Rekan2 terkasih, berikut salinan/terjemahan dari "Purpose Statement" yang saya susun sebagai persyaratan beasiswa penuh di Garrett Evangelical Theological Seminary, (GETS) Evanston, Illinois, US (program online pascasarjana studi teologia, fokus Perjanjian Lama & sastra Ibrani kuno).
Berhubung informasi dari salah satu sponsor & sahabat saya Ps. Finki Kantohe, M.Th., mengenai warna pendidikan di GETS yang mengadvokasi pluralitas dan kesetaraan, saya memanfatkan "tantangan administrasi" tersebut sebagai peluang untuk berbagi kisah hidup dlm menavigasikan keberadaan sebagai minoritas baik agama maupun suku & bgmn semua itu menuntun saya pada hasrat mendalam menggali kitab suci dlm konteks sastra purba nya dan menemukan di dalam nya berita anugerah, kesembuhan dari trauma komunitas & generasional, serta pesan keadilan bagi semua.
Kiranya menjadi berkat & inspirasi ..
Berkah Dalem
FZ ✍️📚☦️🌈
================
Menjadi seorang Kristen Indonesia keturunan Tionghoa merupakan sebuah tantangan besar yang darinya kisah unik saya dibentuk dan dinarasikan.
Lahir sebagai anak sulung dari dua putra orang tua "peranakan" yang beremigrasi dari Kalimantan Barat ke Jakarta, saya turut merasakan trauma generasi dan komunitas mereka. Dari pengalaman mereka menghadapi kekerasan militer selama konfrontasi Indonesia-Malaysia, juga penutupan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa secara nasional pada tahun 1960-an, keluarga kecil kami yang bertahan & tumbuh di bawah diskriminasi selama beberapa dekade harus terancam lagi oleh kerusuhan sipil tahun 1998 dan beberapa "riak" di masa sesudahnya.
Propaganda yang bermuatan rasial, kerusuhan yang dihasut yang menargetkan bisnis dan tempat tinggal kaum peranakan, stereotip kesenjangan sosial, atau dikaitkan dengan komunisme, kami telah berhasil menjalani kehidupan kelas menengah urban sambil membawa kesadaran ini, menavigasi prasangka dan marginalisasi (peminggiran).
Setelah mengalami semua hal di atas, secara retrospektif (napak tilas), ada rasa bangga yang mendasari. Sebagai peranakan Kristen, kami telah dianiaya karena ras dan iman kami, dan saya kira itulah salah satu alasan mengapa iman dan kisah Kristus selalu menjadi titik fokus yang signifikan dari mana kisah-kisah saya dibingkai ulang, dan bagaimana transformasi teologis saya dipertanggungjawabkan. Dan demikianlah saya akan berbagi keyakinan dan nilai-nilai saya, secara retrospektif.
Saya percaya akan kesucian perjalanan rohani setiap orang.
Warisan Iman Katolik Roma saya dan perjalanan menghayati pentekostalisme, lantas menemukan & meninggalkan sejumlah keyakinan Injili pascamoderen utk lantas kembali menghargai tradisi asal saya sekaligus merengkuh "Wesleyan quadrilateral" (4 pondasi Iman menurut Metodisme), semua ini akan dipermasalahkan oleh pemahaman keselamatan yang tertutup, namun tetaplah menjadi perenungan atas sejarah penafsiran kita, sebuah mikrokosmos dimana Allah berkarya.
Dulu saya berpikir bahwa sikap "on edge" (siaga & tegang) adalah satu2nya cara menghadapi masalah beragama di Indonesia, dimana kami kaum nasrani mengkhawatirkan terbentuknya negara Islam, sdgkn faksi2 lain yg kerap mengklaim mewakili seluruh umat Muslim merasa terancam dengan narasi "kristenisasi" (gerakan mengubah kepercayaan mereka menjadi Kristiani).[1]
Namun seiring membuka diri terhadap diskursus/wacana universalisme Kristiani & beriman dalam kemasyarakatan yg majemuk, saya tak hanya menerima namun juga menumbuhkan kepedulian yang tulus terhadap para mitra & kolega Muslim serta mereka dari latar keyakinan beragam. Sejak itulah saya belajar menjumpai Allah melalui mereka.
Bersedia hidup dalam paradoks atau "ketegangan" Iman.
Usaha obsesif saya akan pengejaran teologis & biblika takkan membawa "kehidupan" tanpa suatu imajinasi "apofatik" (Allah yang dikenal bukan krn pernyataan-Nya yg dikumandangkan, namun krn karya-Nya yang misterius & melampaui kemampupahaman, apofatik adalah lawan dari "katafatik" sebagaimana dominan dalam kekristenan Barat, mengenal Allah melalui pernyataan Allah dan menelusuri apa yang bisa kita temukan dan pahami darinya).
Dukacita karena kehilangan ibunda tercinta oleh sakit yang mendadak, kegagalan karier, pergumulan keuangan, didiagnosa dengan kondisi saluran cerna yg menakutkan, prahara hidup dan kesan "chaos" telah mengajarkan bahwa menolak merengkuh misteri justru melemahkan iman.
Saya menemukan bahwa perjumpaan dengan Allah lewat kerentanan bahkan ketidakberdayaan, justru menjadi contoh indah akan apa yang kerap didengungkan oleh para penganut Kristen konservatif, "jangan membatasi Allah".
Saya menghargai kejujuran akademis, data, dialog, literasi teologis, dan studi Alkitab ketimbang apologetika dogmatisme buta & indoktrinasi.
Pengalaman menemukan narasi alternatif dalam berdialog dengan tafsir arus utama, dan kemudian dikucilkan oleh komunitas gereja yg pernah saya anggap sbg "rumah", menunjukkan adanya rasa insecure (tidak aman), ajaran yg dipengaruhi trauma, penginjilan yg narsistik-pragmatis, dan bagaimana fundamentalisme menyekap para penganutnya dalam "gelembung-gelembung" klaim kebenaran yang terisolasi serta iman yang berbasis pada (manipulasi) ketakutan dan/atau rasa malu.
Saya menghasrati tugas "sederhana" ini, menyebarkan kesadaran bahwa apa yg kita rasakan & ketahui tentang Tuhan sejatinya adalah diri kita sendiri yg sedang berteologi, dan itu tidak masalah (karena Allah pun berkarya di dalamnya). Justru berpikir secara dikotomis bahwa pewahyuan akan meniadakan inisiatif dan "agency" (jatidiri, kemampukaryaan) kita atau bahwa kita dapat berpikir dan mengindera "di luar" Allah menjadi sebuah konsep bermasalah.
Saya percaya bahwa pertobatan paling baik dilakukan melalui pendidikan.
Mempertimbangkan pendapat & hikmat orang lain di atas pendapat kita sendiri lebih penting daripada sekadar benar secara legal.
Saya percaya bahwa etos kemauan untuk terus belajar adalah lokus (tempat) di mana kita bertemu Tuhan, yang merupakan "Sang Yang Sepenuhnya Berbeda" secara utuh, dan pada gilirannya, "kelainan" (otherness) membantu kita dalam perenungan dan penemuan jatidiri. Lagipula, John Calvin pernah menuliskan, "mengenal Tuhan dan mengenal diri sendiri terikat oleh hubungan timbal balik".
Keadilan rasial dan sosial memiliki tempat khusus di hati saya.
Karena pernah mengalami diskriminasi rasial & sosial, Imamat 19:34 dan Ulangan 24:18 (tentang perintah Allah lewat Musa tentang bgmn memperlakukan budak & orang asing secara manusiawi), adalah pengingat tujuan mengapa saya berteologi.
Setelah memahami bahwa Alkitab ditulis melalui pengalaman mereka yg menjadi korban penindasan di mana "pelanggaran perjanjian" terus-menerus & secara konsisten berbicara tentang penyalahgunaan hak istimewa terhadap sesama "imago dei" (gambar Allah) sama parahnya dengan praktik non-Yahwistik, saya menjadi semakin yakin bahwa studi Alkitab yang kritis & pengajaran Kristen yang sehat harus terus-menerus menantang kekuasaan di luar dan di dalam Gereja melalui pesan pembebasan dari Injil.
Saya percaya bahwa kesaksian iman Kristen kita harus memberdayakan kita untuk mengasihi dengan lebih berani.
Kisah Orang Samaria yg Baik Hati, Perempuan Samaria, Kornelius, dan Sida-sida Etiopia telah memberikan kita dasar teologis yg berlimpah di mana kita sebagai orang beriman tidak sepantasnya melihat ekspresi keanehan (queerness) sebagai alasan untuk tidak menunjukkan kasih karunia & kemurahan hati.
Lantas, Mengapa Program MTS Alkitab Ibrani di Garrett?
Saya tumbuh besar tanpa tahu apa yang orang lakukan di "Sekolah Alkitab"; saya berasumsi bahwa seminari membantu "menghubungkan titik-titik" antar ayat-ayat Alkitab untuk berkhotbah. Namun, secara samar benak ini bertanya,
"Jika saya sudah memercayai apa yang saya percayai, lalu apa peranan mereka yg berpendidikan Alkitab lebih tinggi terhadap iman orang saya?"
Saya lantas mulai berminat mempelajari bahasa Ibrani modern. Saya jatuh cinta dengan "berperilaku gramatikal" bahasa ini terutama konsep "shoresh" שורש (akar) dan penyatuan ide dalam satu akar tertentu.
Ketika saya mulai memandang Alkitab sebagai literatur kuno, saya menjadi tertarik pada bagaimana Alkitab berdialog dengan budaya yang lebih luas pada masa itu maupun dengan tulisan-tulisan eksternal lainnya.
Salah satu temuan awal saya adalah tentang pengaruh Apokrifa (kitab Deuterokanonika) terhadap ajaran Yesus tentang "menyimpan harta di surga" (Mat 6:19-21).
Temuan saya berikutnya adalah "Perpetual Shalom: Elisha’s Gift to Naaman", karya Dr. Walter Brueggemann. Kemudian, sebuah jurnal tentang diskusi Talmud tentang disabilitas oleh Rabbi Julia Watts-Belser.[2]
Saya menyadari bahwa kekuatan hermeneutika (penafsiran), bukan sekadar perkakas atau senjata untuk berargumen, melainkan adalah cermin yang melaluinya kita merefleksikan cara hidup yang lebih menyerupai Kristus.
Selanjutnya, seorang teman merekomendasikan "The Bible Tells Me So"[3] oleh Dr. Peter Enns, yang menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana mitos kuno dan epos berdialog dan menginformasikan sejarah umat Tuhan.
Meskipun banyak yang tersinggung dan menganggap studi biblika sebagai ancaman terhadap pelestarian iman, telah menjadi keinginan dan obsesi saya bahwa bergabung dengan program MTS – Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) akan memberdayakan saya untuk, pada gilirannya, membantu siapa saja yang menghargai Alkitab agar lebih tersentuh secara mendalam oleh penyajian (penuturan) dan keindahan linguistiknya (kebahasaannya).
Referensi :
1. Lakawa, Septemmy E. 2022. Kemurahhatian dan Trauma (Generosity and Trauma). 31-32. BPK Gunung Mulia.
2. Belser, Julia. (2011). Reading Talmudic Bodies: Disability, Narrative, and the Gaze in Rabbinic Judaism.10.1057/9780230339491_1.
3. Enns, Peter. 2014. The Bible Tells Me So: Why Defending Scripture Has Made Us Unable to Read It. Harper Collins.



No comments:
Post a Comment