Saturday, May 9, 2026

Bhinneka Tunggal Ika

Experiencing ecumenical kinship through scholastic theological pursuits, ecosystem and culture 


One of my mentor, graduate biblical course sponsor and friend, Jessica Layantara, Th.M., had just successfully completed her dissertation proposal. Amongst the board of examiner, there's no surprise for me to see her almamater former president, Rev. Prof. Joas Adiprasetya, what actually came as a shock and amazement was the sight of Simon Lili Tjahjadi in this venue which belongs to STFT Jakarta, a theological seminary founded in affiliattion with reformed tradition, Tjahjadi who often claimed in his sermons and public addressed as an ex calvinist, this man who often mistaken as a Buddhist monk is also a lecturer, theologian, currently the president of STF Driyarkara, and, a Diocesan Catholic Priest.

During my time "embedded" in IES Northwest 8 yrs ago, during post service fellowship lunch, the guest preacher then, (PhD candidate at Regent University at the time), Ps. Florian "Oyan" MP. Simatupang, a Pentecostal M.Div pastor, a rather privileged ex "party animal", with HKBP (Norther Sumatra Traditional Lutheran Church) heritage, was asked about his dissertation topic, to which (to my surprise) he responded, "The Eucharist" (understanding the Lord's Supper thought the Pentecostal theology of Search-Encounter-Transformation) .. thus the long winding road of my formal theological pursuit was laid out.

Again, without the intention to sound elitist nor distant, I both choose and advocate the distinct side of my spiritual journey which is "theology" over mere "faith" or "belief" for the lack of precision those latter two words often entail, represent and associated with. Theology - like our human experiences - is open to growth, discovery, even corrections and rethinking, something that better translate the root Greek word "μετάνοια" metanoia often found in our New Testament texts and mostly translated into "repentance". 

It's also something that's grounded and intimate to our daily faith expressions, our liturgy if you will, it bleeds into the doctrinal choices we subconsciously made of what God is like, into how we pray and the kind of "church songs" we prefer over others. Theology is the inescapable oceans we swim in, the spiritual air we breathe in and with while on this side of eternity.

The discovery of the rich multifocality and spaces maintained toward more diverse, wholesome and life flourishing faith expressions, through "languages" given by critical and scholastic discourses and discussions has been the way I navigate through life's chaos & absurdity. While being vulnerable in living out the faith, I know that the holy text we consider "God breathed" is written and compiled through the hands and traditions that acknowledge God who redeems the world through the sharing in its sufferings rather than the rejection or denial of it.

Through the "language" given in addressing experiences, realizations, disillusionment, cognitive dissonances of pondering paradoxes and witnessing ethical problems confronted with certain meta-narrative claiming to be "biblical", absolute, even divine and eternally consequential, this pursuit has led me to believe that such things have instead always been open for renegotiations.

To rethink what it means to be "God's people" or "believers" in such time & place like this, that has been, not simply dreams or ambition. And while some can compartmentalize tensions between present reality and their beliefs of "what faith is or what the Bible says or what to believe" without questioning or scrutinizing things that don't add up (I've seen countless of those btw), this pursuit of theologically questioning, criticizing (auto criticism included), and rethinking Christianity, for some, myself included, is the last resort of making faith honestly and feasibly possible and doable.


Here's one of Ps Oyan's latest presentation at Harris' Institute Cambridge Colloquy ..

https://www.instagram.com/reel/DYHcPafRCoz/?igsh=MXEwanQ3bXZud3A5aw==

Saturday, April 25, 2026

"PANGGILAN"

Pendidikan vs Indoktrinasi?





1 Petrus 3:15b "Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu.."


Studi MTS biblika saya akan mulai bbrp bulan lagi. Sambil membangun stamina baca, saya bergulat dengan "Evangelical Faith & The Challenge of Historical Criticism" karya Dr. Christopher Hays, profesor studi PL di Fuller Theological Seminary ¹. Saya akan mengambil kesempatan khusus untuk membedah buku keren ini, namun singkatnya saja dahulu, Bab 1 menyediakan landasan bagi target pembaca dari arus iman evangelikal untuk meyakini bahwa kedaulatan Allah (sebagaimana menjadi salah satu fokus doktrinal) maupun keyakinan dalam makna apapun tentang "benarnya" iman Kristen menjadi prasyarat makna akan keyakinan bahwa Alkitab merupakan literatur yang diinspirasikan oleh Allah, bukan sebaliknya.

Dan karenannya dua hal ini tak lantas berkonflik apalagi batal apabila teks Alkitab ditemukan "tak sempurna" dalam telaah kritis historis. Terlepas innerant atau errant nya Alkitab, Allah dalam kedaulatan yang sama telah memilih dan mengilhaminya. Iman tetaplah keputusan karena keyakinan akan realita spiritual akan Kristus, tidak tergantung kemenangan apologetika apalagi perang-perangan ayat yang tidak bermanfaat banyak selain memperparah polarisasi yang tak perlu.

Bagi saya dengan skor 135/160 Duolingo English Test pun butuh bantuan AI di sana sini untuk menjelaskan gramatika, arah pembicaraan atau maksud kalimat. Bagi non akademisi atau mereka yang tak mendalami diskusi teologis akan cukup berat mencerna karya yang sejatinya indah & mencerahkan ini.



Lantas berkilas balik bertahun-tahun silam, dalam sebuah diskusi politik suatu stasiun TV, di tengah panasnya suhu politik & maraknya skandal, seorang politisi angkat bicara, "kita perlu berdoa bagi bangsa ini", sebuah komentar berdiksi Kristiani kontras di tengah ekosistem lokal yang mayoritas tak seiman.

Sejenak opini tadi mendulang simpati karena terkesan "berani". Namun nyaris spontan ia di counter oleh panelis lainnya, seorang rohaniwan Katolik sekaligus pengamat & aktivis politik, ia nampak keberatan utk diwakilkan oleh simplifikasi problem & solusi simplistik semacam itu.

Lantas, baru-baru ini, seorang pendeta muda "populer & lucu imut" merespon tentang kekerasan di Palestina, dalam program stasiun TV. Ia pun menuai sanggahan panelis karena opini permisif yang saya pahami sebagai lensa "Darby's Rapture Theology" ² imajinasi abad ke-19 yg menang publikasi berkat "ketekunan" kaum dispensasionalis US pasca "Jesus Movement" di era perang Vietnam, dan ia tidak mewakili arus tradisi tafsir apostolik bapa-bapa gereja, pun bukan pemikiran yang sama sekali dianggap serius dalam diskursus & konteks seminari-seminari terakreditasi.


Di sinilah gundah itu mengemuka.


Ketika komentar pakar evangelikal seperti Dr. Gary Burge ³ mengenai isu Palestina ⁴ tak terdengar. Ketika banyak sinode menetapkan syarat akademik rendah untuk pentahbisan pengerja pastoral apalagi yang sifatnya mengajar, seakan tak melihat masalah mindset biner "yang penting terpanggi oleh Allah" terkait isu kredibilitas yang sulit diverifikasi & rawan manipulasi.

Dan yg cukup segar dlm ingatan, bagaimana Paus Leo XIV, seorang sarjana matematika, penyandang M.Div & doktor hukum gereja yang amat paham doktrin "peperangan demi kebajikan" (Just War Doctrine) dibingkai seolah tak paham teologi oleh mereka yang lantang berpublikasi & dekat dengan kekuasaan, namun justru tak punya kompetensi & kredensial apapun perkara pastoral & filsafat ketuhanan.

Atau kala pandemi, dlm ramainya kontroversi tagline Black Lives Matter, dari podcast diskusi ⁵ antara Dr. Antipas Harris ⁶ & Dr. Dale M. Coulter ⁷ terkait agama & isu rasial, saya baru tahu (dan kaget) bahwa kalangan kristen konservatif Injili Amerika kerap melabel mrk yang peduli akan isu kemanusiaan dan rasial sebagai "komunis".


Akhirnya, semua mengkristal ke dalam refleksi berikut: 

Sejauh mana kita mencari apa yang kita klaim & junjung sebagai "kebenaran"? Apakah dengan pendidikan dimana pemberian ruang & "lisensi" utk bertanya, berpikir ulang serta mendengar suara2 yg berbeda menjadi fitur utamanya, ataukan kita puas dengan indoktrinasi yg berputar-putar saja dalam ruang gaung yang sekadar memvalidasi keseyakinan? Karena jika demikian, masuk akal bahwa "keyakinan dipanggil" jadi nomor satu dan berpikir runut tentang iman itu "nomor sekian", harus tunduk pada dogma, atau harus selalu dicurigai.


Meski tak lazim ijinkan saya menutup dengan sebuah pertanyaan. 


Apakah Anda tak keberatan jika misalnya membutuhkan tindakan operasi namun Anda ditangani oleh tenaga bedah non lisensi hanya lantaran jaman dahulu kala profesi medis itu amatir & eksperimental sifatnya? 🙏😁


FZ 趙健忠 ✍️📚🥋☦️

#112


Silakan support konten ini di tautan berikut🙏💕

https://bit.ly/3OB8LD7


Footnote :

1. https://bit.ly/4eqmnf5

2. Dan Koch - https://bit.ly/4tzwgM2 ; Jared Stacey - https://bit.ly/4cEu0vG

3. https://bit.ly/497mI2t

4. https://bit.ly/4sTP4Ve

5. FB clip tsb kini sdh tdk tersedia

6. https://bit.ly/4mPS1Vj

7. https://bit.ly/41VtTqD

    


Here are other things in the "intersections" and "union" of faith and action. Enjoy! ☺️🙏💕


https://bit.ly/4vNqVlJ

https://bit.ly/4tB9VxE

https://bit.ly/4eFXg7S

https://bit.ly/4mLz461

https://bit.ly/3QrTwwU

https://bit.ly/4w6VzH9

https://bit.ly/3OzsqDr

https://bit.ly/4mTElbV

https://bit.ly/42nKmEe

https://bit.ly/4cvelzZ

https://bit.ly/4sSsJHm

https://bit.ly/3OCzG1q

https://bit.ly/4tyWjmD

https://bit.ly/4sXH3hU

https://bit.ly/4mLCkhI

https://bit.ly/3OJYpkm

https://bit.ly/4vOrc7R

https://bit.ly/4cQE6cZ