramatika, arah pembicaraan atau maksud kalimat. Bagi non akademisi atau merek yang tak mendalami diskusi teologis akan cukup berat mencerna karya yang sejatinya indah & mencerahkan ini.
Lantas berkilas balik bertahun-tahun silam, dalam sebuah diskusi politik suatu stasiun TV, di tengah panasnya suhu politik & maraknya skandal, seorang politisi angkat bicara, "kita perlu berdoa bagi bangsa ini", sebuah komentar berdiksi Kristiani kontras di tengah ekosistem lokal yang mayoritas tak seiman.
Sejenak opini tadi mendulang simpati karena terkesan "berani". Namun nyaris spontan ia di counter oleh panelis lainnya, seorang rohaniwan Katolik sekaligus pengamat & aktivis politik, ia nampak keberatan utk diwakilkan oleh simplifikasi problem & solusi simplistik semacam itu.
Lantas, baru-baru ini, seorang pendeta muda "populer & lucu imut" merespon tentang kekerasan di Palestina, dalam program stasiun TV. Ia pun menuai sanggahan panelis karena opini permisif yang saya pahami sebagai lensa "Darby's Rapture Theology" ² imajinasi abad ke-19 yg menang publikasi berkat "ketekunan" kaum dispensasionalis US pasca "Jesus Movement" di era perang Vietnam, dan ia tidak mewakili arus tradisi tafsir apostolik bapa-bapa gereja, pun bukan pemikiran yang sama sekali dianggap serius dalam diskursus & konteks seminari-seminari terakreditasi.
Di sinilah gundah itu mengemuka.
Ketika komentar pakar evangelikal seperti Dr. Gary Burge ³ mengenai isu Palestina ⁴ tak terdengar. Ketika banyak sinode menetapkan syarat akademik rendah untuk pentahbisan pengerja pastoral apalagi yang sifatnya mengajar, seakan tak melihat masalah mindset biner "yang penting terpanggi oleh Allah" terkait isu kredibilitas yang sulit diverifikasi & rawan manipulasi.
Dan yg cukup segar dlm ingatan, bagaimana Paus Leo XIV, seorang sarjana matematika, penyandang M.Div & doktor hukum gereja yang amat paham doktrin "peperangan demi kebajikan" (Just War Doctrine) dibingkai seolah tak paham teologi oleh mereka yang lantang berpublikasi & dekat dengan kekuasaan, namun justru tak punya kompetensi & kredensial apapun perkara pastoral & filsafat ketuhanan.
Atau kala pandemi, dlm ramainya kontroversi tagline Black Lives Matter, dari podcast diskusi ⁵ antara Dr. Antipas Harris ⁶ & Dr. Dale M. Coulter ⁷ terkait agama & isu rasial, saya baru tahu (dan kaget) bahwa kalangan kristen konservatif Injili Amerika kerap melabel mrk yang peduli akan isu kemanusiaan dan rasial sebagai "komunis".
Akhirnya, semua mengkristal ke dalam refleksi berikut:
Sejauh mana kita mencari apa yang kita klaim & junjung sebagai "kebenaran"? Apakah dengan pendidikan dimana pemberian ruang & "lisensi" utk bertanya, berpikir ulang serta mendengar suara2 yg berbeda menjadi fitur utamanya, ataukan kita puas dengan indoktrinasi yg berputar-putar saja dalam ruang gaung yang sekadar memvalidasi keseyakinan? Karena jika demikian, masuk akal bahwa "keyakinan dipanggil" jadi nomor satu dan berpikir runut tentang iman itu "nomor sekian", harus tunduk pada dogma, atau harus selalu dicurigai.
Meski tak lazim ijinkan saya menutup dengan sebuah pertanyaan.
Apakah Anda tak keberatan jika misalnya membutuhkan tindakan operasi namun Anda ditangani oleh tenaga bedah non lisensi hanya lantaran jaman dahulu kala profesi medis itu amatir & eksperimental sifatnya? 🙏😁
FZ 趙健忠 ✍️📚🥋☦️
#112
Silakan support konten ini di tautan berikut🙏💕
https://bit.ly/3OB8LD7
Footnote :
2. Dan Koch - https://bit.ly/4tzwgM2 ; Jared Stacey - https://bit.ly/4cEu0vG
5. FB clip tsb kini sdh tdk tersedia
Here are other things in the "intersections" and "union" of faith and action. Enjoy! ☺️🙏💕
