Tuesday, March 4, 2025

TEOLOGI KURANG KERJAAN



Yohanes 9:2-3

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."


"Apakah ini karena hukuman Tuhan?"

"Ini hukuman Tuhan karena wilayah itu penuh orang yang tidak seiman dengan kita" atau "karena di situ sarang maksiat!"

"Si A selamat padahal sekitarnya kena semua, itu karena ia berdoa."

"Kita harus berdoa agar pagar perlindungan Tuhan tidak diangkat dari kita."


Pernah mendengar kalimat atau narasi demikian? Ketika baru-baru ini terjadi kebakaran hutan hebat di kawasan Los Angeles, Amerika Serikat, media sosial dipenuhi dengan para "nabi" & pengkhotbah dadakan & kambuhan. Di sini pun tak ada bedanya, hal serupa terjadi pula saat berbagai bencana terjadi di dalam negeri.

Mengapa sikap dan pola pikir demikian bermasalah dan sejujurnya sangat mengesalkan bagi saya?

  1. Karena ia menunjukkan pemahaman yg dangkal akan kuasa maupun misteri karya Allah. Jika Allah memang menghakimi Dia tdk mengenal collateral damage (Kej 18:25), dlm kasus kebakaran LA, menuduh "dosa" Holywood, padahal lokasi korban jauh dari sana, sama saja mengatakan bahwa Allah itu rabun & tidak bisa membidik. Namun fakta bahwa segala kalangan jadi korban sudah meruntuhkan argumen tadi.
  2. Masih terkait misteri, narasi tadi tidak sejalan dgn pesan-pesan kontra atau "anti mainstream" yang dilestarikan dalam Alkitab. Mulai dari kitab Ayub, Mazmur, Yunus dam lainnya, semua tidak men-"sensor" kenyataan bahwa orang beriman pun bisa menderita kemalangan & orang jahat seolah diluputkan. Selain itu saat bermurah hati, Allah tdk tunduk pada siapa yg kita pandang layak (Rm 9:15, Yun 4:11), meskipun kita menggunakan ayat-ayat sebagai pembelaan maupun senjata. "Ketidakadilan" dan pertanyaan sulit terkait hal inilah yg mendewasakan iman. Sedangkan bicara soal brain rot karena keseringan menkonsumsi konten rendah mutu, saya khawatir bahwa aksi mencari pengikut dengan cara menebar ajaran berkat-kutuk transaksional yg naif dan mengada-ada hanya akan menahan kerohanian dan iman kita tetap kerdil, belum lagi faham kesalehan "egosentris" macam ini cenderung memanfaatkan kemalangan sesama untuk melontarkan tuduhan dan penghakiman yang tidak menolong siapapun selain menyakiti perasaan para korban.
  3. Teologi pembalasan apalagi dgn kekerasan bukanlah jalan, karya & perutusan Yesus yg kepadanya kita dipanggil (Luk 4:18-19). Karenanya, saya tidak pernah simpati dengan konten clickbait dan ruang gaung yang menarasikan bahwa Allah membalas perlakuan tidak hormat seseorang dengan musibah atau kejadian mengerikan. Bukannya saya permisif dengan sikap tak hormat pada Allah, namun saya berada pada posisi yang beropini bahwa sebaiknya kita menjaga sikap kita sendiri pada Allah dan sesama. Selebihnya, tidakkah kita bersukacita jika mereka akhirnya diberi kesempatan menyadari dan akhirnya mengasihi Allah? Patut direnungkan bahwa kita cenderung menginginkan keadilan dan menyerukan konsekuansi atau kualat jika itu dosa orang lain, namun jika itu dosa kita, kita pasti menginginkan anugerah dan keringanan. Saya takkan lelah mengulangi bahwa "Gehenna" yang digunakan Yesus Kristus, yang kemudian diterjemahkan sebagai "neraka" dalam Injil penuh nuansa alegori dan sepantasnya terbuka untuk interpretasi dan negosiasi, sedangkan perintah (sebagai kesimpulan kisah "hukuman Allah" tersebut) yakni untuk bermurah hati adalah literal & tak bisa ditawar-tawar.

Dalam kutipan Yohanes 9 di atas Yesus melanjutkan di ayat 4 dengan pernyataan ini:

"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja"

Saya pikir cukuplah sudah menganalisa sebab adanya bencana dan derita karena lazimnya ia akan berakhir menjadi sarana dehumanisasi, penghakiman, sekaligus pencitraan kesalehan semu kita sendiri. Bukankah ketika hari masih siang, ketika waktu masih memungkinkan, ketika kita masih hidup dan diberi kemampuan, bahkan ketika Yesus telah hadir dalam dunia dan hidup kita, bukankah pekerjaan Allah yang mengutus itu yang perlu diutamakan? Mari dalam memaknai Allah dan karya-Nya kita pun ikut berkarya menjadi sandaran bahkan fulcrum (titik ungkit) untuk mengangkat derajat hidup mereka yang membutuhkan atau ditimpa kemalangan, karena di sanalah Yesus menghadirkan diri-Nya agar baik yang menolong atau ditolong berjalan bersama salib yang dipanggul oleh Sang Penebus yang sama setia selamanya.



Berkah dalem.

FZ 趙健忠


#6of30 #30harimenulis




Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Ketika dua orang buta disembukan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa berbicara tentang dan kepada Sang Kristus adalah hak dan kehormatan setiap orang.

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Sunday, March 2, 2025

JADI SIAPA YANG SEBENARNYA BUTA?



Kisah disembuhkannya Bartimeus dari kebutaan (bdk. Markus 10:46-52) atau seorang buta anonim yang lantas diusir dari rumah ibadah dan ditolak oleh keluarganya setelah disembuhkan (bdk. Yohanes 9:1-41), keduanya menyingkapkan hikmat yang luar biasa saat dibaca dengan kritis & pemahaman konteks yang memadai.

Bartimeus yang berseru-seru memanggil Yesus sebagai Mesias משיח (sedangkan orang2 yg "sehat" & tidak cacat malah meragukan-Nya) menyerukan kritik pedas 🌶️ 🔥 yang sama kala Yesus menjawab para Farisi di Yohanes 9. Nampaknya keterbatasan pandangan tdk membatasi pengenalan akan Allah, setidaknya tak separah kemunafikan orang banyak yanh menyuruh Bartimeus diam yang lantas berubah 180 derajat menyemangati Bartimeus saat Yesus ternyata memanggilnya (bdk. ayat 48-49), atau perasaan benar sendiri & elitisme Farisi dgn doktrin berkat-kutuk "deuteronomis" mereka yang ketat & penuh penghakiman itu.

Menarik bahwa baik orang banyak dalam Markus 10 maupun kaum Farisi dlm Yohanes 9, sama-sama menggambarkan atau merepresentasikan mayoritas masyarakat yang kerap menyuruh mereka yang dipandang tidak capable utk DIAM. Padahal Bartimeus menyerukan kebenaran tentang identitas mesianik Yesus dan orang buta dalam Yohanes 9 menegur kaum Farisi bahwa Taurat yg mereka pandang secara sempit itu pun kontra terhadap tuduhan mereka kalau-kalau Yesus berkarya melalui kuasa gelap melawan יהוה Yahweh.

Betapa membebaskannya ketika kita sadar bahwa kedua kisah orang buta yang disembuhkan ini tak hanya bicara soal mujizat supernatural utk mereka yang memenangkan perlombaan iman yang transaksional (yang justru merangsang motivasi ke arah kemunafikan, triumfantalisme/mengagungkan pencapaian & pragmatisme/memperalat Allah). Namun keduanya bercerita & menyemangati kita yang mungkin punya gagasan berbeda mengenai Alkitab, tentang kebenaran, mengenai etika atau simply tentang cara menjalani hidup. Bisa jadi berdua orang buta tersebut secara kronologi lebih awal mengakui Mesias ketimbang Santo Petrus yg katanya sokoguru Gereja! 

Mengutip sahabat saya, Pdt. DR. Timothy Athanasios M.Min., "Bartimeus itu seolah mau berkata : Gue boleh saja buta, tapi gue kan ga bisu.. Ko Felix, teruslah berbicara di hadapan mrk yg menyuruhmu diam." 🥹🙏💕

Mungkin ada yg membutuhkan kalimat itu pula hari ini, jika ya, BICARALAH, Anda boleh jadi salah & punya bias, tapi itu urusan lain. Semua bisa didiskusikan & diluruskan, namun tak ada orang yang lebih berhak beropini atau terpanggil lebih daripada Anda hingga berhak menegasi penghayatan & pengalaman Anda akan Allah. Berbicaralah, berjuanglah utk ruang dialog yg aman bagi semua.



Berkah dalem.

FZ 趙健忠 💕🙏🍿📚🕊️🌈

#5of30 #30harimenulis


Tq @holy_heretics (Sdr. Freddy Sulaiman) buat referensi "kupasan" Bartimeus nya 🙏


Kutipan lengkap nats yg digunakan :

Markus 10:46-52 -- https://alkitab.app/v/20605ef57e3a

Yohanes 9:1-41 -- https://alkitab.app/v/c3c525ad1258


Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Mengapa obsesi "kebenaran absolut", membuktikan atau membela Alkitab malah menyebabkan kita kesulitan membacanya?

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

THE SIN OF CERTAINTY


Kemarin saya tertidur lebih awal karena enam sesi mengajar kemarin yg melelahkan. Dan ketika terbangun dinihari, saya menemukan pertanyaan ini di grup WhatsApp keluarga kami dari salah satu putera kami.

Dia baru saja menyaksikan video yang "membuktikan" eksistensi Tuhan lewat argumen fisika mengenai alam semesta & energi. Pertanyaannya nan simpel ini tetap mengagumkan saya. Maklum, kebanyakan orang umumnya manggut-manggut saja atau tergesa-gesa berseru "Amin!" dalam euforia semu bahwa "agama telah menang atas ateisme" atau bahwa "God is not dead!" Well, ada masanya juga dulu saya akan merespon serupa, to be fair. Terlepas dari kompleksitas tersendiri untuk menjelaskan apa yg dimaksudnya sebagai "benar" atau "nyata",  this young man dianugerahi pikiran cukup kritis utk mempertanyakan klaim video tersebut.


Salah satu fitur yg akan Anda alami ketika belajar kitab suci secara kritis adalah KETERKEJUTAN. Ya, saya terkejut bahwa dulu saya - seperti banyak orang dlm keluarga maupun komunitas Iman saya tak tahu bhw:

1. Kitab Kejadian tidak ditulis secara final sebelum periode monarki Israel (±1000 SM) dan kisah "penciptaan" di dalamnya bukanlah fakta historis melainkan narasi puitis, atau ..

2. Bahwa kisah penciptaan dunia terdengar mirip dengan narasi "Enuma Elish" atau kisah Nuh yang sangat mirip dengan epik "Gilgamesh" dalam peradaban Mesopotamia kuno, atau ..

3. Bahwa sejarah para patriark & Kerajaan Istael-Yehuda sebagaimana banyaknya kontradiksi antara kitab Raja-Raja versus Tawarikh, lebih didasari motif propaganda & politik teritorial ketimbang sejarah yang "netral & objektif", atau ..

4. Bahwa beberapa kitab PB termasuk surat Timotius & Titus sangat mungkin adalah "pseudoepigraf" (seseorang yang menulis dengan mengaku sebagai Paulus), atau

5. Bahwa tak ditemukan sumber di luar Alkitab yang mengkonfirmasi mujizat & kebangkitan Kristus... Atau Masih banyak lagi..

Dan mungkin keterkejutan yang tak kalah besarnya adalah banyak dari kita yang mengharuskan Alkitab untuk menjadi kitab yang akurat secara literal historis agar ia dapat melandasi iman akan Allah. Kita takut kalau-kalau Alkitab terbukti tak handal secara saintifik & karenanya mencoba "membela Iman", hingga di tahap yang terkadang mengada-ada atau melalu perdebatan dengan melupakan pemberitaan melalui kasih dan teladan sikap yang mulia.

Padahal Alkitab akan selamanya berselubungkan misteri & bahwa mengimani melampaui "rasa pasti" lah tanda bahwa Allah ada & bahwa Roh-Nya berkarya menuntun hati kita pada Kristus. Iman tak anti akal budi namun ia tak sedemikian rapuh dan insecure sampai seolah hidup matinya tergantung pada bukti. 💕🙏


Berkah dalem

FZ 趙健忠

#4of30 #30harimenulis 



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...

Jangan lekas tersulut dengan kritik soal menafsirkan Alkitab "semaunya", kita dan bahkan sang penuduh juga melakukannya koq 🤭🤭

Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Dari Motto René Descartes, "Cogito Ergo Sum", mari menelusuri kontroversi dan polemik kekristenan konservatif versus progresif. Apakah pemikiran liberal adalah suatu kesesatan baru?

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Thursday, February 20, 2025

KETIKA TIDAK MENGAPA UNTUK TIDAK “OBJEKTIF”

 

Dari Ilusi Kebenaran “Absolut” kepada Sadar Berteologi dan Mendialogkan Dogmatika sebagai Sesama Peziarah Iman


 

Pagi ini di Saya menemukan konten berikut dari Peter Enns, kontributor SBL (Society ofBiblical Literature) yang beranjak lansia namun masih asyik, casual dan santun dalam mengkomunikasikan perspektif akademik kepada masyarakat awam. (link video dapat dibuka di bawah ini untuk memperjelas konteks)

https://bit.ly/4k4ptpe atau https://bit.ly/3X7IVrv


Video diawali ketika seorang pembicara dengan yakin dan mantap menyampaikan bahwa :

  •        Kita tidak bisa pilih-pilih dalam meyakini hal-hal dalam Kitab Suci.
  •        Mereka yang melakukan penafsiran secara demikian bukanlah seorang Kristiani.

Yang kemudian dilanjutkan dengan opini dan argumen Dr. Enns bahwa pendekatan sang pembicara yang diistilahkan sebagai Taking The Bible at Face Value (menerima isi Alkitab secara literal “apa adanya”) justru menjadi hal yang membawanya ke dalam dunia telaah Alkitab secara akademik.

Lho, koq begitu?

Karena dari membaca Kitab Suci secara apa adanyalah kita menemukan banyak hal yang memerlukan pemikiran kritis untuk memungkinkan ia menjadi suatu “sistematika hikmat” guna mengarahkan penghayatan iman kita kepada keselamatan dalam Yesus Kristus (termasuk bagaimana mendefinisikan “keselamatan” itu secara bertanggung jawab) jika kita membaca Alkitab dalam lensa Kristiani.

Sebelum melanjutkan, saya rasa adalah waktu yang tepat pula untuk merespon banyak pernyataan yang saya terima selama ini yang kira-kira berbunyi, “Membahas iman dan Alkitab secara rumit bukanlah untuk saya atau kebanyakan orang. Tidak semua orang (Kristen) tertarik mendalami teologi, mereka lebih butuh pendalaman Alkitab yang mudah di cerna dan ‘berguna’ atau aplikatif, bukan teori di awang-awang.”

To be fair, saya pikir perlu dipahami disini bahwa teologi (“theos” = Tuhan; keilahian; “logia” = ilmu, pemahaman) bukanlah suatu pilihan dalam eksistensi kita yang terikat mutlak dengan proses menalar dan memahami, sama seperti kita tidak dapat menyangkali adanya udara dan bahwa suka tak suka setiap saat kita menghirup udara. Hanya dengan mendengar bagaimana Anda berdoa, memilih lagu Rohani kesukaan, “bersaksi” dan mengkorelasikan pengalaman Anda dengan keberadaan atau karya Allah, saya dapat menentukan posisi dan konstruksi teologis Anda. Kita semua memilikinya. Kita semua berteologi. Selama kita mengklaim diri sebagai umat yang berdoa dan membaktikan diri kepada Allah atau ingin mengenal Dia, ingin memahami dan menjelaskan bagaimana Ia hadir dalam ketidakpastian dunia, kita tidak dapat tidak berteologi! Bahkan seorang agnostik atau ateis pun berteologi melalui keraguan atau ketidakyakinannya akan Allah.

Memulai dengan kesadaran tadi adalah hal yang baik karena dengan itu kita dapat melihat bahwa tidak ada yang namanya kedewasaan rohani jika ia hanya bersifat magis atau kesalehan moral relatif belaka namun menolak pertumbuhan pemahaman yang lebih mendalam akan salah satu sokoguru iman kita, yakni bagaimana menafsirkan pesan Kitab Suci.

Maka, mari kembali menjelajah. Apa sih contoh hal-hal yang menuntut pemikiran kritis kita tentang Alkitab? (karena beriman secara naif dan irasional itu berbahaya)


1.  Kontradiksi & mutli-vokalitas

1.1. Contoh 1: Perbedaan urutan penciptaan. Manusia diciptakan dalam urutan terakhir (Kej 1:26), sedangkan dalam Kej 2:9,19, manusia diciptakan sebelum tumbuhan dan hewan-hewan.

1.2. Contoh 2: Perbedaan jenis binatang yang diperintahkan Allah untuk dikumpulkan oleh Nuh ke dalam bahtera sebelum air bah.

1.2.1.     Kejadian 6:19-20 menjelaskan bahwa semua hewan dibawa masing-masing SATU pasang, jantan dan betina,

1.2.2.     sedangkan dalam Kejadian 7:2-3 dikatakan bahwa dari hewan yang “haram” harus diambil TUJUH pasang dan hewan haram SATU pasang saja.

Dan lagi, Hukum tentang haram versus tahir baru ada jauh kemudian setelah Israel keluar dari Mesir. Ataukah kisah ini disusun pasca eksodus dari Mesir?

1.3. Contoh 3: Kontradiksi perintah dalam memperlakukan budak.

1.3.1.     Keluaran 21: bangsa Israel boleh memperbudak sesamanya, istri dan anak yang kemudian lahir setelah perbudakan tidak dapat dibebaskan.

1.3.2.     Namun, Ulangan 15:12-18 mengatakan: budak laki-laki MAUPUN perempuan Ibrani dapat dibebaskan setelah mengabdi selama 6 tahun.

1.3.3.     Dalam Imamat 25:39-43, bangsa Israel DILARANG memperbudak sesamanya, melainkan harus mengupah lantas dibebaskan pada tahun “Yobel”.

1.4. Contoh 4: Buah dari kesalehan tidaklah selalu berkah dan mereka yang jahat tidak selalu terjerat hukum.

1.4.1.     Ketika Allah menjanjikan berkat bagi yang saleh (Ul 28:1-2), Ayub malah mengalami tragedi besar (Ayub 1:1-22).

1.4.2.     Ketika Amsal 10:3 menjanjikan orang benar akan dipuaskan, Pengkhotbah 7:15 menggambarkan orang fasik yang mendapatkan apa yang mereka inginkan, begitu pula lewat keluhan Ahur bin Yake (Amsal 30).

1.5. Dan nampaknya Alkitab tidak selalu sepakat mengenai siapakah yang Allah kutuk atau berkati dan ampuni. Contoh ..

1.5.1.     Kota Niniwe diampuni Allah menurut kitab Yunus namun dihukum dalam kitab Nahun dan Zefanya.

1.5.2.     Yehu, raja Israel, menumpas Izebel dan keluarga raja Ahab atas perintah Allah (2Raj 9 & 10), namun dikecam dalam Hosea 1:4 sebagai “hutang darah”, apakah framing ini dilakukan oleh pihak dengan dua agenda berbeda?

1.6. Kronologi yang berbeda terkait kelahiran, silsilah dan lama pelayanan Yesus Kristus. Mat 1:6-7 menyebutkan garis keturunan Yusuf dari Salomo, sedangkan Luk 3:31 menarik garis silsilah dari Natan. Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) menuturkan bahwa Yesus hanya melayani selama sekitar setahun, sedangakan Injil Yohanes menggambarkan dari jumlah perayaan Paskah bahwa Yesus melayani selama sekitar 3 tahun.

1.7. Dalam Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), “pengudusan” Bait Allah dimana Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dilakukan menjelang akhir pelayanan-Nya (menjelang penyaliban), namun dalam Injil Yohanes hal itu dilakukan di awal pelayanan-Nya.

1.8. KESELAMATAN.. it’s not that simple. Rasul Paulus menekankan pentingnya iman dibandingkan perbuatan sebagai gambaran keselamatan dalam Kristus (Roma 3:28) sedangkan Surat Yakobus (Yakobus 2:24) menekankan bahwa iman perlu dibuktikan melalui perbuatan baik terhadap sesama. Apakah ini kontradiksi atau saling melengkapi? Apapun jawabnya, kedua narasi menjadi paradoks yang mau tak mau direkonsiliasi atau direnegosiasi dalam suatu ketegangan tertentu yang kita hidupi sehari-hari.


2.Motif Penulisan & Propaganda; 

      yang menjadi tantangan bagaimana menghayati iman Kristiani lewat warisan teks suci yang dipenuhi motif propaganda dan justifikasi pendudukan lahan Kanaan oleh suku bangsa Ibrani, motiv narasi legitimasi monarki Daud, dll. Hal-hal ini akan saya elaborasi di tulisan mendatang.


3.Isu Moral dan Hak Asasi Manusia

Alkitab secara teks tidak luput dari polemik dan kritik etika moral, sebagai contoh  adalah poin 1.3. tadi dimana Perjanjian Lama (dan Perjanjian Baru pula) ditulis dalam peradaban yang menormalisasi dan tidak masalah dengan adanya perbudakan, tentu ini bermasalah ketika kita atau kalangan Kristen tertentu mengklaim bahwa menurut teks, Allah berpendapat bahwa memperbudak atau mengeksploitasi kelompok masyarakat tertentu atau mendirikan sebuah negara “Kristen” dimana satu versi tafsir diskriminatif tertentu dinobatkan sebagai “kebenaran” Alkitabiah, semua itu menjadi tidak hanya diperbolehkan namun adalah juga “mandat Ilahi”. Anda mungkin berpikir bahwa saya bercanda. Namun inilah narasi yang digunakan di masa lalu untuk menjustifikasi dan membela penjajahan kolonial, perbudakan, berbagai Gerakan fasisme, persekusi kelompok religious minoritas, genosida dan penindasan lainnya berdasarkan diskriminasi dan kecurigaan rasial atau strata social, dan apakah yang dimanfaatkan dan disalahgunakan dalam semua ini? Ya, Alkitab.


4.Evolusi keyakinan Eskatologis (terkait alam baka, penghakiman setelah kematian, hari akhir / akhir zaman, dll)

Mengamati pergerakan penyusunan kitab-kitab dan peristiwa yang terjadi di seputarnya (penghancuran & pembuangan Israel ke Babilonia +/- thn 597 SM, penjajahan berulang di wilayah Palestina kuno oleh Persia, Yunani kemudia Romawi, penganiayaan gereja perdana dan pengusiran mereka dari Sinagoge lewat dekrit Jamnia/Yavne thn 90 Masehi, dll), kita dapat memahami bagaimana pergumulan “theodicy” atau upaya memahami keadilan dan kasih Allah di tengah ketidakpastian dan tragedi dunia (lih. 1.4. dan 1.5.) membawa pesan-pesan dalam kitab-kitab apokrifa (deuterokanonika, utamanya 1 & 2 Makabe) berevolusi penjadi keyakinan akan ganjaran di kehidupan selanjutnya (akhirat) dalam Judaisme (yang diteruskan ke dalam Kekristenan).

Lagi-lagi iman yang terbentuk karena kontradiksi baik dalam teks maupun antara iman dan kenyataan hidup, dan mungkin mengejutkan bagi sebagian kita, penghayatan ini adalah hasil renegosiasi teologis dalam memaknai Allah alih-alih asumsi bahwa semua sudah demikian sejak dulu (misal, di era monarki Daud dan setelahnya).

Bagi Anda yang menjelajah perihal penggunaan kata γέεννα “Gehenna” yang kemudian diterjemahkan sebagai “neraka” dalam banyak kutipan Injil, akan nampak jelas pula bagaimana imajinasi surga maupun neraka pasca kematian yang kita miliki hari ini banyak dipengaruhi oleh budaya popular terkemudian dan tentunya tidak ada dalam alam pemikiran masyarakat Yahudi di abad pertama masehi. Sebagai konsekuensi, kita perlu mempertimbangkan bahwa sementara kita mengimani ganjaran akhirat bagi kebaikan dan kejahatan dalam bentuknya yang terselubung bahasa kiasan dan mitologi, ajaran Kristus yang menyertai penggunaan kata “Gehenna” –  yang nyaris selalu mengecam keserakahan dan kekejaman manusia –   adalah prioritas dan instruksi yang lebih jelas dan karenanya tidak bisa diabaikan atau dinomorduakan.

 

Alkitab dipenuhi narasi-narasi yang saling bertentangan satu sama lain jika dibaca hanya secara literal. Menyangkal hal itu dengan serangkaian argumen dan “akrobatik” mental untuk “membuktikan” ketepatan historik-sientifik atau ketiadaan kontradiksi dalam Alkitab layaknya dilakukan oleh banyak “apologet” (pembela iman konservatif) justru mematahkan argumen di atas, karena akhirnya akan nampak nyata bahwa mereka pun selektif dalam menafsir dan dasar seleksi itu bukan kebenaran surgawi objektif melainkan keyakinan dogmatik mereka akan “sola scriptura” (Alkitab sebagai satu-satunya sumber iman) secara sempit, dan akhirnya Alkitab malah menjadi sulit untuk dipahami “apa adanya”, mereka bersikeras bahwa Alkitab harus dipahami melampaui tradisi, padahal tradisi iman lah yang memungkinkan penulisan, pelestarian dan kanonisasi Alkitab!

Bagi saya pribadi setelah banyak pembelajaran dan perenungan, memang iman kepada Kristus tidak bisa bertolak dari perspektif pembuktian forensik ala-ala konsep kebenaran era modernisme, itu akan sama saja memakai metodologi dari pihak yang Anda tentang untuk menguatkan argumen Anda, padahal iman adalah keterbukaan rasional akan dimensi misteri Allah. Maka di dalam keterbukaan itu, kita bisa koq tetap beriman tanpa perlu malu mengakui bahwa:

1.     Alkitab disusun dalam periode peradaban kuno dimana bahasa mitologi, hiperbola dan alegori adalah cara yang umum dalam menceritakan kisah maupun tokoh yang amat berpengaruh atau diimani sangat dekat dengan keterlibatan Sang Pencipta.

2.     Kita semua pilih-pilih koq dalam menafsir Alkitab. Tidak ada yang sempurna, and it’s OK. Kita dan Gereja sepanjang sejarah telah melakukan proses teologisasi dan renegosiasi penafsiran dan penyesuaian (kontekstualisasi) teks-teks purba dalam Alkitab dengan kehidupan kita saat ini. Dan persis karena itulah Allah melalui Alkitab masih “berbicara” kepada kita hingga hari ini. Yang terpenting adalah pemahaman dan metodologi pembacaan yang dapat dipertanggungjawabkan dan setia dengan tradisi iman para Rasul yang mereka terima dari Kristus. Di sinilah menurut saya pentingnya katekisasi dan dialog biblika secara terdidik dan egaliter, bukan bible study independent non-kredibel sana-sini, bukan juga debat kusir dengan sembarang mengutip ayat tanpa konteks yang jelas dan pemikiran yang runut. Katekisasi yang baik meski seolah membosankan dan terlalu akademik, justru adalah sarana pencegahan terhadap keimanan yang fundamentalistik manipulatif dan anti akal sehat serta beriman secara sehat. Sebagaimana seorang sahabat teolog mengatakan, “syarat utama berteologi cuma satu.. waras”.

 

Maka, mari waspada jika ada mereka yang mengklaim paham dan mengajarkan pada Anda “kebenaran Alkitabiah” namun yang pada akhirnya membuat pembedaan dan penghakiman akan siapa yang benar dan salah tanpa mengijinkan Alkitab untuk dibaca secara kritis dari lensa Yesus Kristus yang penuh keterbukaan dan semangat kesetaraan serta pembebasan.

 

Berkah dalem.

FZ 趙健忠

 

#3of30 #30harimenulis

 

Catatan:

Dr. Enns, Dr. Walter Bruegemann, Rm. Henri Nouwen (alm.), Rev. Tish Harrison Warren dan Dr. Miguel de La Torre  adalah para cendikia dan teolog yang tulisannya menginspirasi saya secara massif dalam dekonstruksi / peralihan interpretative dari pandangan spiritualitas yang fundamentalistik menuju universalitik, progresif dan kritis terhadap muatan propaganda dan kolonialisme dalam pewartaan Kitab Suci, namun sekaligus kembali kepada apresiasi mendalam terhadap Sejarah Gereja, pemikiran pujangga Gereja maupun liturgi yang sakramental dan ekaristis dalam keseharian.

Mengenai ironi konsep kebenaran "konservatif" yang menjadi problematik secara humanis, juga telah saya tulis di sini.



Silakan klik beberapa kisah di bawah ini untuk membaca blog lengkapnya ...


Kenyataan diagnosa penyakit membawa saya merenungkan tentang kedewasaan dalam memahami iman yang melibatkan penerimaan akan realitas.

Apa hubungan perkembangan kosmologi dan fisika kuantum dalam menemukan kembali inklusivitas dalam dialog iman?

Segurat protes terhadap "tradisi" manipulasi narasi "alkitabiah" tentang kepatuhan dan pahala dalam relasi komunal termasuk bergereja.

Membingkai dosa dalam lensa keselamatan postmortem imajinatif personal (baca: "egoistik") terkadang membuat kita lupa bahwa dosa juga adalah sistem perusakan jalinan dunianya Allah, fisik & komunal.

Contoh-contoh Kontradiksi dan Polemik dalam Teks Alkitab yang Memerlukan Pendekatan Kritik Tekstual

 

Apa sih contoh hal-hal yang menuntut pemikiran kritis kita tentang Alkitab? (karena beriman secara naif dan irasional itu berbahaya)

 

1.     Kontradiksi & mutli-vokalitas

 

1.1.          Contoh 1: Perbedaan urutan penciptaan. Manusia diciptakan dalam urutan terakhir (Kej 1:26), sedangkan dalam Kej 2:9,19, manusia diciptakan sebelum tumbuhan dan hewan-hewan.

 

1.2.          Contoh 2: Perbedaan jenis binatang yang diperintahkan Allah untuk dikumpulkan oleh Nuh ke dalam bahtera sebelum air bah.

1.2.1.     Kejadian 6:19-20 menjelaskan bahwa semua hewan dibawa masing-masing SATU pasang, jantan dan betina,

1.2.2.     sedangkan dalam Kejadian 7:2-3 dikatakan bahwa dari hewan yang “haram” harus diambil TUJUH pasang dan hewan haram SATU pasang saja.

Dan lagi, Hukum tentang haram versus tahir baru ada jauh kemudian setelah Israel keluar dari Mesir. Ataukah kisah ini disusun pasca eksodus dari Mesir?

 

1.3.          Contoh 3: Kontradiksi perintah dalam memperlakukan budak.

1.3.1.     Keluaran 21: bangsa Israel boleh memperbudak sesamanya, istri dan anak yang kemudian lahir setelah perbudakan tidak dapat dibebaskan.

1.3.2.     Namun, Ulangan 15:12-18 mengatakan: budak laki-laki MAUPUN perempuan Ibrani dapat dibebaskan setelah mengabdi selama 6 tahun.

1.3.3.     Dalam Imamat 25:39-43, bangsa Israel DILARANG memperbudak sesamanya, melainkan harus mengupah lantas dibebaskan pada tahun “Yobel”.

 

1.4.          Contoh 4: Buah dari kesalehan tidaklah selalu berkah dan mereka yang jahat tidak selalu terjerat hukum.

1.4.1.     Ketika Allah menjanjikan berkat bagi yang saleh (Ul 28:1-2), Ayub malah mengalami tragedi besar (Ayub 1:1-22).

1.4.2.     Ketika Amsal 10:3 menjanjikan orang benar akan dipuaskan, Pengkhotbah 7:15 menggambarkan orang fasik yang mendapatkan apa yang mereka inginkan, begitu pula lewat keluhan Ahur bin Yake (Amsal 30).

 

1.5.          Dan nampaknya Alkitab tidak selalu sepakat mengenai siapakah yang Allah kutuk atau berkati dan ampuni. Contoh ..

1.5.1.     Kota Niniwe diampuni Allah menurut kitab Yunus namun dihukum dalam kitab Nahun dan Zefanya.

1.5.2.     Yehu, raja Israel, menumpas Izebel dan keluarga raja Ahab atas perintah Allah (2Raj 9 & 10), namun dikecam dalam Hosea 1:4 sebagai “hutang darah”, apakah framing ini dilakukan oleh pihak dengan dua agenda berbeda?

 

1.6.          Kronologi yang berbeda terkait kelahiran, silsilah dan lama pelayanan Yesus Kristus. Mat 1:6-7 menyebutkan garis keturunan Yusuf dari Salomo, sedangkan Luk 3:31 menarik garis silsilah dari Natan. Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) menuturkan bahwa Yesus hanya melayani selama sekitar setahun, sedangakan Injil Yohanes menggambarkan dari jumlah perayaan Paskah bahwa Yesus melayani selama sekitar 3 tahun.

 

1.7.          Dalam Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), “pengudusan” Bait Allah dimana Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dilakukan menjelang akhir pelayanan-Nya (menjelang penyaliban), namun dalam Injil Yohanes hal itu dilakukan di awal pelayanan-Nya.

 

1.8.          KESELAMATAN.. it’s not that simple. Rasul Paulus menekankan pentingnya iman dibandingkan perbuatan sebagai gambaran keselamatan dalam Kristus (Roma 3:28) sedangkan Surat Yakobus (Yakobus 2:24) menekankan bahwa iman perlu dibuktikan melalui perbuatan baik terhadap sesama. Apakah ini kontradiksi atau saling melengkapi? Apapun jawabnya, kedua narasi menjadi paradoks yang mau tak mau direkonsiliasi atau direnegosiasi dalam suatu ketegangan tertentu yang kita hidupi sehari-hari.

 

2.     Motif Penulisan & Propaganda; yang menjadi tantangan bagaimana menghayati iman Kristiani lewat warisan teks suci yang dipenuhi motif propaganda dan justifikasi pendudukan lahan Kanaan oleh suku bangsa Ibrani, motiv narasi legitimasi monarki Daud, dll. Hal-hal ini akan saya elaborasi di tulisan mendatang.

 

3.     Isu Moral dan Hak Asasi Manusia

Alkitab secara teks tidak luput dari polemik dan kritik etika moral, sebagai contoh  adalah poin 1.3. tadi dimana Perjanjian Lama (dan Perjanjian Baru pula) ditulis dalam peradaban yang menormalisasi dan tidak masalah dengan adanya perbudakan, tentu ini bermasalah ketika kita atau kalangan Kristen tertentu mengklaim bahwa menurut teks, Allah berpendapat bahwa memperbudak atau mengeksploitasi kelompok masyarakat tertentu atau mendirikan sebuah negara “Kristen” dimana satu versi tafsir diskriminatif tertentu dinobatkan sebagai “kebenaran” Alkitabiah, semua itu menjadi tidak hanya diperbolehkan namun adalah juga “mandat Ilahi”. Anda mungkin berpikir bahwa saya bercanda. Namun inilah narasi yang digunakan di masa lalu untuk menjustifikasi dan membela penjajahan kolonial, perbudakan, berbagai Gerakan fasisme, persekusi kelompok religious minoritas, genosida dan penindasan lainnya berdasarkan diskriminasi dan kecurigaan rasial atau strata social, dan apakah yang dimanfaatkan dan disalahgunakan dalam semua ini? Ya, Alkitab.

 

4.     Evolusi keyakinan Eskatologis (terkait alam baka, penghakiman setelah kematian, hari akhir / akhir zaman, dll)

Mengamati pergerakan penyusunan kitab-kitab dan peristiwa yang terjadi di seputarnya (penghancuran & pembuangan Israel ke Babilonia +/- thn 597 SM, penjajahan berulang di wilayah Palestina kuno oleh Persia, Yunani kemudia Romawi, penganiayaan gereja perdana dan pengusiran mereka dari Sinagoge lewat dekrit Jamnia/Yavne thn 90 Masehi, dll), kita dapat memahami bagaimana pergumulan “theodicy” atau upaya memahami keadilan dan kasih Allah di tengah ketidakpastian dan tragedi dunia (lih. 1.4. dan 1.5.) membawa pesan-pesan dalam kitab-kitab apokrifa (deuterokanonika, utamanya 1 & 2 Makabe) berevolusi penjadi keyakinan akan ganjaran di kehidupan selanjutnya (akhirat) dalam Judaisme (yang diteruskan ke dalam Kekristenan).

Lagi-lagi iman yang terbentuk karena kontradiksi baik dalam teks maupun antara iman dan kenyataan hidup, dan mungkin mengejutkan bagi sebagian kita, penghayatan ini adalah hasil renegosiasi teologis dalam memaknai Allah alih-alih asumsi bahwa semua sudah demikian sejak dulu (misal, di era monarki Daud dan setelahnya).

Bagi Anda yang menjelajah perihal penggunaan kata γέεννα “Gehenna” yang kemudian diterjemahkan sebagai “neraka” dalam banyak kutipan Injil, akan nampak jelas pula bagaimana imajinasi surga maupun neraka pasca kematian yang kita miliki hari ini banyak dipengaruhi oleh budaya popular terkemudian dan tentunya tidak ada dalam alam pemikiran masyarakat Yahudi di abad pertama masehi. Sebagai konsekuensi, kita perlu mempertimbangkan bahwa sementara kita mengimani ganjaran akhirat bagi kebaikan dan kejahatan dalam bentuknya yang terselubung bahasa kiasan dan mitologi, ajaran Kristus yang menyertai penggunaan kata “Gehenna” –  yang nyaris selalu mengecam keserakahan dan kekejaman manusia –   adalah prioritas dan instruksi yang lebih jelas dan karenanya tidak bisa diabaikan atau dinomorduakan.

Sunday, February 16, 2025

MEMAHAMI

Semangat Belajar lewat Praktek Kerendahan Hati dan Semangat Metanoia dalam Ajaran Kristiani

 




“Belum cancer.” Demikian ujar dokter spesialis saluran cerna tempat saya berkonsultasi 2 tahun silam karena gangguan pendarahan terkait radang usus dan ambein kronis. Kata dan istilah seperti “remisi, biopsi, patologi, tumor marker” dan lainnya terkait pemeriksaan dan diagnosis saya waktu itu menjadi kata-kata yang menteror jiwa namun kian lama jadi terbiasa. Seiring perbaikan kondisi hal lain yang tak kalah disyukuri adalah kesempatan yang begitu berharga untuk merenungkan kaitan antara realita kehidupan dan panggilan untuk menjadi lebih paham dan bijaksana, suatu panggilan spiritual untuk menjaga semangat pembelajar.

Sama seperti hal-hal terkait onkologi (sel-sel, perkembangan abnormal, kanker dll) yang bisa kita pelajari secara formal maupun general karena “paksaan” keadaan ketika keluarga atau diri sendiri menghadapi gejala atau resiko terkait, maka terkait hal-hal atau bidang lainnya kita akan menemukan setidaknya dua hal:

  1. Mempelajari sesuatu secara serius itu tidak nyaman, dibutuhkan upaya ekstra untuk memahami atau mengingat hal-hal asing. Berita baiknya, sejak itu, konsep-konsep baru tersebut akan menambah dan manunggal dengan cara kita melihat dan memahami kehidupan. Kita akan menyadari “blind spot” atau “kebutaan” kita semula dalam menanggapi realita, mungkin kita akan serba salah dan malu jika mengingat bagaimana “blind spot” kita dulu mendikte respon dan ucapan kita.
  2. Kita akan menyadari kompleksitas kehidupan yang mulanya akan menambah ketidaknyamanan dan kegelisahan, namun jika kita mengijinkan proses ini berlanjut, kita akan tiba dalam sebuah kesadaran yang memampukan kita untuk hidup lebih bijaksana, sadar akan kondisi spiritual terdalam kita yakni panggilan dan tujuan kehidupan kita. Kita menjadi semakin kenal dan bergerak ke arah harmoni dengan diri sendiri maupun sesama. 

Bicara soal kebijaksanaan dan harmoni, teori Efek Dunning-Kruger mengangkat sebuah ironi, bahwa ketika kita masih rendah kompetensi akan suatu pengetahuan atau topik, kita cenderung merasa sudah paham.

Namun ketika mulai mendalami suatu ilmu, kita akan masuk pada fase kegelisahan dan putus asa, kita sadar bahwa dari kebenaran yang demikian dalam tentang suatu hal, kita seolah baru menyelesaikan halaman kulit atau pengantar dari sebuah buku mahatebal. Selanjutnya, asalkan kita tetap tekun dan tak menyerah kita akan tiba pada fase penguasaan, kompetensi dan keahlian. Di tahap ini, kita akan cenderung menahan diri dan berhati-hati dalam beropini karena kita tahu dalam kompetensi yang tinggi tersebut, hal tersebut tidaklah sederhana. Sebagian juga mungkin dikarenakan sulitnya menjelaskan kepada mereka yang masih di tahap awal efek ini. Dalam polah tingkah mereka kita berkaca melihat diri kita yang dulu naif namun banyak bicara.

Ketika sadar bahwa dalam kondisi mengarah ke perkembangan tumor yang harus dijaga ketat agar tidak mengganas, kata “remisi” adalah realita yang harus diterima karena ia tidak simpati pada kebutuhan kita akan rasa aman yang semu di balik naifnya kata “sembuh” atau “sakit”.  Meminjam ekspresi Pdt. Dr. Leo Epafras, “digantung atau diberi harapan palsu oleh mantan itu tidak enak”.

Kita bisa saja memilih kenaifan meski itu disamarkan dengan terminologi spiritual seperti berdoa, mengandalkan Tuhan dan sebagainya, tidak apa-apa, selama kita tidak menyangkali “stages of grief” kita dimana kita secara kejiwaan diperbolehkan untuk berproses, berkabung, takut, menolak, marah, dan seterusnya. Menjadi Rohani atau mempercayai Tuhan tidak mengharuskan kita mem-bypass kemanusiaan kita. Atau, mungkin kita dapat mencoba menapaki jalur yang lebih “tinggi” lagi, sulit namun baik. Kita bisa belajar menerima realita, bersyukur untuk waktu hidup dan sekadar kesehatan yang masih ada, memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih terbuka, mudah diakses dan dicintai oleh orang-orang terdekat kita. 

Belajar dan menjadi lebih paham membuka diri kita untuk disakiti, menjadi takut, kehilangan kepastian, bahkan menanggalkan konsep-konsep ilusif dalam cara kita membaca Firman Tuhan, kita diminta melucuti penafsiran-penafsiran yang kita buat terhadap ayat atau kisah tertentu yang sebenarnya lahir dari proyeksi ketakutan kita, perasaan trauma berkekurangan kita, atau kebutuhan mendalam kita akan kepastian terutama terkait hal-hal yang tidak dapat kita pastikan seperti masa depan maupun kematian.

 

“Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup , yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itulah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1 – TB2)

Menarik bahwa St. Paulus dalam Roma 12:1 di atas menggunakan kata λογική σας λατρεία “logike sas latreia” (penyembahan yang logis atau dilakukan dengan akal budi yang sehat) untuk menggambarkan gagasan “a proper worship” atau penyembahan yang sejati atau pantas. Nampaknya bagi Paulus, penyembahan yang pantas diterima Allah dari kita dan penggunaan akal sehat dan kapasitas akal budi kita bukanlah hal yang sama sekali saling bertentangan. Senada, seorang sahabat mengingatkan saya, "Syarat utama berteologi cuma satu: waras." Maka betapa kontrasnya pemahaman tadi dengan sikap banyak pemuka dan jemaat hari ini yang mempertentangkan kedua hal tersebut dalam bentuk kerohanian yang menyangkali realita dan malah anti-intelektual. Bahkan saya kenal sejumlah pihak yang menggunakan ayat-ayat untuk membingkai para pembelajar sebagai orang-orang sombong yang tidak mengandalkan Allah. Ini keterlaluan.

Selanjutnya, Paulus menuliskan dalam ayat 2: “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.”

Tak kalah menariknya bahwa kata “pembaharuan” atau perombakan di ayat tersebut diterjemahkan dari kata Yunani ἀνακαινίσεως  “anakainiseos” yang berkaitan erat secara konsep dengan kata “metanoia” yang sering diterjemahkan sebagai “bertobat”.

Kesaksian Alkitab akan Yesus Kristus justru memberikan janji “insentif” berupa kedamaian ketika kita berani melangkah keluar dari diri sendiri untuk beriman, dan dalam hal inilah pendirian saya sejalan dengan perkataan Anselmus dari Canterbury, “Fides Cuaraens Intellectum” (karena iman maka kita mencari pengertian).

Mereka yang membaktikan hidupnya untuk terus belajar, membuka diri untuk menjadi rentan, mempertimbangkan bahwa orang lain bisa jadi ada benarnya, membuka pintu hati untuk diyakinkan dan berubah pikiran tentang sesuatu, bukankah ini semangat yang dikatakan rasul Paulus dalam Filipi 2:2b-3 TB2?

“Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri.”

Jika penyembahan yang berkenan pada Allah tidak bisa dipisahkan dari ekspresi akal budi untuk berpikir dan percaya secara runut tentang Allah dan karya-Nya, tidakkah tak terpisahkan pula “metanoia” atau pertobatan dari pembelajaran dan percakapan dua arah dalam kesetaraan? Tidakkah kekerasan hati dan kepala akan menghalangi kita dalam pertobatan yakni jalan memperoleh perkenanan Allah?

Maka saya percaya bahwa iman adalah sungguh-sungguh iman bukan ketika kita menentang pengetahuan, namun ketika kita belajar dan karenanya semakin paham akan realita ketidakpastian (bahkan dalam memahami narasi teks kitab suci pun), namun tetap memilih berserah kepada misteri penyelenggaraan Allah, sambil terus berjaga-jaga dan kritis dalam menjaga pintu percakapan tetap terbuka dalam menjawab segala bentuk upaya menciptakan atau memaksakan kepastian semu dengan memaipulasi Firman Allah.

Mari mengingat bahwa kita dipanggil menjadi MURID Kristus, bukan untuk memenuhi bangunan Gereja, kita diutus untuk menjadikan segala bangsa MURID-Nya, dan setahu saya murid yang baik bukan yang manggut-manggut saja namun yang banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit yang meresahkan namun perlu dijawab.

 

Berkah Dalem - FZ 趙健忠

Amrih Mulyo Dalem Gusti – AMDG

#20f30 #30harimenulis

Friday, April 12, 2024

Cogito Ergo Sum

Apakah "Kebenaran Objektif dan Absolut Alkitabiah" merupakan Konsep yang "Sehat"?


Sadarkah Anda bahwa argumen di bawah ini bukanlah sepenuhnya berasal dari tradisi iman Gereja mula-mula, namun buah dari pemikiran modern, bahkan dalam ekspresi tertuanya baru mendominasi sejak pasca reformasi di abad XVI? (Penjelasan di bawah dan seterusnya) :

"Jangan gunakan pemikiran sendiri*, taatlah pada apa kata Alkitab karena itu menandakan Iman kepada Tuhan, Alkitab tidak mungkin salah dan pesan dalam Alkitab akan selalu objektif dan netral karena berasal dari Allah, disampaikan langsung pada kita."


Cogito Ergo Sum (Saya Berpikir Maka Saya Ada; Berpikir memberikan makna terhadap eksistensi manusia)

Mengapa memahami motto Descartes ini penting dalam menyikapi isu dan kontroversi "progresivitas" maupun "dekonstruksi" spiritual?

Banyak orang akan menduga bahwa Saya mengangkat motto ini sebagai contoh pemikiran modern "duniawi" yang mencoba menggantikan standar kebenaran sebagaimana yang dapat ditemukan orang percaya dalam Alkitab.

Well, meski itu tidak salah (sepenuhnya), namun yang hendak ditekankan di sini adalah bahwa narasi konservatisme Kristiani tertentu yang menyatakan bahwa Alkitab mampu memberikan perspektif kebenaran filosofis yang objektif dan non-bias, pemikiran demikian ternyata juga bertumpu pada gagasan modernisme yang sama. Mengapa demikian?


Polemik "Kekristenan Progresif"

Akhir-akhir ini khususnya di dunia maya, istilah "kristen progresif" banyak disalahartikan baik oleh mereka yang mendukung maupun menentangnya. Banyak orang, awam maupun rohaniwan berapologet (berusaha membela keyakinan doktrinal) bahwa "dekonstruksi" rohani merupakan "buah" pemikiran progresif pasca modernisme (postmo) yang "menyerang kebenaran alkitabiah", namun benarkah demikian?

Sejatinya, "progresif" atau progresivitas berpusat pada upaya aktualisasikan suatu pola pikir agar dapat bermakna dan menjadi jawaban dalam situasi dunia hari ini dalam setting lokasi atau budaya tertentu. Dan "dekonstruksi" (yang sering disalahpahami sebagai upaya sengaja untuk menyesatkan diri atau orang lain terkait nilai moral/spiritual kristiani), sejatinya adalah sesederhana respon istri saya seusai saya menjelaskannya, "Oo.. maksud nya penafsiran?". 🤭👍


Hubungan Dekonstruksi dengan Pemikiran Progresif

Menurut Jaques Derrida, bapak dekonstruksi modern, dekonstruksi menyerupai proses membongkar sesuatu untuk kemudian merakit kembali menjadi suatu yang baru. Proses ini terjadi secara spontan (tidak disengaja dan tak terelakkan niscaya terjadi) saat kita memaknai suatu teks atau hal non-tekstual yang dapat dinarasikan, misalnya pengalaman hidup. Dekonstruksi spiritual spontan terjadi ketika kita membaca isi Alkitab (karena kita pasti menafsirkan maknanya sesuai pemahaman kita atau agar teks yang sangat lampau tersebut "berbicara" pada kita di saat ini).

Maka dalam hal ini mereka yang mengaku "konservatif" sekalipun dalam tahap tertentu mau tidak mau akan mengalami dekonstruksi dan progresivitas. Ironisnya banyak pihak yang tergesa-gesa menghakimi pemikiran progresif maupun dekonstruksi dalam kekristenan belum pernah mendengar tentang Derrida, sang pencetus konsep ini, apalagi membaca atau mencoba memahami apa yang dimaksudkannya.


Progresivitas dan Dekonstruksi dalam Alkitab dan Sejarah Gereja

Dalam diskursus/wacana akademik biblika, sejarah iman yang didokumentasikan dalam Alkitab, maupun sejarah perkembangan Gereja diwarnai kisah-kisah yang menggambarkan bahwa dekonstruksi dan progresivitas telah berlangsung lebih banyak, integral dan esensial dari yang kita sadari maupun akui. 

Ketika dinamika sosial terjadi pasca eksodus orang-orang Yahudi menuju Kanaan, mereka berprogres sehingga narasi mengenai cara memperlakukan budak mengalami pergeseran dalam hak maupun kesetaraan gender (Bdk. Kel 21 dengan Ul 15).

Ketika umat Israel mengenal orang-orang di pengasingan Babilonia dan mulai melihat mereka sebagai manusia, ketimbang para iblis penjajah, progresi dalam soteriologi (konsep keselamatan dan rahmat Allah) mereka melahirkan kitab Yunus yang menarasikan pengampunan Allah kepada kota Niniwe, ini berbeda dengan narasi kitab Nahum dimana Niniwe dihukum dan dimusnahkan.

Di masa pasca pembuangan ke Babilonia maupun pasca penghancuran Bait Suci Kedua tahun 72 Masehi, komunitas religius Yahudi "dipaksa" untuk mendekonstruksi ibadah wajib berupa pengorbanan hewan yang tidak dapat lagi mereka lakukan karena ketiadaan Bait Suci. Dari progresifitas inilah lahir Judaisme Rabinik seperti yang kita kenal hari ini.

Progresivitas yang sama juga terjadi sedemikian rupa sehingga dalam rangka menguatkan konsep trinitas, gereja Katolik Roma mengubah narasi bahwa "Roh Kudus keluar/diutus Bapa, sama seperti Putera" yang telah disepakati dalam konsili Nicea, menjadi "Roh Kudus diutus dari Bapa dan Putera". Hal ini menyebakan apa yang dikenal sebagai kontroversi "filioque" (diutus atau keluar dari siapa) yang menyulut perpecahan awal antara gereja Roma dengan kekristenan Timur pra reformasi Protestan.

Progresivitas terjadi pula dalam gerakan evangelikalisme di Amerika Serikat, hari ini Anda takkan mendengar lagi ajaran Gereja-gereja ini mengenai segregasi atau pemisahan antara ras kulit putih dan ras lainnya dalam aktivitas publik, atau dukungan atas perbudakan. Ya, mereka mendukung hal-hal tersebut di masa lalu, dengan mengutip ayat-ayat Alkitab dan mengklaim bahwa pendirian mereka "alkitabiah" adanya.

Hal yang sama secara spesifik terjadi dalam kontroversi kebijakan Bob Jones University, South Carolina, Amerika Serikat, yang sejak tahun 1983 hingga 2000 melarang perkencanan antar-ras di lingkungan kampus, lagi-lagi berdasarkan tafsiran akan Alkitab.

Bagaimana pula mengenai posisi gereja mengenai kontrasepsi dan reproduksi? Tidaklah sulit untuk menemukan dokumentasi bahwa hingga sekitar 100 tahun silam banyak gereja yang menganggap kontrasepsi selain dari pada sistem kalender sebagai Hal yang menyalahi ajaran Alkitab. Beberapa denominasi bahkan Masih mempertahankan pendirian tersebut hingga saat artikel ini ditulis.

Maka, apa yang berubah? Mungkinkah perubahan akan penafsiran tekstual tertentu akan Alkitab menjadi suatu keniscayaan bagi mereka yang sungguh-sungguh mempelajari teks suci tersebut?


Sekali Lagi tentang Postmodernisme versus Modernisme

Pada kenyataannya, postmodernisme yang melahirkan pemikiran progresif dan dekonstruktif adalah kritik akan cara berpikir modernis. Dan melanjutkan silogisme tersebut, dekonstruksi merupakan kritik postmedernisme terhadap klaim modernisme akan Alkitab. 

Postmodernisme secara progresif menantang klaim bahwa "cogito ergo sum" termasuk terhadap Alkitab dapat dilakukan. Bahwa kalau pun kebenaran dalam diri Allah itu objektif, dapatkah manusia yang sejatinya subjektif ini mengartikulasikannya dengan sempurna?

Dan meminjam konsep spontanitas dekontruksi Jaques Derrida, apakah mungkin (dengan pemahaman kita masa kini akan proses pembentukan gagasan melalui ekspresi bahasa), bahwa gagasan sempurna Allah dapat terinternalisasi dalam diri pembaca Alkitab dengan mem-bypass konteks hidup, proses berpikir dan interpretasi?


Implikasi Eklesiologis dan Teologi Publik

Implikasinya, pembiaran terhadap narasi yang agresif-konfrontatif terhadap dekonstruksi teologis beresiko menghasilkan polarisasi yang kontra-produktif dan dinamika politik yang tidak sehat dalam kehidupan bergereja. Mereka yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan jujur yang terlahir dari tragedi kehidupan, pengalaman traumatis terkait pelanggaran etika dalam pelayanan dan penggembalaan dapat serta merta diredam dan dimarginalisasi demi konservasi kenyamanan dan kekuasaan sebagian pihak dalam komunitas iman dengan mengatasnamakan "otoritas Alkitab".

Maka menyikapi arus pemikiran postmodernisme secara terburu-buru, apriori dan bermusuhan adalah sikap yang berbahaya. Sebaliknya, adalah bijaksana untuk memandang pergerakan postmodernisme dalam spiritualitas Kristiani secara dialogis sebagai dinamika ecclesia semper reformanda (Gereja yang senantiasa diperbaharui/bereformasi) demi mengangkat kembali pembacaan yang mempertimbangkan banyak faktor seperti sains, perkembangan peradaban, dan terlebih utama, konteks kehidupan manusia dan permasalahan dunia yang senantiasa menjadi "moving target" dari iman kita akan Kabar Baik Kristus.


Amrih Mulyo Dalem Gusti


FZ 趙健忠



Catatan:

* Ekspresi ini seringkali didasarkan pada kutipan dari Amsal 3:5 berikut

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."

Masalahnya, ketika kita mempertimbangkan konteks lokal perikopnya saja, kita akan menemukan dalam ayat 6 dan 7 bahwa ekspresi ini berbicara tentang kecenderungan pemikiran manusia yang melakukan kejahatan, maka bersandar kepada Allah tidak hanya bermakna "meyakini hal-hal yang benar", namun juga menjauhi tindakan yang merugikan sesama. Konteks Amsal 3:5-7 mendorong kita tidak berhenti hanya pada meyakini "doktrin yang benar", namun mencapai keutuhannya dalam tindakan solidaritas Kristiani sebagaimana tercermin dalam "Sabda Bahagia" (bdk. Mat 5:1-12)

Amsal 3:6-7 (TB) 

"Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 

Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;"



* Silakan memberikan komentar dan sharing pengalaman Anda di bagian komentar dan membagikan tulisan ini kepada siapa saja yang mungkin tertarik atau membutuhkan. Terima kasih.



Refleksi lainnya :